18
Wed, Sep

Dari Jepang Ke Islamic Centre Menyaksikan Darah Tercecer

Aktual
Typography

TIBYAN.ID, Bekasi - Tujuannya sih memang jalan jalan di Indonesia.  Liburan lah.  Namanya Hirohito, pemuda asal Jepang mengaku tertarik dengan prosesi pemotongan hewan kurban di Islamic Centre KH Noer Alie.

Pengalaman langka yang menurutnya tidak ditemukan di Jepang.  Indonesia memang unik dan pemotongan hewan kurban salah satunya.  Saya menemukan kebersamaan,  saya jumpai nuansa tolong menolong, saling membantu dan berbagi.

Kalau di Jepang saya tidak menemukan prosesi pemotongan kurban seperti ini.  Kurban pasti ada.  Karena di Jepang juga ada umat muslimnya. Tapi mereka berkurban tidak seperti di Indonesia ini, entah bagaimana saya tak tau.  Kata Hirohito dalam perbincangan di Islamic Centre.

Siapa saja yg bisa menikmati daging hewan ini?  Saya katakan semua orang bisa.  Tidak hanya umat muslim,  seluruh umat manusia bisa dan boleh menikmatinya.

Andai Hirohito mau daging kurban juga boleh,  kataku.  Tapi Hiro menggeleng,  dia tidak mungkin memasaknya. Dia tidak bisa masak dan tidak punya fasilitas memasak. 

Sebagai turis,  Hiro memang tidak bisa melakukannya.  Namun dia menaruh apresiasi yang luar biasa terhadap kegiatan pemotongan hewan kurban ini.

Bagi Hirohito,  kunjungannya ke Indonesia ini adalah yang kedua kalinya.  Sebelumnya ia beberapa tinggal di Bali,  bisnis ikan tuna.  Kemudian kembali ke Jepang.  Dan kini dia sekedar jalan - jalan saja.

Hiro mengaku bukan muslim.  Namun kunjungannya kali ini ia sangat terkesan dengan kegiatan umat muslim.  Karena berbarengan dengan hari raya iedul adha dan pemotongan hewan.

PENGALAMAN LANGKA

Seperti dilaporkan Detik Travel, umat muslim di Jepang biasanya hanya bisa melaksanakan sholat iedul adha tanpa ada pemotongan hewan kurban.

Jangankan Hirohito yang non muslim,  yang umat Islam saja tidak bisa. Memang tidak dibolehkan untuk menyembelih kurbah di area publik.

Populasi muslim di Jepang diperkirakan sekitar 120 ribu orang atau kurang dari 1 persen. Mayoritasnya merupakan pelajar maupun pekerja dari Indonesia, Pakistan, Mesir, Turki, Bangladesh, Srilanka, Afghanistan, Malaysia, Guinea dan tentu saja Jepang.

Perbedaan latar belakang dan budaya tersebut sangat terasa tatkala Idul Adha. Masing-masing tampil dengan pakaian asal negaranya. Tatkala bertemu dari negara yang sama, bahasa 'ibu' mereka pun digunakan. Namun bila bertemu jamaah yang berbeda negara, maka bahasa Jepang menjadi pilihan.

Satu di antara lokasi yang menyelenggarakan ibadah salat Idul Adha ada di Masjid Mie yang ada di Prefektur Mie, Jepang.

Bila pelaksanaan salat Idul Adha di Indonesia dimulai pukul 07.00 atau 08.00 pagi, di Masjid Mie yang baru digelar pukul 09.00 waktu Jepang. Hal ini dimaksudkan agar jamaah yang bermukim cukup jauh dari masjid bisa ikut salat bersama.

Bahkan, panitia sempat menambahkan waktu 15 menit dari jadwal semula atau pukul 09.15 demi mengakomodir kedatangan jamaah hingga sekitar 150 orang.

Meski tanpa pemotongan hewan kurban usai salat, tak mengurangi makna dan keindahan suasana. Setiap jamaah salat dijamu hidangan berupa nasi basmati plus daging kare.

Tidak ketinggalan buah, kue, minuman kaleng, jus dan bubur. Bedanya, jamaah laki-laki dijamu di luar ruangan, sedangkan jamaah perempuan dalam ruangan di lantai dua.

Tak lama, satu persatu jamaah mulai meninggalkan masjid untuk beraktivitas seperti hari biasanya. Mengingat momentum Idul Adha belum diakomodir sebagai hari libur nasional di negeri matahari terbit.(*)