Top Stories

Grid List

TIBYAN.Id -- Pekan ini, terkumpul Rp 30 juta lebih dari Islamic Centre KH Noer Alie Bekasi. Dana ini terdiri dari sumbangan Islamic Centre bersama para lembaganya, ditambah uang kotak amal jumat (8/9) dan dana yang dikumpulkan spontan oleh Remaja Masjid Nurul Islam Islamic Centre. Dana kecil ini tidak ada artinya bagi skala penderitaan ratusan ribu saudara muslim Rohingnya, tapi ini adalah wujud solidaritas tauhid yang telah ditunjukkan Islamic Centre bersama jamaahnya.

Tragedi pembantaian etnis muslim Rohingnya di Rachine, Myanmar, memang luar biasa kejam. Dari perkiraan PBB yang menyebut angka 30 ribu arus pengungsi yang hijrah ke Bangladesh, nyatanya pekan ini PBB mengumumkan sudah 270 ribu pengungsi itu bergerak memasuki Bangladesh.

Mereka adalah sisa sisa nyawa yang selamat dari pembantaian. Ya pembantaian. Karena lihatlah mereka, ada yang terpotong kakinya, tertembak punggungnya, matanya, mukanya, telinganya, dan sekujur tubuhnya luka dan bersimbah berdarah. Di rumah sakit di Kota Bangladesh dilaporkan oleh PBB kini ribuan nyawa meregang maut.

Dan, ini yang sadis. Mereka yang tak bisa lari dari rumahnya terpaksa hangus dibakar, mati digantung, perut dibelah, dipotong lehernya, disayat kakinya, dan masya Alloh kejaman mereka seperti tak berbatas. Ada gambar di sebuah masjid, mereka terkapar gosong semua. Tampaknya ini gambar jamaah yang sedang sholat kemudian dibakar bersama bangunan masjidnya.

Mereka meninggal karena perlakuan sadistis, dan mereka yang masih hidup terpaksa kehilangan tempat tinggal dan masa depannya.

Ini tragedy kemanusiaan yang sulit untuk digambarkan seberapa berat kekejamannya. Tapi more than it, etnis Rohingnya yang dibantai itu adalah pemeluk Islam. Mereka muslim yang bersaudara dengan muslim lainnya di berbagai belahan bumi ini. Mereka adalah saudara yang harus dibela, dibantu, ditolong, diselamatkan dan diberi tempat untuk menyelamatkan diri.

Muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara, seperti satu kesatuan tubuh. Kalau ada bagian tubuh yang terluka, pasti bagian lainnya akan merasakan sakit dan tentu berusaha menolongnya. Begitu kata Baginda Junjungan Agung kita, Rasul Muhammad s.a.w.

Itu sebabnya, derita muslim Rohingnya membangkitkan solidaritas. Ada yang menggalang dana. Ada yang mengumpulkan bantuan logistic. Dan bahkan ada yang rela berjihad untuk datang ke Rachine langsung untuk membelanya. Ini biasa. Ini sebuah solidaritas iman. Ini adalah panggilan tauhid. Dan ini adalah seruan Allah, agar sesama muslim saling tolong menolong. Bahkan ini adalah ajaran kanjeng Rasul Muhammad.

Kata baginda Muhammad; Kalau kamu menyaksikan kemunkaran, hendaknya kamu turun tangan untuk mencegahnya. Kalau tidak mampu cegahlah dengan seruan, kalau gak mampu juga yang berdoalah. Berdoa kepada Allah agar kemunkaran ini bisa diakhiri, agar saudara yang terzolimi bisa diselamatkan dan dikuatkan.

Tapi apa, aksi solidaritas tauhid ini malah dimacem macami. Dianggap punya indikasi akan menggulingkan kekuasaan, mengganggu Presiden, menciptakan stabilitas di dalam negeri. Oppoooo iki? Islam yang original memang “kal jasadil wahid”, kalau satu terusik yang lainnya merasa sakit. Ini saya katakan Islam yang original, islam yang masih bersih, islam yang belum tercemar oleh kepentingan pragmatis.

Dan, Muslim yang original, adalah muslim yang sadar konstitusi. Jangan takut pak, orang Islam tidak akan main kotor dan tidak main kasar. Kita main jujur dan kalau ada yang main kotor dan tidak jujur pasti tertolak dan ditinggal jauh jauh. Meski kami sadar, kejujuran tidak selamanya harus jadi pemenang.

Kekuasaan yang saat ini ada di tanganmu nikmat nikmatilah saja, kuasai kuasai saja, gunakan gunakan saja sa karepmu. Tapi ketika kami mau memberi simpati dan solidarity kami kepada saudara kami, jangan pula dianggap akan menggoyang dan mengganggu kekuasaan itu. Ah, kamu lebay Pak, berlebihan dan over estimate. Setidaknya pernyataan Bapak tidak mendamaikan hati kami yang sedang berduka untuk saudara kami yang dianiaya di Myanmar.

Sebagian umat seperti saya ini juga sesungguhnya tidak bisa berbuat apa apa untuk saudara kami di Rohingnya. Tapi cinta dan solidarity kami membuat mulut kami tidak bisa diam untuk terus berdoa, bermunajat dan meminta pada Gusti Allah. Meminta agar saudara kami di Rohingnya diberi keselamatan, diberi kekuatan dan diberi kesabaran. Ini adalah ujian.

Dan setiap kali terlintas kemarahan di otak kami terhadap prilaku para pejabat dan elit negeri ini yang menuding macem macem terhadap solidarity kami ini, kami juga minta pada Allah, jangaaaaan samapai terlontar sumpah dari mulut kami. Sumpah kami membahayakan. Tapi doa yang baik yang kami harap terus terucap, termasuk untuk Bapak yang menduung solidaritas kami adalah solidaritas yang punya niat busuk. Tidak pak, kami tetap mendoakan Bapak agar bisa tenang dan tidak gelisah karena praktek kekuasaan Bapak yang kayak gini.

Besok kami tetap akan mengumpulkan dana bantuan kami, meski kami belum tahu pasti bagaimana menyampaikannya ke saudara kami. Buat kami, kepedulian ini adalah bukti cinta kami pada sesama saudara seiman. Ini juga wujud dari kepatuhan kami kepada ajaran tentang persaudaraan yang disampaikan kanjeng Nabi kami, Muhammad s.a.w. Kami yakin, ideology tidak akan pernah kehilangan tempat. Meski rumah kami dibakar, jiwa kami tak ikut hangus.

Salam solidaritas tauhid.

Di Cikarang, Bekasi, Jumat (28/7), Jokowi menegaskan tak ada kekuasaan mutlak di negeri ini (foto: Setkab)

Hot Issue

TIBYAN – Konsolidasi politik yang dilakukan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto,  dengan mendatangi Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono,   akan mewarnai gonjang ganjing politik nasional ke depan menyongsong persiapan pemilihan umum serentak ( presiden dan legislatif )  tahun 2019. Pernyataan politik yang dilontarkan kedua tokoh ini, tak urung memancing  Presiden Joko Widodo berkomentar. ‘’Kenapa dulu tidak ramai,’’ ujar  Presiden yang akrab dipanggil Jokowi itu, Jumat (28/7).
 
Jokowi, Prabowo dan SBY, merupakan tiga dari empat tokoh sentral politik nasional yang paling berpengaruh saat ini.  Interaksi ketiga tokoh ini akan sangat mempengaruhi dinamika politik  ke depan, sementara tokoh  sentral lainnya,  Megawati Soekarnoputri, ketua umum  PDIP  sudah lebih dulu  unjuk gigi  di parlemen melalui partainya,  yang berhasil   ‘’memaksakan’’ ambang batas pemilihan presiden (presidential threshold) untuk tahun 2019  adalah 20 persen kursi DPR.
 
Prabowo Subianto menilai,  ambang batas itu sebagai lelucon politik yang menipu rakyat. ‘’ Saya tak mau terlibat," kata Prabowo di kediaman SBY di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/7).
 
Usai pertemuan di Cikeas yang diwarnai dengan ‘’diplomasi nasi goreng’’ itu, kedua tokoh juga  mengeluarkan statemen lain yang cukup pedas.  Misal SBY, kendati dengan bahasa normatif, namun cukup pedas, sepedas nasi goreng yang disuguhkan ke Prabowo.  "Gunakan kekuasaan dengan amanah, proper, sesuai kontitusi, Undang-Undang, etika. Tidak melampaui batas dan tidak keliru menggunakan kekuasaan,’’ katanya mengingatkan pemerintahan Jokowi – JK.
 
Lalu, bagaimana reaksi Jokowi? Santai.  Dia menunjuk pada pelaksanaan dua kali Pemilu sebelumnya, 2009 dan 2014,  yang juga menggunakan presidential threshold 20 persen. Kalau menggunakan bahasa pasaran, seolah Jokowi mempertanyakan, dulu kemana aja ?!  ‘’Kenapa dulu tidak ramai?" kata Jokowi  saat berada di Deltamas Cikarang , Bekasi, Jawa Barat. 
 
Ambang batas 20 persen itu dipahami Jokowi sebagai wujud dari maksud baik, yakni maksud penyederhanaan kontestasi Pemilu. Dia mempersilakan publik membayangkan,  bila ambang batas pencapresan menjadi nol persen. Lalu capres yang diajukan menang.  Dikhawatirkan, realitas dukungan di parlemen terhadap presiden terpilih bakal sangat lemah.
 
Argumen Jokowi tentu saja sejalan dengan argumen PDIP yang berkoalisi dengan antara lain Partai Nasdem, Hanura, PPP, Golkar di parlemen. Ketok palu (pengesahan) RUU Pemilu menjadi undang undang di DPR  diwarnai  walk out-nya  Gerindra, PKS, Demokrat dan PAN. 
 
Kemarin, Jokowi sendiri mengimbau publik memahami situasi politik ini. Lagipula hasil itu adalah produk DPR juga, bukan semata-mata produk pihak pemerintah eksekutif.  Kalau masih ada yang t ak setuju, silakan ke MK. "Dulu ingat, dulu meminta dan mengikuti, kok sekarang jadi berbeda," ujar Jokowi. 
 
Terkait pernyataan SBY soal penyalahgunaan kekuasaan,  Jokowi menegaskan, bahwa tidak ada yang namanya kekuasaan absolut atau kekuasaan mutlak. Ia menambahkan bahwa ada pers, media, LSM, dan DPR yang mengawasi. Pengawasannya, bisa berasal dari mana-mana bahkan rakyat juga bisa mengawasi langsung. 
 
Penyalahgunaan Kekuasaan 
 
Sebelumnya, saat memberi keterangan bersama dengan Prabowo di Cikeas, SBY yang merupakan presiden keenam RI ini menyinggung tentang penyalahgunaan kekuasan. SBY mengatakan, banyak pelajaran di dunia termasuk di Indonesia tentang hal tersebut. Manakala penggunaan kekuasaan melampaui batasnya, rakyat akan memberi koreksinya.
 
Sebagai bentuk kesetiaan kepada negara, pemerintah,  pemimpin,  pihaknya akan terus mengingatkan, gunakan kekuasaan dengan  amanah, sesuai kontitusi dan  etika.
 
Sedang Prabowo menekankan, sikap  Demokrat, Gerindra, PKS, PAN, yang tak ikut bertanggungjawab karena tak mau ditertawakan oleh sejarah. ‘’Silakan mau berkuasa 5 tahun 10 tahun 20 tahun 50 tahun, di ujungnya sejarah yg akan menilai. Dan saya kataka, Gerindra tak mau ikut ke sesuatu yang melawan akal sehat dan logika.’’(lya)
 

TIBYAN -  Sejumlah  pemuka agama Islam , tokoh dan aktivis  Bekasi,   menggagas  sebuah aliansi yang akan menghimpun aspirasi umat Islam Bekasi menyongsong  pemilihan Walikota/Wakil Walikota. Poros ini dimunculkan setelah mendengar keputusan PKS yang mencalonkan H Ahmad Saikhu ke Provinsi Jawa Barat.

Setelah PKS menarik Ahmad Saikhu sebagai calon wagub mendampingi Deddy Mizwar di Provinsi Jawa Barat, umat Islam merasa tidak terwakili oleh calon calon walikota Bekasi yang ada saat ini.

Tujuan dibentuknya aliansi , selain dapat melakukan ‘’mapping’’  atau gambaran jelas  tentang bakal calon calon walikota / wakil walikota yang akan muncul,  diharapkan akan melahirkan Poros Islam dalam pemilihan Walikota Bekasi tahun 2018 yang tentu saja akan memperjuangkan aspirasi umat ke depan.

Gagasan muncul  melalui sebuah diskusi khusus di suatu tempat di Kota Bekasi, Kamis (27/7), yang dihadiri antara lain KH Ishomudin Muchtar, ustadzah Hj.Atifah Hasan, Cholida Hanum, Joko Oscar,  M.Wanda S, Faisal Moeliza yang mewakili KH Mohammad Zein, Ujang Hendra, Sabar Sigalingging, Ahmad Djunaidi, Saiful Akba, Imron Nst, Marhaban S, Hans Munthahar, Muchlis Halim, Djati Kusomo, Amin Idris dan sejumlah aktivis lainnya.

 Diskusi yang dimoderatori  mantan Pimred Harian Terbit, Ramly Amin, menyepakati  perlunya dilakukan langkah langkah tertentu untuk  lebih mensosialisasikan gagasan  tentang pembentukan aliansi umat Islam Bekasi, khususnya  terkait Pilkada. ‘’Jangan sampai umat Islam Bekasi hanya jadi penonton  dari sebuah perhelatan  besar yang hasilnya kelak sangat terkait dengan kepentingan umat,’’ demikian  benang merah yang dapat disimpulkan dari diskusi tersebut.

Beberapa peserta diskusi (semacam Focus Group Discussions/FGD yang diperlebar) menyorot nama nama  atau nominasi bakal calon Walikota yang  sudah muncul di masyarakat,  dan melakukan evaluasi. Evaluasi juga dilakukan terhadap incumbent, lalu  mencuat  pertanyaan siapa bakal berpasangan dengan siapa?

Yang tak kalah seru adalah, setelah Ahmad Syaikhu (kini wakil walikota Bekasi) diproyeksikan ke Jawa Barat (bakal calon wakil gubernur), siapa penggantinya? Keputusan partainya  terhadap  Syaikhu  apakah sudah final? Lalu di mana tokoh umat lainnya?

Tak kalah pentingnya adalah, mana tokoh atau siapa tokoh  yang bakal  menjadi calon yang kira kira bisa mewakili aspirasi umat Islam Bekasi? Terkait hal ini sejumlah peserta sempat menyebut nyebut  beberapa nama, termasuk kapasitas dan latar belakang tokoh dimaksud.

Diskusi menyepakati, panitia kecil yang akan dibentuk akan menghubungi lagi para pemuka /tokoh Islam di Kota Bekasi, agar aspirasi umat ini semakin meluas, dapat ditampung dan mengerucut ke  arah terbentuknya Poros Islam untuk Pilkada Bekasi. (rel/lya)

Prof DR KH Didin Hafiduddin saat memberi kuliah (foto: ist)

Aktual

TIBYAN – Cendekiawan  muslim, Prof DR KH Didin Hafiduddin, menyerukan kaum muslimin untuk menjadikan bulan Muharram tahun ini sebagai momentum  meningkatkan kualitas diri. ‘’Mari kita mendisain tahun ini menjadi tahun peningkatan kualitas kita sebagai mukmin dan muslim,’’ ajak Didin saat memberi kuliah subuh di Masjid  Nurul Islam – Islamic Centre Bekasi, Kamis (21/9).
 
Sholat subuh berjamaah ini dirancang khusus menyambut Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1439 Hijriah, yang diikuti ratusan jamaah dari berbagai pelosok Kota Bekasi. Shalat subuh diimami ustad H.Ahmad Syaikhu yang juga Wakil Walikota  setempat. Usai shalat, ustad Ismail Ibrahim berkesempatan mendeklarasikan lahirnya GISS (Gerakan Indonesia Shalat Subuh) Wilayah Bekasi Raya.
 
Dalam penyampaiannya, Prof Didin banyak bicara tentang ekonomi Islam versus ekonomi kapitalistis, setelah sebelumnya  menekankan perlunya kaum muslimin memahami perintah Alquran, bahwa seorang pemimpin adalah juga seorang imam shalat, agar  bangsanya  mendapatkan berkah  Allah SWT. Ia berharap, mudah mudahan Pilkada serentak tahun depan dapat melahirkan kepala daerah kepala daerah yang juga bisa menjadi imam shalat, agar bangsa ini semakin diberkahi Allah SWT.
 
Menyinggung  system ekonomi Islam, Didin   membandingkannya dengan system ekonomi riba yang dianut dunia.  Terbukti, banyak negara yang tak mampu membayar utang. Dua tahun lalu Yunani sampai dinyatakan bangkrut. Itu karena sistem ekonomi riba  mengharuskan  setiap bank  berusaha menarik uang sebanyak banyaknya dari luar untuk kepentingan dirinya. ‘’Padahal Islam sudah memberi aturan bagaimana meningkatkan ekonomi,’’ kata Didin seraya menyinggung system syariah yang sayangnya masih banyak dikiritik umat Islam sendiri.
 
Dalam upaya mendisain tahun ini sebagai tahun peningkatan kualitas  yang salah satunya adalah membangun ekonomi Islam,, Didin menyerukan kaum muslimin melatih anak anak menjadi orang kaya,  tetap rajin shalat dan Ibadah tapi tidak asing dengan pasar. ‘’Memang seburuk buruk tempat ialah pasar. Tapi bukan berarti kita harus menghindari pasar,’’ kata Didin dengan menyitir ayat Alquran.
 
Didin menunjuk kenyataan di Turki dewasa ini, yang 90 persen ekonominya dikuasai pribumi yang Islam. Kebangkitan ekonomi Turki sendiri terkenal dengan upaya menghimpun zakat umat secara nasional. Menurut Didin, di Indonesia saat ini ada sekitar Rp 217, 3 triliun potensi zakat, dan hanya sedikit yang tergali dan salurkan.
 
Kekuatan ekonomi Islam, lanjut Didin, harus mendapat dukungan  bersama dari seluruh umat Islam, dengan  menggunakan bank syariah. Sejatinya, umat muslim harus berniaga dengan sesama muslim. Kalau tidak, itu sama saja dengan bunuh diri. ‘’Kita harus berkomitmen, mulai tahun ini saya hanya akan belanja di toko muslim,’’  demikian  Didin. (lya)
 
 
 
 
 

Ketua DKM Masjid Subulussalam Bintara, Saiful Fihri menyerahkan plakat kepada Valentino Dinsi disaksikan H.Nuradi (Ketua Steering Committe Kita Mart) dan Lurah Bintara, Asep Sudiana, Sabtu (9/9) (foto:tibyan)

Aktual

TIBYAN -  Secara bertahap  tapi pasti, gerakan ekonomi  berbasis koperasi beranggotakan  para jamaah masjid  saat ini  terus  berkembang.  Hingga  awal September 2017, paling tidak sudah puluhan gerai ritel Kita Mart  diresmikan. 
 
Guru entrepreneur  yang juga penulis buku   ‘’Membangun Ekonomi Berbasis Masjid’’, Valentino Dinsi,  mengungkapkan saat ini  ada sekitar 2000  peminat yang masuk daftar tunggu untuk siap siap  mendirikan gerai   serupa di seluruh Indonesia.  ‘’Kita kan start baru sekitar tiga bulan lalu, tapi  perkembangannya sangat  menggembirakan,’’ kata Valentino di sela peresmian beroperasinya gerai Kita Mart Bintara di Bintara Bekasi Barat, Sabtu siang (9/9). 
 
Gerai Kita Mart Bintara mulai digagas dari masjid Subulussalam sekitar empat bulan lalu. Saat diresmikan, menurut Ketua DKM  Subulussalam,  Saiful Fihri, dimiliki 250 anggota. Selain membuka gerai sembako dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya, Kita Mart Bintara juga melakukan kreasi sendiri dengan menambahkan sejenis gerai khusus yang menjual makanan  makanan/ ikan segar (fresh mart).
 
Kita Mart sendiri, sebagaimana diungkapkan Valentino Dinsi, menjadikan  spirit Aksi Super Damai 212 Desember 2016  (Aksi 212) sebagai momentum untuk membangun gerakan ekonomi umat berbasis masjid. Yaitu model economic sharing atau bisnis berjaringan,  dari masyarakat, oleh dan untuk masyarakat. Model ini berbasis teknologi yang membuat segalanya  bisa menjadi lebih efisien, lebih murah sebagaimana model angkutan online yang marak dewasa ini.
 
 ‘’Alhamdulillah….umat bisa bersatu membangun ekonominya,’’ kata Dinsi yang mengaku sedang menyiapkan alat atau teknologi yang membuat pengelolaan  Kita Mart menjadi lebih efisien dan memungkinkan setiap pemilik bisa mengontrol.
 
Menjawab pertanyaan, pendiri  Majelis Ta’lim Wirausaha ini  mengaku harus turun langsung ikut menangani proses pembentukan dan  lahirnya gerai Kita Mart di berbagai tempat. Dalam kesempatan ini ia mengingatkan, tentunya kehadiran Kita Mart di berbagai tempat tak  sekonyong konyong  bisa disamakan dengan gerai serupa yang  sudah ada 20 tahun lebih dulu ada. ‘’Pokoknya masyarakat harus optimis,’’ katanya. (lya)
 
 
 
 
 

Peserta Aksi 287 menuju Monas, Jumat (287/7) mengecam pemerintah yang menerbitkan Perppu Ormas (foto:ist)

Aktual

TIBYAN -- Massa Aksi 287 yang  menentang terbitnya Perppu Ormas dan pembubaran HTI, Jumat (28/7), mengirimkan 20 orang perwakilan  ke  Mahkamah Konstitusi (MK) untuk menyerahkan gugatan Judicial Review atas nama Ketua Tim Advokasi Ormas Islam untuk Keadilan.
 
Sebelum bubar, mereka sempat berorasi. Massa tetap menginginkan pemerintah segera mencabut Perppu Ormas yang dinilai menyudutkan ormas Islam di Indonesia.
 
Kapolda Metro Jaya yang baru, Inspektur Jenderal Idham Azis mengapresiasi aksi 287 menolak Perpu Ormas atau Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tengang Organisasi Masyarakat berakhir dengan tertib. Menurut Idham, pengunjuk rasa berikut pimpinannya menunjukkan komitmennya menjaga ketertiban umum ketika berunjuk rasa pada Jumat, 28 Juli 2017.  
 
Aksi 287 dilakukan untuk mendesak pencabutan Perppu Ormas sekaligus mengawal uji materi Perppu tersebut ke Mahkamah Konstitusi. Aksi ini dilaksanakan dengan titik kumpul di Masjid Istiqlal sebelum long march ke Mahkamah Konstitusi. Massa yang bergerak melewati monumen Monas  mengibarkan bendera tauhid sambil menyerukan “Cabut Perppu Ormas” .
 
"Ini menunjukkan rezim sekarang sedang panik, berbagai macam cara dilakukan salah satunya dengan penggembosan melalui Perppu Ormas," ujar Deklarator Presidium Alumni 212, Ansufri Idrus Sambo (Ustaz Sambo) di atas mobil komando. 
 
Sebelum turun ke jalan, diperkirakan sekitar 5 ribu peserta Aksi 287 untuk menolak Perpu Ormas, mengikuti sholat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Dalam ceramahnya, khotib sholat Jumat, Yusnar Yusuf mengingatkan agar umat Islam menjadi pemberi saran yang solutif.
 
Yusnar yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Kerukunan Umat Beragama, mengatakan, umat Islam tidak  melahirkan pemikiran dan tindakan yang primitif, emosional dan hanya menjadi golongan yang hanya bisa mengkritik dan merusak. "Umat Islam harus menjadi pemberi saran yang solutif," katanya.
 
Terkait uji  materi  ke MK, juru bicara GNPF MUI, Kapitra Ampera, sebelumnya mengingatkan, bahwa uji materi Perppu tersebut bukanlah untuk menolak pembubaran HTI, tapi demi kepentingan demokrasi karena Perppu tersebut mengancam kehidupan masyarakat.
 
Yang menarik dari Aksi 287 kemarin, Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai ikut terjun ke tengah tengah peserta Aksi 287. Ia menyatakan penerbitan Perrpu selain melanggar procedural juga melanggar HAM. (lya)
 
 

Menjelang peringatan Hari Pahlawan Nasional tanggal 10 Nopember, Profesor  KH H Didin Hafidhuddin mengajak umat Islam untuk menumbuhkan kebersamaan, menghidupkan jiwa kepahlawanan, semangat berkorban dan sebagainya. Bakal calon presiden yang pernah diusung Partai Keadilan ini mengaku aneh melihat prilaku pemimpin negeri ini.  “Negerinya makin kacau, rakyatnya makin sulit, ko pemimpin masih asik asik saja membangun pencitraan. Sudahlah hentikan berbagai bentuk pencitraan itu, rakyat menanti karya nyata Anda yang cepat dan akurat untuk membenahi morat maritnya negeri ini,” katanya. Berikut perbincangan Pimpinan Redaksi Tibyan, Amin Idris, dengan Prof Didin Hafidhuddin ;

 

Tibyan; Setiap tanggal 10 Nopember diperingati sebagai hari untuk mengenang jasa jasa pahlawan kita. KomentarAnda ?

Prof Didin Hafidhuddin; Iya, bangsa Indonesia telah menetapkan tanggal 10 Nopember sebagai momentum untuk mengenang para pahlawan kita. Ini bagus. Ini bisa menjadi pelajaran untuk bangsa kita, bahwa para pahlawan inilah orang orang yang telah berkorban untuk bangsanya. Ini adalah tradisi yang baik saya kira.

 

Apa yang terpenting untuk kita jadikan pelajaran dari peristiwa peringatan hari pahlawan kali ini?

Setidaknya kita mengenalkan kepada generasi bangsa ini bahwa segala capaian yang diraih hari ini oleh bangsa Indonesia adalah buah dari kerja keras, perjuangan bahkan pengorbanan jiwa, harta dan nyawa mereka yang kini disebut pahlawan. Saya kira ini pentingnya kita memperingati hari pahlawan itu.

 

Memperingati hari pahlawan hanya mengenang masa lalu, membanggakan keberhasilan para tokoh yang tiada, sementara apa yang dilakukan saat ini sama sekali tidak mencerminkan nilai nilai kepahlawanan?

Ini bagian dari semangat itu. Semangat kepahlawanan itu memang harus dibumikan, dan terus menerus digelorakan dalam kehidupan sehari hari. Pahlawan itu kan pengorbanan. Pahlawan itu kan rela memberi yang terbaik untuk kepentingan yang lebih besar. Pahlawan itu kan berbuat kebaikan dan menegakkan kebenaran tanpa takut risiko. Dia bisa melakukannya meski risikonya hartanya habis, jiwa terancam, bahkan nyawa melayang. Nilai nilai ini memang semakin langka saat ini.Mereka yang kita kenal saat in isebagai pahlawan adalah orang yang telah terbukti merelakan semuanya, termasuk nyawanya, untuk rakyatnya.

 

Membumikan semangat kepahlawanan yang prof. maksud?

Saat ini kan bangsa kita sedang menghadapi banyak persoalan. Sudahlah, yang jadipejabat, jadi pemimpin, tampillah sebagai pemimpin yang berjiwa pahlawan. Para pahlawanitukanmenjadipahlawankarenasemasahidupmerekaberbuatjujur, berbuatbanyakuntukbangsa. Makanyamerekadinobatkansebagaipahlawan. Karenaitu, para pemimpinsaatinihendaknyamelakukanhalsamakalauingindikenangsebagaipahlawanbangsa. Peluangituada.

 

Apa yang prof lihat tentang para pemimpin bangsa kita saat ini?

Sudahlah hentikan semua pencitraan. Saya hanya heran saja, dalam keadaan negeri ini semakin sulit, pemimpinnya masih saja sibuk membangun pencitraan. Sudah hentikanlah. Lakukan yang dibutuhkan rakyat.

 

Semangat kepahlawanan rasanya sudah jauh dari kehidupan bangsa kita. Hampir di semua lapisan social tampaknya sudah semakin pragmatis berfikirnya, dan matrialistik cara hidupnya. Semangat berkorban dan nilai nilai kebersamaan makin terasa langka?

Ini menjadi tugas kita semua. Kalau perlu momentum hari pahlawan selalu dijadikan semacam gerakan untuk membangun kembali semangat kepahlawanan itu. Ini yang harus dijadikan fokus memperingati haripahlawan. Serimonial boleh saja tapi fokusnya semacam dibikin gerakan semangat kepahlawanan. Di sekolah, di rumah, di masjid, di kantor kantor …

 

Kalau Islam bagaimana memandang kepahlawanan itu Prof?

Islam itu justeru yang paling banyak mengajarkan nilai nilai kepahlawanan. Kebersamaan, semangat memberi, saling membantu dan sebagainya. Nabi Ibrahim adalah symbol kepahlawananitu. Lihatlah, bagaimana dia berkorban. Lihat juga Nabi Muhammad  dan para sahabat, adalah pemimpin yang hidup bersahaja tapi berhambur untuk mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya. Bagaimana Abu Bakar menyerahkan semua hartanya untuk umat. Bagaimana Abdurrahman bin Auf dan seterusnya. Mereka juga tidak segan segan turun ke masyarakat, mendengar langsung keluhan mereka dan memberinya solusi.

 

Tapi pemimpin saat ini hampir tiap hari ada yang tertangkap tangan oleh KPK?

Saya kira itu karena keringnya semangat kepahlawanan. Maka saya piker perlu juga sentiment keislaman ini dipakai untuk menyetop korupsi. Misalnya, anda pemimpin, anda muslim. Kalau masih mengaku muslim, ayo hentikan korupsi. Ini menjadi tugas bersama, dalam seluruh lapisan masyarakat bisa dihidupkan semangat itu, muslim menolak korupsi. Muslim membela kepantingan umat dan rakyat. Ulama dan kaum cenrdik pandainya bisa terus saling mengingatkan, saling menjaga dalam lingkar komunitas muslim itu. (*)

TIBYAN -- Dalam kesempatan peringatan HUT Islamic Centre yang ke 24, Pimred Tibyan  Amin Idris, sempat bincang bincang dengan KH Amin Noer, ketua Dewan Pembina Yayasan Nurul Islam KH Noer Alie Islamic Centre Bekasi di ruang Dewan Pembina. Berikut sebagian petikan perbicangannya;

Tibyan : Apa yang terpenting bagi Islamic Centre pada usianya yang ke 24 ini?

KH Amin Noer : Islamic Centre sebagai lembaga dakwah makin dihimpit oleh pertumbuhan budaya masyarakatnya. Ketika awalnya para pendiri membangun Islamic Centre, saat itu masyarakat disekitarnya masih sangat berbeda dengan masyarakat jaman ini. Karena itu, perjuangan dakwah terletak pada bagaimana upaya menyesuaikan strategi sesuai dengan tantangan yang dihadapinya. Berbeda tantangan berbeda pula strategi yang dipakai untuk mengantisipasi tantangan itu. Jadi pada usia 24 tahun ini diperlukan kemampuan untuk membaca tantangan tantangan itu.

Tibyan : Masalahnya, pertumbuhan dan tantangan social itu selalu lebih cepat dan lebih dinamis?

KH Amin Noer : Kunci utamanya ada di pengurusnya, tentunya. Pengurusnya dulu harus kompak. Baru kemudian akan bisa melahirkan gagasan gagasan brilian untuk menjawab tantangan itu.

Tibyan: Apakah pak kiyai melihat pada usia 24 tahun ini Islamic telah memberi sinyal sinyal kuat sebagai pusat peradaban yang diimpikan pada pendirinya dulu?

Kiyai Amin Noer: Saat Islamic berdiri, bekasi masih belum apa apa. Tapi saat itu, Kiyai Noer Alie telah melihat gambaran masa depan yang seperti apa akan terjadi di Bekasi. Heterogenitas, pertumbuhan ekonomi, pergeseran nilai dan sebagainya. Karenanya kiyai melontarkan untuk mendirikan Islamic Centre. Dan Bupati Suko Martono pun cepat tanggap. Bersama Pak Rusmin, gagasan Islamic Centre pun segera diwujudkan. Trio inilah yang meletakkan dasar dasar pemikiran tentang Islamic Centre. Setelah 24 tahun problematikanya pun pasti berbeda, tapi essensinya tetap sama, yakni bagaimana memberi pendampingan pada umat untuk hidup lebih baik dan lebih beradab.

Tibyan: Di dalam lingkungan Islamic orang bisa saja khusuk berzikir, bertasbih, beribadah dan melakukan hal hal positif sesuai moralitas Islam. Tapi selangkah saja diluar pagar Islamic kemaksiatan ada dimana mana?

Kiyai Amin Noer : Inilah tantangan dakwah. Hendaknya, Islamic itu tidak sekadar memberi kekhusuan di dalam lingkungannya sendiri. Tapi bagaimana juga menjangkau wilayah di sekitarnya. Jadi tidak sekadar memperkuat basis dalam rumahnya, tapi bisa juga member sinar kedamaian pada lembaga-lemaba, institusi institusi di sekitarnya. Ini memang “pr” yang harus terus diperjuangkan.

Tibyan: Tapi pak Kiyai, heterogenitas umat pun tampaknya menjadi pertimbangan untuk pergerakan Islamic dalam berdakwah.

Kiyai Amin Noer : Memang. Islamic juga hendaknya memperkuat terus komitmennya sebagai lembaga pemersatu. Kita sadar, dilingkungan kita telah berkembang  aneka warna warni pemikiran keberagamaan. Ada yang begini, ada yang begitu. Kesannya berbeda. Tapi sebetulnya tidak.  Karena itu, seharusnya di sisi ini Islamic memberi ruang yang lebih luas lagi, agar semua perbedaan itu bisa cair di sini. Sesuai misinya, Islamic bisa tampil menjadi pemersatu di tengah perbedaan itu.

Tibyan : Apa yang dapat pak Kiyai sampaikan untuk Islamic Centre menyongsong tantangan dakwah yang makin kompleks?

Kiyai Amin Noer : Begini ya. Islamic ini kan sebuah lembaga. Ada organisasi di dalamnya. Ada orang orang yang mengelolanya. Ada aturan dan ketentuan ketentuannya yang ditetapkan sebagai pedoman kerja. Bahkan ada program kerja yang ditetapkan, jangka pendek dan jangka panjang. Selagi hal hal ini diikuti dan dipatuhi, seberat apapun pekerjaan akan menjadi ringan. Apalagi tugas dakwah yang dijalani dengan ikhlas, pasti Allah akan membantu menyempurnakannya. Jadi kuncinya adalah perkuat organisasi dan ikuti ketentuan yang telah ditetapkan.

Tibyan : Saya ingat, Al Magfurlah (KH Noer Alie-red) pernah membriefing kami tentang berorganisasi dakwah. Pertama kekompakan, kedua hidup hidupilah organisiasi tapi jangan cari hidup dari organisasi. Menurut Pak Kiyai masih relevan kah?

Kiyai Amin Noer. Iya,  kompak itu utama. Tentunya dalam bingkai organisasi. Ada struktur. Fungsikan setiap struktur organisasi dengan sebaik banyknya. Dengan cara ini pasti lahir kekompakan yang bisa dipertanggungjawabkan. Juga tidak mengeksploitasi organisasi untuk memperkaya diri secara tidak benar. Ini artinya tidak boleh korupsi dan sejenisnya. Pesan pesan moral itu sesungguhnya masih berlalu, tergantung bagaimana kita menafsirkannya secara luas dan terbuka. (Abu Bagus)

TIBYAN.Id – Kekerasan terhadap anak makin menghawatirkan. Dari sisi kuantitas jumlahnya terus bertambah, dari sisi kualitas juga kadar kejahatannya makin tinggi dan usia pelakunya makin muda. Semestinya ada langkah langkah strategis untuk melindungi anak anak Indonesia dari kejahatan yang makin membahayakan masa depan bangsa ini.

Siti Nur Hidayah, psikolog Universitas Islam 45 menyebut tindak kekerasan terhadap anak sudah lampu merah. Juga kejahatan anak semakin banyak jumlahnya dan semakin tinggi kualitas kejahatannya. Dalam perbincangan dengan Tibyan.Id, konsultan psikologi pada Islamic Preschool Center ini memetakan dahsyatnya kriminalitas anak itu.

Tibyan.id; Memang seberapa gawatnya kekerasan seksual pada anak saat ini, khususnya di Bekasi?

Siti Nur Hidayah; Wah bisa dibilang sudah lampu merah. Bayangkan saat ini, di Kota Bekasi sudah 32 kasus kekerasan pelecehan seksual pada anak yang dilaporkan ke Polisi. Padahal tahun 2017 baru setengahnya. Kalau yang melapor sebanyak itu, yang tidak melapor ke polisi jauh lebih banyak lagi tentunya.

Tibyan.id; Karena mereka merasa itu sebagai aib. Atau bisa juga cukup melapor ke Komisi Perlindungan Anak, ke psikolog atau ke LSM. Dari banyak kasus yang ibu temukan apa yang paling dirasakan sangat mengerikan?

Siti Nur Hidayah: Ada persepsi yang masih keliru di tengah masyarakat. Seorang anak yang diperkosa tidak mau melapor ke polisi karena merasa memalukan keluarga, aibnya terbuka dan jadi konsumsi public. Ini jelas keliru. Sehingga banyak kejadian begini tidak terungkap dan tidak bisa diberikan pembelaan pada si korban.

Tibyan,id: Ibu punya pengalaman yang paling berkesan, yang paling traumatic tentunya?

Siti Nur Hidayah; Banyak Sekali. Sejak bertahun tahun saya memang mendalami hal ini. Dari sekian banyak kasus, saya masih merasa amat terpukul pada kasus yang terjadi di Kayuringin tahun 2015 silam. Seorang anak usia 12 tahun diperkosa paman ibunya. Dalam ancaman peristiwa bejad itu terjadi beberapa kali. Duka ini tidak sampai disitu. Keluarga semua kemudian memusuhi ibunya yang dipersalahkan tidak bisa mengurus anak. Sampai akhirnya terusir dari rumahnya. Maka dalam penderitaannya, anak itu pun kehilangan kasih sayang ibunya. Kasus kasus pemerkosaan seperti ini banyak terjadi di mana mana. Di dalam rumahnya atau juga di luar rumah. Lingkungan kita semakin tidak aman memang.

Tibyan.id; Pemerkosaan di dalam rumah yang ibu maksud?

Siti Nur Hidayah: Ya itu tadi, ada orang tua memerkosa anaknya sendiri. Ada guru lesnya yang diundang ke rumah atau tukang yang bekerja di rumahnya. Bisa siapa saja. Sedangkan yang di luar rumah jelas sekali mereka menculiknya.

Tibyan.id; Kasus lain, misalnya anak usia SD sudah mulai pacaran?

Siti Nur Hidayah; Bukan hanya usia SD lagi. Ada anak TK sudah berhubungan intim dengan anak SD kelas satu. Kalau hanya pacaran dan ciuman, itu banyak lagi. Kita sudah dihadapkan pada realitas yang kita sendiri sulit menerimanya dengan akal sehat. Kekerasan lain, misalnya ada anak SMP kelas 1 membunuh kawannya. Banyak tindakan criminal berat pelakunya anak dibawah umur. Sekarang ini kekerasan yang dilakukan anak termuda pada anak usia 12 tahun.


Tibyan.id; Sedemikian mengerikannya. Apa masalah utamanya ?

Siti Nur Hidayah; Banyak factor tentunya. Yang utama adalah pola pengasuhan. Saat ini pola pengasuhan kita semakin jauh meninggalkan dunia anak anak. Orang tua sama sama sibuk dan meninggalkan anaknya sepi dari perhatian orang tua. Pulang sekolah tidak didapati orang tuanya di rumah. Keduanya sama sama ada di tempat kerja. Akibatnya anak mencari kesibukannya sendiri. Ini yang paling utama. Membiarkan anak tanpa pengasuhan orang tua.

Tibyan.id; Begitu komplek persoalannya. Ini menyangkut kehidupan keluarga dan tingkat pendidikan orang tua?

Siti Nur Hidayah; Kita coba sederhanakan masalahnya. Pola pengasuhan ini bisa dibangun kembali melalui kesadaran orang tuanya, khususnya ibunya. Bagaimana ibu ibu menyadari pentingnya pendampingan anak di luar sekolah. Sehingga, seorang anak tidak kehilangan pengasuhan saat kembali dari sekolah.

Tibyan.id; Berarti seorang ibu tidak boleh bekerja di luar rumah?

Siti Nur Hidayah; Banyak solusi yang bisa disodorkan. Kesibukan di luar untuk mencari nafkah, mana lebih penting dengan mengasuh anak agar tidak terjerembab dalam kenistaan? Kehancuran masa depan anak bisa jadi risikonya lebih besar daripada sekadar memperoleh beberapa rupiah dari pekerjaan seorang ibu. Ini hanya sebuah contoh. Tapi solusinya, saya yakin akan bisa ditemukan ketika soerang ibu menyadari pentingnya memberi pendampingan untuk anak anaknya.


Tibyan.id; Anda bicara pola pengasuhan anak? Ini kan sebetulnya complicated. Saat ini pasangan suami isteri suka atau tidak harus sama sama bekerja. Karena tuntutan kehidupan makin lama makin sulit dikejar oleh penghasilan. Bagaimana mungkin kemudian mereka diminta di rumah hanya mengasuh anak?

Siti Nur Hidayah; Memang tentunya penyelesaiannya tidak sepihak. Selain pendampingan untuk membangun kesadaran seorang ibu, pasti hal ini membutuhkan keterlibatan pemerintah. Bagaimana seorang walikota atau gubernur atau bahkan presiden melihat persoalan masa depan anak Indonesia ini sudah membutuhkan kebijakan yang lebih strategis lagi. Misalnya, apa yang disebut pendidikan wajib itu bukan dari SD tapi dari PAUD dan TK atau RA.

Tibyan.id; Ada yang perlu dierbaiki dari kebijakan ini?

Siti Nur Hidayah; Banyak. Pendidikan dini, yakni PAUD dan TK itu adalah bagian yang sangat mendasar. Ini disebut Golden Age. Apa yang mereka lihat, mereka dengar dan mereka rasakan akan dengan mudah mereka serap dan mereka tiru. Bagaimana kalau anak itu tinggal di daerah yang lingkungannya sering bicara jorok, sering memaki, mengumpat dsb, atau di daerah yang banyak anak anak terbiasa merokok, atau yang orang tuanya merokok di depan anak anaknya, atau misalnya setiap hari menyaksikan banyak orang ciuman dan pacaran di tv, bahkan anak menyaksikan gambar gambar porno dari internet yang sudah begitu mudah diakses anak.Ini kan pelajaran buruk yang sangat digemari anak. Ini semua membutuhkan regulasi yang menjadi benteng agar anak bisa selamat dari lingkungan serem seperti ini.

Tibyan.id; Bagaimana peran pengasuhan agama kepada anak, apa itu masih bisa jadi andalan?

Siti Nur Hidayah; Peran orang tua penting untuk menghindari kekerasan seksual. Dalam mengasuh anak sudah diberikan teladan rasul. Orang tua mengajarkan nilai-nilai Islam itu bersifat harus, seperti menutup aurat, selain itu sosialisasi kepada anak diberi pengertian tentang kedewasaan. Mengasuh anak yang baik dengan cara spiritual, keluarga memiliki semacam peraturan atau rutinitas yang harus dilakukan seperti solat berjamaah, mengajak ke masjid, juga mengaji, kebiasaan itu yang kini hilang. Ini sangat besar pengaruhnya.
Tibyan.id; Terhadap pelaku kekerasan atau perbuatan seksual anak dibawah umur, bagaimana ibu melihatnya?
Terkait pelaku yang masih di bawah umur memang perlu ada perlakuan khusus tentang hal itu. Itu kan sudah ada undang-undangnya, jangan perlakukan pelaku yang masih di bawah umur sama seperti pelaku kejahatan lainnya, harus ditangani dengan perlakuan berbeda. Tapi yang kurang dalam pola pengasuhan saat ini adalah kasih sayang dan pengetahuan tentang bagaimana mendampingi anak anak.


Tibyan.id; Sebagai seorang yang selalu bergelut dengan kasus kasus kekerasan terhadap anak dan pelecehan seksual, apa itu mempengaruhi hubungan ibu dengan anak anak ibu karena ibu juga kan memiliki anak anak, atau dengan suami?

Siti Nur Hidayah; Trauma itu pasti ada. Seorang professional juga manusia biasa. Apa yang saya temukan dalam dunia professi saya, terbawa menjadi protektif terhadap anak saya. Kadang juga terbawa menjadi sangat emosional dan menuntut pada suami. Namun, tidak selalu. Sesekali itu muncul dan segera saya menyadarinya.

Saya punya pengalaman. Suatu hari saya menangani kasus pemerkosaan. Sangat memilukan. Saat di rumah saya sudah saya tertidur sementara dua anak perempuan saya masih di masjid. Ketika yang satu pulang, saya langsung terbangun dan panic karena hanya kakanya yang pulang. Saya panic. Padahal adiknya justeru mampir beli jajanan.

Pernah juga saya marah sama suami karena anak saya telah pulang sekolah. Padahal semua itu hal biasa. Baru kemudian kami menyadari bahwa berbagai kasus di luar yang saya tangani seringkali mempengaruhi mentalitas saya. Ketika anak anak saya menyadari itu dan suami saya pun memahaminya, so far tidak masalah lagi. Bahkan kami sering mendiskusikannya bersama untuk hal hal yang bisa dijadikan I’tibar. (Abu Bagus)

 

TIBYAN.Id – Masjid Jogokariyan memang bukan sekadar masjid. Ia sebuah konsep jitu tentang membangun kesejahteraan rakyat berbasis masjid. Ya sejahtera duniawi dan ukhrowi tentunya. 

Saya beruntung bisa ziarah ke masjid ini di bulan Ramadhan ini. Ada takjil disediakan untuk ifthar bersama 3000 porsi makan berbuka. Ya, tiga ribu piring nasi lengkap lauk pauknya.

Sesaat tiba di Jalan Jogokariyan dan mendapatkan masjid yang telah kesohor ke seantero negeri, hati kecil saya berkata. “Oh ini, ya.” Bahkan anak anak saya yang belum tau popularitas masjid ini berkomentar ringan. “Jauh jauh, masjidnya kok biasa saja”.

Masjid Jogokariyan terletak di tengah-tengah kampung Jogokariyan, Mantrijeron, Yogyakarta. Jalannya tidak terlalu besar, halamannya juga terbatas. Namun kini, masjid ini sering menjadi rujukan bagi masjid-masjid lainnya. Salah satunya pernah dikunjungi parlemen Belanda.

Data Base Jamaah

Inilah satu satunya masjid yang melakukan sensus pada jamaahnya atau warga sekitarnya setahun sekali. Sensus ini mendata jamaah di sekitarnya. Bukan sekadar nama, alamat, pekerjaan, pendapatan dan pendidikannya. Tapi yang terpenting siapa saja dalam keluarga itu yang sholat dan yang belum sholat, siapa yang sudah sholat di masjid, yang sudah berzakat dan yang belum, yang sudah berkurban atau belum, yang sudah mengikuti kajian dan yang belum dan dari satu keluarga didata punya keahlian apa dan sudah bekerja dimana?

“Data base ini akan menjadi mapping dakwah yang dilaukan di masjid ini,” kata salah seorang pengurusnya. Menurutnya pada tahun ini bisa dipastikan muslim yang tinggal di empat RW lingkungan Jogokariyan ini sudah mengikuti kegiatan masjid secara seksama. Bahkan saat sholat subuh bisa dibilang jamaah sampai meluber, seperti jamaah sholat jumat saja.

Dari data sensus ini akan ketahuan bahwa dari sekitar 1040 KK atau sekitar 4100 penduduk di sekitar masjid ini telah dipastikan hampir semuanya sholat. Pada tahun 2010 ada 17 orang yang belum sholat, sedangkan pada tahun 2000 ada 127 orang yang tidak sholat. Ini menunjukkan sebuah prestasi dakwah yang dilakukan disini.

Masih cerita untuk memikat jamaah sholat subuh. Awalnya dicetak undangan (seperti undangan perkawinan). Persis seperti undangan pernikahan, namun di lembar sebelahnya diisi ayat ayat dan hadis hadis keutamaan sholat subuh berjamaah. Kini, setiap subuh, jamaah membludak. Tentunya sudah tidak pake undangan lagi.

Saldo nol

Keunikan lain, masjid ini tidak membangun saldo kas masjid. Semua infak harus tersalurkan. Infak itu ditunggu pahalanya tuk jadi amal sholih, bukan untuk disimpan di rekening Bank.

Selain itu, masjid ini tidak membuat amal usaha. Semua kebutuhan masjid akan dibelanjakan dari warung milik jamaah. Sehingga, jamaah mendapat berkah dari masjid, dan masjid tidak mematikan usaha jamaah.
Dengan saldo nol, berarti juga akan menyemangati jamaah untuk berinfak. Selain itu, tidak membuat iri jamaah yang tidak berpunya saat mendengar saldo di masjidnya begitu besar sementara dia mau berobat tidak punya dana.

Tahun 2005, masjid ini menggerakkan program jamaah mandiri. Program ini menghitung biaya kebutuhan masjid selama setahun. Kemudian dibagi 52 ditemukanlah kebutuhan sepekan. Dari angka itu dibagi kapasitas daya tampung, sehingga ketemu angka untuk satu space orang shalat. Buat yang berinfak sebesar itu, dia tergolong jamaah mandiri. Tapi lebih dari itu, dia tergolong jamaah yang mensubsidi. Dan bila kurang dari itu, dia tergolong jamaah yang disubsidi.

Cara ini cukup ampuh. Ternyata tidak ada jamaah rela menerima subsidi untuk setiap ruang ibadahnya. Dengan cara ini pula, semua orang punya kesadaran sendiri dalam berinfak. Buat yang tidak bisa berinfak atau jamaah yang kategori menerima subsidi, tidak apa apa. Bahkan pengurus mengharap doa dari semua jamaah agar bisa melayani dengan sebaik baiknya. Gerakan ini berhasil menaikkan pendapatan infak sampai 400 persen.

Fasilitas Gratis

Keunikan lain di masjid ini, tidak ada pungutan apa apa selain infak. Ada wifi, gratis. Sehingga banyak anak muda betah berlama lama di masjid ini, dan tentunya tetap ingat waktu sholat. Daripada di warnet, mereka main game lupa sholat.

Di halaman depan masjid, ada panggung. Dari backdrop yang masih terpasang, masjid ini baru saja menghelat kegiatan tabligh akbar. Beberapa nama seperti Amin Rais, Mahfud MD, Bachtiar Nasir, Fachri Hamzah dll terpampang jelas. Dekat stage itu ada meja tenis. Ini juga digemari anak anak untuk berolah raga. Olah raga di masjid pasti ingat waktu sholat.

Di depan masjid ada halaman kosong yang dijadiin halaman parkir. Juga tidak ada tarif parkirnya. Padahal ditunggui satpam yang tentunya digajih. Petugas pun tidak menangih atau meminta uang parker.

Namun di beberapa sudut masjid dan dekat dengan lokasi parkir ada kotak infak yang cukup besar. Di sini pengunjung bukan membayar parkir tapi berinfak. Dengan pendekatan ini pendapatan masjid jauh lebih besar. Pengunjung berinfak minimal Rp 10000 tapi pastinya banyak yang lebih dari itu.

Bahkan kotak infak ini dibuat besar besar dengan lubang masuknya besar juga. Sehingga kalau ada yang akan berinfak besar, misalnya beberapa juta, tetap bisa masuk.

Dan ini mungkin yang paling penting dijadikan catatan. Masjid ini bisa jadi satu satunya masjid yang sejak tahun 2005 telah mengikut sertakan jamaahnya pada program Universal Conference Insurance dimana seluruh Jamaah Masjid bisa berobat di Rumah Sakit atau klinik manapun secara Gratis dengan membawa Kartu Sehat Masjid Jogokariyan. Bahkan hal yang biasa dilakukan di masjid ini adalah memberi hibah Umrah bagi jamaah yang betul-betul rutin Jamaah Sholat Shubuh di Masjid Jogokariyan.

Masjid memang bukan sekadar bangunan tempat ibadah. Di masa Rasululloh masjid menjadi tempat mengelola Negara. Arinya selain tempat ibadah mahdhoh, masjid menjadi pusat untuk mensejahterakan jamaahnya. Andai semua masjid bisa dikeloa begini, setidaknya belajarlah ke Jogokariyan kalau ingin mensejahterakan masyarakat dari basis masjid. (Amin Idris)

Makam Imam BUkhari di Samarkand, Uzbekistan

Rihlah

SIAPA yang tidak mengenal tokoh periwayat hadis terkemuka dunia, Imam Bukhari, atau nama sebenarnya Muhammmad bin Ismail bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari al-Ju'fi?  
 
Ia dilahirkan di  Bukhara, Uzbekistan, bulan Syawal tahun 194 Hijrah. Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui, ulama besar yang pernah mengelilingi dunia 
untuk mencari ilmu dan menghafal ratusan ribu hadis Rasulullah SAW itu dilahirkan dalam keadaan buta kedua matanya.
 
Namun, keajaiban terjadi, ketika pada suatu malam ibunya bermimpi melihat Nabi Ibrahim a.s.   yang berkata kepadanya,“Hai Fulanah (yang dimaksudkan adalah ibu Imam Bukhari), sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata puteramu kerana kamu selalu berdoa”.
Ternyata pada pagi harinya si ibu menyaksikan bahwa Allah telah mengembalikan penglihatan kedua belah mata puteranya itu, Bukhari kecil.
 
Pada usia 10 tahun, Bukhari  memulai pengembaraannya ke berbagai negeri. Ia mengembara ke Balkh, Naisabur, Rayy, Baghdad, Bashrah, Kufah, Mekah, Mesir, dan Syam untuk menuntut ilmu. Di antara gurunya yang paling terkenal adalah Imam Muslim bin al-Hajjaj An-Naisaburi, yaitu ulama penyusun kitab Sahih Muslim.
 
Imam Bukhari sangat terkenal dengan kecerdasan dan kekuatan hafalannya. Beliau pernah berkata, “Saya hafal 100,000 hadis sahih, dan saya juga 
hafal 200,000 hadis yang 
tidak sahih. Setiap hadis yang saya hafal, pasti dapat saya sebutkan sanadnya (rangkaian perawinya),” kata Imam Bukhari.
 
Beliau juga pernah ditanya oleh Muhamad Abu Hatim Al-Warraaq, “Apakah engkau hafal sanad dan matan setiap hadis dimasukkan ke dalam kitab yang engkau susun (kitab Sahih Bukhari)?’’
Bukhari menjawab, ‘’Semua hadis yang saya masukkan ke dalam kitab itu sedikit pun tidak ada samar bagi saya.”
 
Tidak heranlah jika banyak ulama dan imam sezaman dengannya sering memberikan pujian kepada beliau. Berikut antara pujian kepada Imam Bukhari:
 
Muhammad bin Abi Hatim berujar: “Saya mendengar Imam Bukhari berkata, Para sahabat Amr bin Ali al Fallaas pernah meminta penjelasan kepada saya tentang status (kedudukan) sebuah hadis. Saya katakan kepada mereka, Saya tidak mengetahui status (kedudukan) hadis tersebut. Mereka menjadi gembira kerana mendengar ucapanku itu, dan mereka segera bergerak menuju ‘Amr. Lalu mereka menceritakan peristiwa itu. ‘Amr pun berkata kepada mereka, Hadis yang status (kedudukannya) tidak diketahui oleh Imam Bukhari bukanlah hadist’.”
 
Imam Bukhari mempunyai karya besar dalam bidang hadist. Di antara kitabnya yang terkenal adalah Al-Jami’ juga dikenali As-Shahih atau Sahih al-Bukhari. Para ulama mengatakan bahwa kitab Sahih al-Bukhari ini merupakan kitab paling sahih setelah Alquran.
 
Ketaqwaan Imam Bukhari
 
Di sisi lain, ketaqwaan dan kesolehan Imam Bukhari juga tidak dapat dipersoalkan. Antaranya:
 
- Diceritakan oleh Abu Bakar bin Munir , “Saya mendengar Imam Bukhari berkata, ‘saya berharap bahwa ketika saya berjumpa Allah, saya tidak dihisab dalam keadaan menanggung dosa ghibah (mencela orang lain)’.”
 
-Abdullah bin Sa’id bin Ja’far berkata, “Saya mendengar para ulama di Basrah mengatakan, ‘tidak pernah 
kami jumpai di dunia ini orang seperti Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) dalam hal makrifah (keilmuan) dan kesolehan’.”
 
-Sulaim berkata, “Saya tidak pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri sejak 60 tahun ini, orang yang lebih dalam pemahamannya tentang ajaran Islam, lebih warak (takwa), dan lebih zuhud terhadap dunia daripada Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari).”
 
- Al-Firabri berkata, “Saya bermimpi melihat Nabi SAW dalam tidur saya, Baginda bertanya kepada saya: “Engkau hendak menuju ke mana?” Saya menjawab, “hendak menuju ke tempat Muhammad bin Ismail Al-Bukhari”. Nabi Muhammad pun  bersabda: “Sampaikan salamku kepadanya!”
 
Imam al-Bukhari menghembuskan nafas terakhir pada malam  Iedulfitri tahun 256 Hijrah ketika beliau berusia 62 tahun dan dikebumikan di Khartank, sebuah desa di Samarkand, Uzbekistan.
 
Sumber: utusan
 
 
 

Bangunan megah Madrasah Ulegh Beg di Samarkan.

Rihlah

SIAPA  tidak mengenal Imam al-Bukhari? Ulama dan cendekiawan itu telah memberikan pencerahan kepada umat Muslim maupun dunia, lewat ilmu fikih dan kitab hadisnya yang termasyhur.
 
Imam al-Bukhari berasal dari Bukhara, Uzbekistan. Ini adalah wilayah di Asia Tengah, yang pernah menjadi bagian dari negara Uni Soviet. Apabila merunut ke belakang, sejatinya tidak hanya kiprah ulama besar itu yang menjadi bukti kejayaan Islam di Rusia pada masa lampau, tapi juga berbagai peninggalan lain, terutama di Bukhara dan Samarkand.
 
Itulah dua pusat perkembangan Islam, terutama di kawasan Asia Tengah, antara abad ke-10 dan ke-12. Sejumlah bangunan masjid dengan menara nan indah, karya-karya dari ulama dan ahli agama terkemuka, kiprah madrasah dan sekolah Islam, geliat sektor ekonomi, pun pernah hadir di sini.
 
Sejarah kawasan ini cukup panjang. Dimulai ketika Alexander Agung pada tahun 329 SM, berhasil mengalahkan Raja Spitamenes, pimpinan bangsa Soghidian yang mendiami wilayah Marakand (Samarkand di era modern), dalam ekspedisinya ke India.
 
Lantas berabad-abad kemudian, datanglah pasukan Arab pada abad ke-7 yang juga sukses menancapkan pengaruh di wilayah ini. Mereka pun berhasil mengajak penduduk setempat memeluk Islam, sekaligus menanamkan aspek sosial budaya, seni, dan pengetahuan Islam.
Etnis Turki dan Arab juga banyak berdatangan ke kawasan ini, yang secara perlahan, bersama penduduk lokal beralih memeluk Islam. Tapi, tak lama kemudian bangsa Cina menyerbu Farghana pada 745 dan menetap sampai tahun 751, sebelum dikalahkan panglima perang Islam, Ziyad ibn Saleh.
 
Akan tetapi, tahun 1220, Genghis Khan dan pasukan Mongolnya menginvasi Asia Tengah serta menduduki Samarkand, Bukhara, dan Urgens. Mereka menghancurkan banyak bangunan Islam, termasuk istana yang dibangun Khalifah Harun al-Rasyid di Tus dan makam Sultan Sanjar di Merv.
Kendati di bawah tekanan, Islam mampu bertahan pada masa kepemimpinan Timur Lenk, seorang Muslim yang merupakan keturunan Genghis Khan. Dia berkuasa di tahun 1370 dengan wilayah meliputi Samarkand, kawasan barat Moskow, hingga timur Sungai Ganges.
 
Bahkan, setelah kematian Timur Lenk, Samarkand yang kemudian dikuasai Ulug Beg tetap bisa berkembang pesat. Kota ini akhirnya menjadi salah satu pusat budaya dan pendidikan Islam. Masjid-masjid agung didirikan di kawasan Asia Tengah ini, misalnya Masjid Haja Ahror di pinggir kota Samarkand, seperti juga 13 masjid lain di Tashkent.
 
Adapun di Bukhara, madrasah Mir-i-Arab menyediakan sarana pendidikan Islam tingkat menengah dengan mengajarkan Alquran dan hadis, bahasa Arab, serta ilmu pengetahuan umum (matematika, kedokteran, dan lainnya).
 
Namun, seiring perjalanan waktu, banyak dari bangunan penting ini roboh ataupun rusak, baik oleh penghancuran maupun bencana alam. Namun, saat ini telah ada upaya untuk merenovasi sebagian peninggalan bersejarah tadi.
 
Di Tashkent, Samarkand, Bukhara, dan Khiva, pemerintah setempat telah memperbaiki tembok-tembok masjid yang termakan usia, memperkuat fondasi menara masjid, mengganti keramik yang hilang, serta melapis ulang kubah masjid.
 
Pengerjaan konstruksi terbanyak mungkin dilakukan di Samarkand, utamanya sebelum tahun 1970 ketika memperingati hari jadi kota yang ke-2.500. Saat itu, bangunan Gur-i-Mir peninggalan Timur Lenk pada abad ke-14 direnovasi dan interiornya diganti baru.
 
Bangunan peninggalan Islam lainnya di Samarkand adalah Shah-i-Zinda yang berada di kompleks 16 bangunan. Konon, Qasim ibn Abbas, sepupu Rasulullah SAW, dimakamkan di sini. Bangunan ini juga telah direstorasi.
 
Sumber: Republika
 
Banner Kanan tengah Atas

WhatsApp Image 2017 05 17 at 20.48.56TIBYAN.id – Konsep social dalam Islam itu berbeda dengan yang ada di masyarakat Barat. Di Barat, orang mengenal istilah take and give tapi dalam Islam hanya ada satu kata, give and give and give. Mau sejahtera, banyaklah memberi. Mau sehat, banyaklah memberi. Mau bahagia banyaklah memberi.

“Intinya, konsep kesejahteraan social dalam Islam itu ya banyak memberi alias bersedekah,” kata KH Abid Marzuki, M.Ed, ketua Yayasan Nurul Islam KH Noer Alie dalam perbincangan di kantor redaksi Tibyan.Id.

Pendekatan memberi itulah yang menjadi kekuatan umat Islam dalam tatanan social. Memberi atau bersodaqoh adalah ajaran dasar Islam yang membukakan semua harapan setiap muslim. Untuk sehat, beruntung, kaya, bahagia orang dianjurkan untuk banyak bersedekah.

Perbincangan Ketua STAI Attaqwa di Redaksi Tibyan.id memperbincangkan banyak hal. Setidaknya, mengajak bagaimana Islamic Centre ini menjadi pusat kegiatan masyarakat yang positif yang bermuara pada masjid.

Ia berharap agar Tibyan.id akan mengarahkan potensinya untuk mendukung syiar dan aktivitas masjid. Masjid bisa dijadikan sebagai sebuah titik perdaban yang didukung oleh seluruh elemen yang ada di Islamic Centre ini.

“Webnya, koperasinya, bahkan yayasannya semua tercurah untuk menjadikan masjid sebagai pusat peradaban Islam,” katanya.

Masih dari dapur redaksi, juga dibicarakan seputar pemilihan kepala daerah Kota Bekasi. Mulai dari figure yang layak sampai pada kriteria calon untuk memimpin masyarakat Bekasi. Untuk ini, perlu dilakukan polling agar ada akurasi data yang dijadikan pijakan penilaian. (*)

  

Oleh Muhammad Isa, Lc

TIBYAN.id -- ALLOH SUBHANAHU WA TAALA sudah ada ketika segalanya selain Allah belum ada. Alloh menciptakan makhluk yang Alloh pun tidak membutuhkannya. Alloh mengenalkan nama dan sifat sifatnya yang luhur. Alam semesta pun menjadi tahu dan memberi kesaksian bahwa Allah maha Esa yang maha memelihara alam raya ini dengan segala ekspresi. Alam pun tunduk atas perintahNya baik dengan suka maupun terpaksa. Setiap ciptaanNya menunjukkan adaNya, menerangkan akan kesempurnaan dzat dan sifatNya. Itulah yang maha adil dalam semua tindakanNya.

Allah telah mengkhususkan diriNya dengan asma-asmaNya. Di dalam surat Al-A'raf Allah menyatakan; Dan hanya milik Allah asma al husna. Maka memohonlah kepadaNya dengan menyebut nama namaNya. Juga dalam surat Al-Isra ayat 110 Allah menyatakan, katakanlah dan berdoalah dengan menyeru Allah (Arrahman) dengan nama yang mana saja kamu gunakan untuk memanggil.

Dalam musnadnya, Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwa Nabi Muhammad saw bersabda dalam doanya; Ya Allah sesungguhnya aku adalah hambaMu, benar benar hambaMu. Kepalaku ada di tanganMu. Berlaku padaku ketentuanMu. KeputusanMu sangat adil. Aku mohon kepadaMu dengan segala asma yang telah Engkau gunakan untuk menamai diriMu. AsmaMu telah Engkau perkenalkan dalam kitabMu, atau Engkau telah ajarkan kepada seorang hambaMu. Aku mohon jadikanlah qur'an sebagai penghibur dan obat hatiku, penghilang kesedihan dan kesusahanku.

Dari hadits ini dapat dimengerti bahwa Allah mempunyai nama yang banyak . Hanyalah Dia sendiri yang bisa menghitungnya. Namun yang kita kenal adalah sembilan puluh sembilan nama indah. Imam Bukhori dan dan imam Muslim juga meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasullullah bersabda, sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, barang siapa menghafalnya maka akan masuk syurga.

Maksudnya, tahu asma Allah dengan pemahaman yang baik serta menghayatinya akan menjadi pengantar masuk syurga. Karena pada dasarnya seseorang bisa masuk syurga itu hanya atas rahmat Allah.

Di dalam untaian asmaul husna ini terdapat pancaran spiritual yang hanya bisa dirasa oleh hamba yang memohon dengannya, dan hamba yang hatinya telah larut mendalam. Bagi mereka asmaul husna telah menjadi pedoman, panduan dalam segala ucapan dan tindakan, telah mejadi jalan penghambaan secara keseluruhan, menikmati keislamannya, dan terjauhkan dari kekufuran, ingin selalu berbuat ketaatan bukan kemaksiatan.

Nabi Muhammad bersabda; ya Allah aku minta ridhaMu agar terlindung dari murkaMu, aku minta pemeliharaanMu agar terhindar dari siksaMu, aku berlindung kepadaMu dari kemungkinan aku tidak bisa memujiMu sebagaimana Engkau memuji diriMu sendiri.

Setiap asma Allah mengandung makna dan rasa tersendiri. Tidak ada yang bisa menjelaskan kecuali seseorang yang lisannya selalu sibuk bergumul dengan asmaNya, seseorang yang hatinya telah yakin dengan seyakin yakinnya bahwa Dialah Allah yang tidak diuntungkan oleh ketaatan hamba, dan tidak dirugikan dengan kemaksiatannya. Ya Allah terimakasih karena rahmatMu benar benar melapangkan segala sesuatu.

Allah berfirman yang artinya ;Apakah kamu tidak tahu bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, di matahari, di bulan, di bintang,di gunung,di pohon-pohonan, binatang-binatang dan juga sebagian besar manusia, tapi banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Ingatlah, apapun yang dihinakan Allah tidak akan ada seorangpun yang akan memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

Sepaling buruknya manusia pun dalam benak hati mereka tetap menyadari bahwa Allahlah yang maha gagah dan perkasa dengan kudrahNya. Allah menuturkan tentang hal ini dalam surat az Zukhruf 87; Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan dari menyembah Allah?

Mereka tidak mengingkari Tuhan melainkan hanya karena kelaliman dan kesombongan belaka, taklid kepada nenek moyang, mengikuti nafsu dan syetan. Sebab buktinya jika datang petaka menimpa mereka, maka tidak ada pilihan mencari jalan selamat kecuali kembali kepada ketauhidan serta bermohon selamat bagi diri dan harta mereka. Mereka sadar hanyalah Allah adalah Penguasa Tunggal.

Singkatnya adalah merasa adanya Allah adalah bukan sesuatu yang dibuat buat manusia, melainkan fakta realita yang tidak bisa disangkal. Sifat ubudiyyah (penghambaan) adalah lazim untuk kita semua, sementara sifat uluhiyyah (penyembahan) tidak boleh sekejap matapun terpisahkan dari kita.

Masih dalam bagian pengantar, saya ingin sedikit menjelaskan tentang Laa ilaha illallah. Lafadz ini disebut lafdzul jalalah, disebut juga Ismul a’dzom. Ini adalah sebutan untuk dzat yang maha mulia, yang semua bermuara ke arahnya, yang didalamnya tercermin tanda tanda kebesaran dan kesempurnaanNya dan seluruh alam semesta ini mendapatkan pancaran dari nurNya. Dia itulah Allah al Wahid al Ahad.

Rasulullah saw bersabda; ucapan saya, juga para nabi lain, yang paling utama adalah Laa ilaha illallah. Kalimat itu adalah pokok atau inti dakwah para nabi dan rasul. Tidak ada nabi dan rasul melainkan mengatakan atau menyeru; sembahlah Allah, tidak ada bagimu tuhan melainkan Allah. Dengan Kalimat Laa ilaha illallah, Allah telah bersaksi untuk dirinya sendiri sebagai tuhan. Para malaikat dan orang orang berilmu juga memberi kesaksiannya. Itulah kesaksian terbesar di bumi dan di langit, yang menjadi kemuliaan orang orang beriman di dunia dan di akhirat.

Barang siapa bersaksi tidak ada tuhan kecuali Allah maka kesaksiannya sesuai dengan kesaksian Allah dan para malaikat. Dan dia termasuk golongan yang disebut orang yang mempunyai ilmu. Sebab pernyataan ketauhidan ini adalah tidak dibangun kecuali atas dasar ilmu dan buah pengetahuannya pun diperoleh dengan ilmu.

Bagaimana mungkin membuat kesaksian akan ketauhidanNya tanpa ilmu. SifatNya adalah segala kesempurnaan, suci dari segala sifat kurang, tidak ada sesuatu yang menyerupaiNya, Maha Esa dalam sifat dan tindakanNya. Makna laa ilaha illallah adalah ikrar yang mencabut semua ketuhanan dari selainNya, sekaligus menetapkan ketuhanan hanya baginya.***

Oleh Inayatulloh Hasyin, dosen di Fakultas Hukum Universitas Djuanda, Bogor.

الله اكبر… الله اكبر… الله اكبر… لااله الاالله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد

َاللهُ اكبَر كَبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا, لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه, مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن, وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون, وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن, وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن, لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه, صَدَق ُوَعْدَه, وَنَصَرَ عبْدَه, وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه, لاالهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر, اللهُ اكبَرُ وَِللهِ الحَمْد

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، الحمد لله الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى محمد وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَا بَعْدُ؛

Segala puji bagi Allah, yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat hamba-hambanya, Maha suci Allah, Dia-lah yang menciptakan bintang-bintang di langit, dan dijadikan padanya penerang dan Bulan yang bercahaya. Maha Suci Allah yang tiada apapun di seluruh jagat semesta ini terjadi kecuali atas kehendak dan pengetahuan-Nya.

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ (59)

Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS Al-An’am: 59)

Maka, tak ada kesombongan apapun di hadapan Allah SWT. Bukanlah penyair Allama Iqbal menulis dalam Payame Mashriq:

شہید ناز او بزم وجود است
نیاز اندر نہاد ہست و بود است
نمی بینی کہ از مہر فلک تاب
بہ سیمای سحر داغ سجود است

Semesta berada di bawah kekuatan-Nya
Dimana segala hal terciptak untuk sujud.
Bahkan matahari itu terbit tak lain adalah tanda
sujud panjang di atas kuasa-Nya

Kesombongan Fir'aun berakhir hanya dengan air. Dia pun tenggelam di tengah lautan. Keserakahan Qarun tamat hanya dengan lumpur. Dia pun ditelan bumi. Peradaban bangsa Tsamud (kaum Nabi Shaleh) berakhir dilumat petir. Kemajuan peradaban bangsa 'Ad (kaum Nabi Hud) tamat riwayatnya dimangsa angin. Dan keperkasaan pasukan Abrahah luluh lantak hanya dengan kerikil batu-batu kecil.

Orang mengaakan, kain terindah adalah sutera. Ia diproduksi oleh ulat. Makanan terbaik adalah madu. Ia diproduksi oleh lebah. Perhiasan paling spesial adalah mutiara, dan ia dihasilkan oleh kerang. Kesombongan apa yang patut kita banggakan di hadapan Allah ketika semua yang istimewa itu dihasilkan oleh makhluk-makhluk kecil ciptaan-Nya.

Subhanallah, hanya Allah yang pantas sombong sebab Dia-lah Al-Qahhar dan Al-Jabbar sementara kita, umat manusia, sangatlah lemah, bahkan ketika mata kita terpapar debu pun kita memerlukan bantuan orang lain untuk meniupnya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang diutus dengan risalah kebenaran, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, mengajak pada kebenaran dan menerangi umatnya dengan cahaya keimanan.

Ya Allah, jadikanlah kecintaan kami kepada Rasulallah SAW bagaikan Abu Bakar yang menangis bahagia saat diizinkan Rasulallah SAW untuk menemaninya dalam berhijrah ke Madinah.

Aisyah (RA) berkata,

فَرَأَيْت أَبَا بَكْر يَبْكِي , وَمَا كُنْت أَحْسَب أَنَّ أَحَدًا يَبْكِي مِنْ الْفَرَح

Maka, aku melihat Abu Bakar menangis, dan aku tak pernah mengira ada seseorang yang menangis sedemikian hebatnya karena bahagia.

Ya Allah, jadikanlah cinta kami kepada Rasulallah sekuat Thalhah bin Ubaidillah yang dalam perang Uhud membela Rasulallah SAW hingga ke atas bukit Uhud dan menyababkan tangannya buntung disabet pedang. Namun, berbahagialah Thalhah bin Ubaidillah, sebab Rasulallah SAW telah menjanjikannya satu di antara "sepuluh orang langsung masuk surga".

Dalam satu hadits, Rasulallah SAW bahkan mengatakan,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى شَهِيدٍ يَمْشِي عَلَى رِجْلِهِ ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ

barangsiapa yang ingin melihat seorang syahid dan masih jalan dengan kedua kakinya (di atas muka bumi), lihatlah pada Thalhah.

Maka itu, setiap kali disebut perang Uhud, Abu Bakar mengatakan, perang itu milik Thalhah.

Ya Allah, meskipun kami ini awam dengan agamamu, namun doa kami, jadikanlah kami penyambung risalah perjuangan Rasulallah SAW hingga tidak ada umat manusia di muka bumi ini yang tidak tahu keagungan dakwah dan risalahnya.

Maka, jadikanlah perjuangan kami seperti Iqbal yang berkata,

إنْ كَانَ لِيْ نَغْمُ الْهُنُودِ وَدِنٍهم *لَكِنْ ذَاْكَ الصَوْتِ مِنْ عَدْنَانِ

Meskipun dalam darahku mengalir keturunan India * tetapi suaraku adalah penyampai keturunan Adnan (Rasulallah SAW)

الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد

Hadirin kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Maka, pada pagi yang indah ini, saat kumandang takbir bersahutan dengan kicauan burung dan gemericik rahmat ampunan dari Allah SWT, saya selaku khatib, pertama-tama ingin mengajak hadirin sekalian untuk meningkatkan taqwa kepada Allah SWT. Taqwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Izinkanlah saya selaku khatib dalam khutbah yang singkat ini menyambaikan khutbah berjudul, “Idul Fitri dan dan Peradaban Islami”.

Ketika Rasulallah SAW berhijrah ke Madinah, beliau SAW mendapati orang-orang berpesta dalam dua hari. Rasulallah SAW bertanya, "Hari apa ini?" Para penduduk Madinah itu menjawab, "Kami dulu berpesta dalam dua hari ini". Rasulallah SAW kemudian bersabda,

قدابدلَكم اللهُ تعالَى بِهِمَا خيرًا مِنْهُمَا يومَ الفطرِ ويومَ الأَضْحَى

Sungguh, Allah SWT telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik dari padanya Idul Fitri dan Idul Adha.

Sejak peristiwa itu, atau tepatnya pada tahun kedua hijriyah, umat Islam menunaikan shalat Idul Fitri di Madinah. Rasulallah SAW kemudian bertindak selaku imam dan khatib shalat Idul Fitri tersebut. Semua pemimpin besar ingin menciptakan peradaban. Tetapi tak ada yang mampu menciptakan peradaban par-excellence seperti Rasulallah SAW.

Secara ilmu fiqh, ulama kemudian berbeda pendapat tentang tata cara menunaikannya. Dalam madzhab Syafii, shalat Idul Fitri ditunaikan dengan tujuh takbir di rakaat pertama, setekag takbiratul ihram, dan lima takbir di rakaat kedua. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatlan oleh Imam Tirmidzi dan Ibn Majjah bahwa Nabi SAW bertakbir pada dua shalat 'Id dengan tujuh takbir di rakaat pertama sebelum membaca (alfatehah) dan lima takbir di rakaat kedua (juga sebelum membaca al-fatehah).

Tetapi, dalam madzhab Hanafi, shalat Idul Fitri ditunaikan hanya dengan tiga takbir di rakaat pertama setelah takbiratul ihram dan tiga takbir di rakaat kedua setelah membaca al-fatehah dan surah lainnya. Madzhab Hanafi kini dianut oleh saudara-saudara muslim kita di negara lain seperti Turki, Afghanistan, Pakistan dan sebagian Mesir.

Ikhtilaf fiqhiyah itu menunjukan keragaman pemahaman dalam Islam. Namun, keragaman itu tidak pernah boleh keluar dari bingkai ukhuwah atau persaudaraan. Di tengah gencarnya arus informasi instan saat ini, kadang kita mudah menuduh seseorang atau suatu kelompok sebagai bid’ah tanpa pernah mempelajari sebab-sebab perbedaan dalam ibadah.

الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد

Hadirin kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari peristiwa Idul Fitri yang mulai dilakukan Rasulallah SAW di kota Madinah itu?

Pertama: Pembentukan Pranata Sosial.

Sejak peristiwa Idul Fitri itu, maka lahirlah masyarakat baru di kota Madinah yang dimulai dengan hijrahnya Rasulallah SAW ke kota itu. Itulah pranata sosial paling indah dalam peradaban manusia. Rasulallah menegaskan:

خير الناس قرني ، ثم الذين يلونهم ، ثم الذين يلونهم ، ثم يجيء قوم تسبق شهادة أحدهم يمينه ، ويمينه شهادته" ؟

Pranata sosial yang dibangun oleh Rasulallah SAW adalah masyarakat yang taat pada aturan hukum dengan membangun rasa persaudaraan antara pendatang dari Mekah (Muhajirin) dan penduduk pribumi (Anshar) Madinah. Bahasa sekarang, Rasulallah membangun civil society atau masyarakat madani, yaitu masyarakat yang menjujung tinggi aturan-aturan hukum tanpa ada paksaan dari siapapun.

Sebelum kita menunaikan shalat Idul Fitri ini, kita diwajibkan berpuasa. Dan berpuasa menjadi ibadah yang tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang taat hukum, taat aturan Allah SWT. Bahkan berpuasa menjadi satu-satunya ibadah yang tidak bisa dilakukan oleh orang munafik.

Orang munafik bisa pura-pura shalat, bayar zakat, pergi haji, bahkan jihad sekalipun. Tapi orang munafik yang tidak taat aturan Allah itu tidak bisa pura-pura puasa. Sebab, puasa tidak dinilai karena seseorang itu terlihat lemas atau sering berludah, misalnya. Karena itulah, dalam hadits qudsi, Allah SWT berfirman, "semua (pahala) amal anak cucu Adam terpulang pada dirinya, kecuali puasa. Akulah yang menentukan balasannya". Maka, puasa menjadi pembeda kita dengan orang-orang munafik, orang-orang yang culas dengan aturan hukum.

Karena itu, Madinah menjadi kota yang penuh ketaatan, yang pada akhirnya terbebas dari kaum Munafik. Bahkan, setiap orang yang berkunjung ke Madinah saat ini akan mengatakan kota ini sangat damai. Ya, demikianlah kota Rasulallah SAW ini kenyataannya. Nama lama kota ini adalah Yathrib. Allah SWT berfirman:

وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا ۚ وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا

Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu". Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)". Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari. (QS al-Ahzab: 13)

Konon, kata Yathrib berasal dari kata Jetroba (Yetroba), salah satu anak keturunan Nabi Nuh (AS) setelah peristiwa banjir besar melanda planet bumi. Rasulallah SAW kemudian mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah. Kata Beliau SAW,

من قال للمدينة (يثرب) فليستغفرالله

"barangsiapa yang menyebut Madinah sebagai (Yatsrib) hendaklah dia beristigfar". (Musnad Imam Ahmad).

Sedemikian nyamannya kota yang dibangun Nabi ini hingga debu yang berterbangan pun menjadi obat. Suatu hari, ada seorang yang mengeluh pada Rasulullah SAW karena sakit, beliau SAW kemudian meletakkan tangannya di tanah lalu mengangkatnya (sambil berkata), “Dengan nama Allah, tanah kami yang baik ini, semoga dapat menyembuhkan orang-orang yang sakit di antara kami dengan izin Tuhan kami” Dengan kata lain, Madinah telah menjadi kota yang bebas polusi sejak dulu hingga kini.

Sedemikian indahnya ibadah di kota itu, orang bahkan berlomba memiliki rumah dekat masjid. Menurut riwayat, keluarga Bani Salmah memiliki rumah jauh dari masjid. Mereka acap kali telat shalat jamaah dengan Rasulallah SAW. Suatu hari dia ingin menjual rumah dan pindah ke sekitaran masjid Nabawi.

Mendengar itu; Nabi berkata,"Wahai Bani Salmah dari rumah kalian dicatat langkah kalian..dari rumah kalian dicatat langkah kalian.". Lalu turunlah firman Allah SWT:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ

"Sesungguhnya kami menghidupkan yang mati: dan kami catat apa-apa yg kalian perbuat: dan langkah-langkah kalian.." (QS Yaasiin: 12)

Pranata sosial yang merindukan masjid seperti itu hanya lahir dari kekuatan dakwah Rasulallah SAW yang mempersaudarakan kelompok pendatang (muhajirin) Mekkah dengan kelompok pribumi (anshar) Madinah. Maka, demikianlah kita dengar kisah Abdurrahman bin Auf.

Ia adalah seorang yang pedagang yang sukses. Padahal, saat hijrah meninggalkan Mekkah ke Madinah, Abdurrahman tak memiliki perbekalan yang banyak. Sampai di Madinah, ia dipersaudarakan oleh Rasulallah SAW dengan Saad bin Rabi', seorang tokoh di Madinah. Saad berkata, "Aku adalah salah satu penduduk Madinah yang kaya. Aku bersedia membagi setengah hartaku untukmu. Isteriku juga ada beberapa. Jika kau mau, aku ceraikan salah satunya agar kau nikahi". Tetapi, Abdurrahman bin Auf tahu diri. Dia hanya minta ditunjukan pasar. Dari sana dia berdagang, tak lama kemudian dia sukses dan memberi tahu Rasulallah SAW bahwa ia akan menikah.

الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد

Hadirin kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Kedua: Menerima kritik dalam membangun peradaban.

Setelah berhasil membangun Madinah, antara lain dengan mempersaudarakan orang Mekkah dengan orang Madinah, bukan berarti Rasulallah SAW terbebas dari kritik dan tantangan. Namun, semua kritik disikapi dengan bijak demi keutuhan perjuangan. Mari ambil contoh perang Hunain, salah satu peristiwa siaga satu yang paling panjang dalam sejarah Rasuallah SAW.

Seperti kita ketahui, pada perang Hunain, suku Hawazin menyerah, sedangkan suku Tsaqif melarikan diri ke Thaif. Di kota itu, terjadi ketegangan selama 20 malam. Suku Tsaqif mengutus para tokoh untuk menemui Rasulallah SAW agar membebaskan tawanan wanita dan mengembalikan harta mereka.

Di antara delegasi itu, Rasulallah SAW melihat wajah yang lamat-lamat dikenalinya. Ya, dia adalah Halimatus Sa’diyah, ibu angkatnya sendiri. Rasulallah SAW menyambutnya dengan kehangatan, dan menghamparkan selimut untuknya. Rasulallah SAW bahkan memenuhi permintaannya; seluruh tawanan wanita dibebaskan dan harta rampasan dikembalikan.

Keputusan Rasulallah SAW mengejutkan para sahabat, terutama kaum Anshar Madinah. Mereka mulai terhasut bahwa Rasulallah SAW berpihak pada masyarakat Makkah, tanah kelahirannya. Untuk apa bersabung nyawa, menggadaikan leher di kilatan pedang, jika pampasan perang dikembalikan pada kaumnya sendiri?.

Suara-suara sumbang semakin santer terdengar terutama saat Rasulallah SAW terlihat di mata kaun Anshar mengistimewakan Ikrimah, anak Abu Jahal, dengan memberinya harta rampasan perang.

Sampai disitu, Rasulallah SAW tetap menahan diri sampai akhirnya Sa'ad bin ‘Ubadah datang menghadap Rasulallah. Seakan protes, Sa'ad berkata, “kemenangan ini bertumpu pada orang-orang Anshar Madinah, tetapi mereka telah dibuat kecewa hatinya dengan pembagian rampasan perang. Engkau bagikan rampasan perang pada kaummu sendiri, sementara Anshar tak mendapat apa-apa”

“Kemana arah pembicaraanmu, Sa'ad?", tanya Rasulallah.
“Aku ini penyambung lidah kaumku, ya Rasulallah!”

Rasulallah SAW kemudian mengumpulkan seluruh kaum Anshar. Dengan suara bergetar dia berkata, “Wahai Anshar, tidak relakah kalian jika orang-orang itu kembali ke rumah mereka dengan membawa isteri, budak dan harta mereka. Sedangkan kalian kembali ke Madinah dengan (membawa) Rasulallah? Demi Allah, seandaianya orang-orang berjalan di suatu bukit, dan kaum Anshar berjalan di bukit yang lain, niscaya aku berada dalam barisan yang dilalui orang-orang Anshar itu”.

Para sahabat Anshar terdiam, lalu menitikan airmata. Mereka telah salah mengira maksud Rasulallah SAW sebab tak lama setelah itu, para pemuka suku Tsaqif menyatakan keislamanannya.

الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد

Hadirin kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Ketiga: Sempurnakan amal kebaikan.

Setelah kita berpuasa selama sebulan, Rasulallah SAW menganjurkan kita untuk membayar zakat fitrah sebelum shalat Idul Fitri ditunaikan.

روي عن عبدالله ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قال فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

Zakat fitrah menjadi penyempurna amal kebaikan sepanjang bulan suci Ramadhan. Demikian pula seharusnya dalam kehidupan kita di dunia ini. Sempurnakanlah amal kebaikan sebelum kita dihisab oleh Allah SWT kelak.

Rasulallah SAW memberikan keteladanan dalam menata kehidupan itu. Saat panji kemenangan telah berkibar. Umat telah terbentuk di Madinah. Ayat terakhir telah turun. Haji telah menjadi wada’. Pohon telah sempurna dan tak lagi tumbuh tunas muda. Rasulallah SAW merasakan sakit sisa racun Yahudi Khaibar.
Beberapa hari sebelum wafat Rasulallah SAW berziarah ke makam Baqi di kota Madinah.

Pemakaman Baqi’ juga disebut sebagai Jannatul Baqi’ atau Baqi’ul Qarqad yang berarti “kebun dari pohon Boxtrhorn”. Pada awalnya, di tempat itu banyak pohon Qarqad sehingga, dalam hadits, Rasulallah SAW mengatakan bahwa pada akhir zaman pohon Qorqod menjadi tempat berlindung orang-orang Yahudi.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ (رواه مسلم)

Jadi, pohon Qorqod adalah pohon kuburan yang tumbuh di Madinah sejak sekian abad lalu. Semog ia kelak menjadi pohon kuburan bagi orang-orang Yahudi yang memerangi kaum Muslimin di Palestina.

Selesai berziarah ke makam Baqi’, Rasulallah SAW mengeluh sakit kepala. Pada suatu malam, seharusnya beliau SAW berada di rumah istrinya yang bernama Maimunah, namun beliau SAW izin agar diperbolehkan bermalam di rumah Aisyah. Dengan dipapah oleh Alfadlu Ibnu Abbas dan Ali bin Abi Thalib, Rasulallah SAW menuju rumah Aisyah.

Selama beberapa hari tinggal di rumah Aisyah, Rasulallah SAW merasakan panas badannya makin tinggi. Sampai suatu pagi, beliau SAW merasa agak sehat dan meminta untuk dibimbing menemui orang-orang di masjid.

Di mimbar, Rasulallah SAW berkhutbah:

فَمَنْ كُنْتُ جَلَدْتُ لَهُ ظَهْرًا فَهَذَا ظَهْرِي فَلْيَسْتَقِدْ مِنْهُ ، أَلا وَمَنْ كُنْتُ شَتَمْتُ لَهُ عِرْضًا فَهَذَا عِرْضِي فَلْيَسْتَقِدْ مِنْهُ ، وَمَنْ كُنْتُ أَخَذْتُ مِنْهُ مَالا فَهَذَا مَالِي فَلْيَسْتَقِدْ مِنْهُ

“Wahai manusia, siapa yang pernah aku pukul punggungnya, maka inilah punggungku. Siapa yang pernah aku caci-maki, maka inilah kehormatanku. Siapa yang pernah aku ambil hartanya, inilah hartaku. Ambilah.”

Seorang mengaku pernah dicambuk. Namun dia tak kuasa mencambuk Rasulallah SAW dan justru memeluknya sambil berurai air mata. Seorang lagi meminta tiga dirham, Rasulallah SAW membayarnya.

Rasulallah SAW kemudian berkata, “Sesungguhnya membuka aib di dunia lebih ringan dari pada membuka aib di akherat.” Ya Allah, jadikanlah kami bagian dari orang-orang yang berbaris bersama Rasulallah SAW dalam hisab-Mu kelak.

Semoga kita termasuk orang-orang yang menyempurnakan amal-amal di dunia dengan kebaikan di hadapan Allah SWT dan Idul Fitri menjadi momentum secara berjamaah untuk membangun peradaban.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَِّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Advertisement

Top Stories

Grid List

TIBYAN -- Ketika hidayah datang tak ada satu kekuatanpun yang dapat menghalanginya. Dan dengan izin Allah, hidayah itu pun tumbuh dan mekar di dalam hati sanubari. Allah memberi hidayah kepada setiap orang yang dikehendaki.

Seperti itulah yang tumbuh di hati Anita Naibaho, gadis Batak berusia 22 tahun yang berasal dari tanah Kabupaten Simalungun Simatera Utara. Hidayah itu tumbuh di hatinya setelah banyak bergaul dengan gadis gadis muslim di tanah perantauannya, di Bekasi Jawa Barat.

“Saya tertarik dengan Islam setelah mendapat keteduhan dan kenyamanan hati dalam lingkungan islam. Keinginan saya untuk masuk islam semakin kuat,” katanya. Sebagai anak yang sangat menghormati ke dua orang tuanya, iapun mengemukakan keinginannya untuk meninggalkan keyakinan lamanya, kristen protestan, dan menjadi muslim.

Tapi apa yang terjadi? Kedua orang tua saya marah besar. Apalagi ayah yang masih kuat memegang keyakinan kristennya. Saya dimarahin, dianggap bukan lagi sebagai keluarga jika saya tetap meneruskan niat untuk masuk islam, cerita Anita Naibaho. Anita mengucapkan dua kalimah syahadah di bimbing oleh Ustadz H. Abdullah Amin, MA, Rabu 14 Juni lalu seusai shalat asar di masjid Nurul Islam Islamic Centre KH.Noer Alie, kota Bekasi.

Tapi niat saya sudah bulat. Apapun resikonya saya siap untuk menghadapinya demi ketenangan jiwa dan keselamatan saya dunia akhirat. Saya bilang kepada ayahanda yang kini mereka tinggal di Pekan Baru Riau, bahwa saya akan tetap berpindah agama. Mama saya menangis mendengar berita itu. Ayah saya terus marah marah.

Hati saya juga terenyuh. Sebab betapapun keduanya tetaplah orang tua yang melahirkan, membesarkan dan memberikan pendidikan kepada saya dengan segala kasih sayangnya. Saya berusaha memberikan pemahaman kepada ke dua orang tua saya bahwa saya sudah dewasa dan berhak memilih jalan hidup saya.

Akhirnya hati ke dua orang tua saya luluh meski mereka tak setuju saya berpindah agama tapi paling tidak mereka tak lagi menghalangi saya untuk mengganti keyakinan saya dari kristen protestan menjadi Islam.

Yang lebih menguntungkan saya adalah di keluarga kami tidak semuanya kristen tapi ada juga yang Islam. Adek ibu saya juga Islam. Jadi keluarga kami sudah terbiasa bergaul dengan keluarga yang berbeda agama, cerita Anita Naibaho yang memiliki 4 saudara kandung.

Kepada TIBYAN Anita mengakui sangat senang setelah keinginannya untuk bersyadah sudah terlaksana. Teman temannya yang muslim yang ikut menyaksikan saat ia bersyahada merasa sangat senang.

Seusai bersyahadah Anita menerima piagam sebagai bukti bahwa ia sudah bersyahadah. Menurut H. Abdullah Amin, piagam itu dibutuhkan untuk pengurusan perubahan KTP jika sebelumnya di KTP lamanya status agama tercatat Kristen Protestan nanti dalam KTP baru kolom agama akan berubah menjadi Islam.(imran nasution)

TIBYAN-- Sumber teroris berasal dari Israel yang mencaplok Palestina. Dari situlah akar masalah teroris muncul kemudia menjalar kemana mana. Puncaknya ketika terjadi peledakan gedung WTC di New York dan Pentagon di Washington DC tahun 2000. Oleh karena itu, jika akar masalahnya tak diselesaikan, maka jangan harap terorisme akan dapat ditumpas.

Adian Husaini, mengemukakan hal tersebut kepada Dhany Wahab dari Radio Dakta, dalam ulasan berita Senin (22/5) pagi. Ketika itu ia sedang menanggapi pidato Presiden Jokowi pada konferensi Organisasi Konferensi Islam (OKI) Amerika di gedung King Abdul Azis Riyadh Arab Saudi.

Presiden Jokowi dalam pidatonya pada konferensi OKI tersebut mengusulkan penangan terorisme seharus tidak lagi dengan cara cara kekerasan. Sebab katanya kekerasan akan melahirkan kekerasan.

Adian menilai persoalan teroris tidak bisa diselesaikan selama akar masalahnya tak diselesaikan. Sementara akar masalahnya ada di Israel yang telah mencaplok Palestina. Maka jika ingin menyelesaikan kasus terorisme, selesaikan dulu kasus Palestina – Israel. Penyelesaian Palestina harus dikembali kepada kesepakatan PBB dengan mengembalikan wilayah palestina kepada posisi tahun 1948 termasuk mengembalikan Yerusalem yang kini diklaim Israel sebagai ibukota negaranya.

Yang jadi masalah lanjut Adian Husaini, Amerika sebagai negara adidaya, adalah sahabat kental Israel. Setiap ada resolusi PBB yang merugikan Israel Amerika selalu memvetonya. Itu sebabnya masalah Palestina tidak selesai-selesai. Maka selama masalah Paletina tak selesai maka terorisme juga tak akan ada penyelesaiannya. (Imran Nasution)

TIBYAN_ Ditengah persaingan hidup yang sangat ketat untuk mendapatkan dan mempertahankan kehormatan banyak orang terserang penyakit jiwa. Tak heran jika akhir akhir ini klinik kesehatan jiwa tumbuh subur di tengah masyarakat. Apalah artinaya tubuh yang tampan dan perkasa jika jiwanya sakit dan mentalnya. Hiduppun menjadi tak bermakna hatiny menjadi gersang. Maka kesehatan jiwa menjadi sangat penting.

Menurut KH. Abid Marzuki, M.Ed. sejak awal Islam telah menjelaskan betapa pentingnya makna kesehatan jiwa bagi manusia. Hal itu diungkapkan dalam sebuah hadis nabi yang kira kira maknanya " Dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika dia rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya. Daging tersebut ia hati (qulub).

Salah satu ciri hati (qolbu) yang rusak adalah tidak mampu membedakan mana yang baik mana yang rusak. Mana yang benar mana yang salah. Hatinya tertutup, mengeras bagai batu, sehingga sulit menerima kebenaran.

Hati yang sakit cenderung menurutkan hawa nafsu. Hakikat kebenaran ditentukan oleh nafsu. Padahal Allah telah menyatakan bahwa yang haq ( yang benar) itu dari Tuhanmu maka janganlah kamu meragukannya. Artinya kebenaran bukan bersumber dari hawa nafsu. Tapi kebenaran itu bersumber dari Ilahi sang Pencipta yang diterima oleh akal yang sehat. Jika ada orang yang tak meneriman kebenaran wahyu Allah itu tandanya hatinya sakit.

Dijelaskan oleh Abid Marzuki, Faktor merebaknya penyakit jiwa atau gangguan jiwa di tengah masyarakat modern seperti stres, gangguan kesehatan jiwa tahap awal dan lanjutan disebabkan munculnya angan angan yang tidak rasional. Ketika angan angan tak dapat diwujudkan muncul kekecewaan, putus asa, menyalahkan Allah, dan pada akhirnya mengalami sakit jiwa.

Lebih lanjut, Abid Marzuki yang kini dosen di Universitas Islam 45 Bekasi (UNISMA) mengatakan obat penyakit jiwa diungkapkan sangat jelas diungkapkan dalam Alqur'an. Perhatikan surat ke 91 ( Asy syams) ayat ke 9. "Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa. Dan pada ayat ke 10 disebutkan "Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya".

Qolbun salim, hati yang selamat adalah hati yang bersih dan suci. Tidak ternoda oleh kotoran dan noda seperti dengki, serta penyakit penyakit hati yang dapat merusak jiwa. Orang yang selalu memelihara kesehatan jiwa adalah orang yang beruntung.

Sedang orang yang mengotori jiwanya adalah orang yang paling merugi. Al Qurtubi menyebutkan hadis dari Hudzaifah yang terdapat dalam kitab As shahiihaih, dari Rasulullah Saw beliau bersabda, " fitnah fitnah itu menimpa hati bagaikan tikar dianyam sehelai demi sehelai. Hati yang mana menyerapnya, maka digoreskan titik hitam padanya. Dan hati mana yang menolaknya , maka digoreskan padanya titik putih. Sehingga hati manusia itu terbagi menjadi dua macam; hati yang bersih seperti air jernih , dan ia tidak termakan oleh fitnah selama ada langit dan bumi. Dan yang satu lagi berwarna hitam kelam seperti tempat minuman yang terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak pula mengingkari kemungkaran".

Dari hadis itu nyata dengan terang benderang dua gambaran hati yang sehat dan jiwa yang sakit. Untuk mendalami hal tersebut, yayasan Islamic Center akan menggelar kajian kesehatan jiwa yang akan diselenggarakan di masjid Nurul Islam Bekasi pada kajian islam ba’da Asar, dalam waktu dekat ini dengan pemateri KH. Abid Marzuki.***

TIBYAN_Selama Ramadhan tahun ini Yayasan Islamic Centre KH. Noer Alie, menggelar kajian Islam ba'da shalat Asar dengan menghadirkan narasumber para asatidz yang mumpuni dibidang masing-masing.

Salah satu topik kajian Islam yang sudah digelar adalah " Zakat Kewajiban Bukan Kedermawanan" dengan narasumber Ir. H. Kanti Prayogo, ketua Badan Pengelola Islamic Centre KH. Noer Alie.

Ir. Kanti Prayogo, mengawali ceramahnya dengan menyampaikan firman Allah pada surat Attaubah ayat ke 11. Tentang perintah menunaikan zakat.

Dalam penjelasannya, Kanti mengemukakan bahwa seseorang baru dapat diakui keislamannya manakala seseorang itu sudah bertauhid, mengerjakan shalat, dan membayar zakat.

Ditegaskan, ketiga aturan pokok itu merupakan syarat seseorang tidak boleh diperangi. Bahkan siapa yang tak berzakat tidak berarti baginya shalatnya paparnya sambil mengutip hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan Abdullah bin Mas'ud yang memberi penegasan bahwa " Kalian diperintahkan mendirikan shalat dan membayar zakat , siapa yang tidak berzakat berarti tidak ada arti shalat baginya" ( lihat, Yusuf Qordhowi dalam bukunya fiqih zakat).

Meski perintah zakat sudah turun sejak 1426 yang lalu, sampai sekarang zakat masih dianggap sebagai kebaikan hati orang yang punya kekayaan (agnia) sehingga terkesan bahwa zakat sebagai kedermawanan para agnia.

Padahal jelas Kanti Prayogo bahwa Nabi Muhammad telah menegaskan bahwa menunaikan suatu kewajiban yang sama wajibnya dengan melaksanakan shalat, puasa pada bulan ramadhan, berhaji bagi orang yang sudah mampu.

Orang yang nemiliki harta yang sudah sampai pada nishofnya wajib mengeluarkan sebagian dari hartanya sebagai zakat. Bagi sorang muslim yang tak menaati perintah Allah tentu ada sanksinya.

Sanksi bagi orang yang mengabaikan perintah zakat akan mendapat siksa yang pedih kata Kanti Prayogo sambil mengutip Firman Allah pada surat Attaubah ayat 34. ....dan orang orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkan pada jalan Allah, maka beritakanlah pada mereka, ( bahwa mereka akan mendapat ) siksa yang pedih. ( QS.Attaubah 34).

Advertisement

Upcoming Events