Simak berbagai info Tibyan Islamic Centre KH Noer Alie Bekasi melalui media sosial Twitter (@islamicbks), Facebook (https://www.facebook.com/islamiccentrebekasi/), Instagram (@islamicentrebks) || Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi (islamiccentrebks@gmail.com)
22
Wed, May

Top Stories

Grid List

Amin Idris / Tibyan.id

Kalam

TIBYAN.ID, Bekasi -- Di Bekasi pernah didirikan Pusat Kajian Manajemen Startegis (PKMS). Pendirinya antara lain Hans Munthahar, Siswadi, DR Abdul Khoir, Haris Budiono dan beberapa pemerhati pembangunan lainnya. PKMS fokus melakukan telaah pembangunan, misalnya kajian tentang ruang public.

Menurut Hans, ruang adalah aset strategis. Ruang adalah tempat untuk melangsungkan kehidupan manusia, sumber daya alam karunia Allah SWT. Nah di Jawa Barat, ruang sebagai aset penting ini belum dimanfaatkan oleh masyarakat Jabar secara optimal, terkoordinasi, terpadu dan selefektif.

Padahal dari ruang bisa terbentuk pembangunan pembanguna lain seperti, ekonomi, sosial, budaya, hankam, serta kelestarian lingkungan untuk mendorong terciptanya pembangunan yang berkelanjutan yang serasi dan seimbang.
Menurut Hans, ini persoalan serius di Jawa Barat. Untuk mengoptimalkan asset anugerah Allah ini perlu perencanaan yang cermat dan terarah. Dalam pelaksanaannya harus amanah dan bijaksana agar tidak merusak lingkungan hidup.
“Munculnya proyek proyek strategis di Jabar ini menantang saya untuk masuk, bukan sekadar menyaksikan dari jauh proses itu, tapi akan membentengi Jabar dari pembangunan yang hanya berorientasi menguntungkan investor” kata Hans.

Karena itulah ia pada pemilu 2019 ini mencalonkan diri untuk menjadi caleg dari PBB untuk Jabar. Melalui PKMS saja kajian ini hanya ada di ring luar. Tapi alangkah bagus dan bermanfaatnya bila kelak DPRD bermitra dengan institusi institusi ahli dalam mengawal pembangunan di Jabar.

Kota di Jabar saat ini masih belum tertata dengan baik. Kegiatan primer dan sekunder berbaur dan semrawut. Akibatnya lalu-lintas antar kota berbaur dengan lintasan local kota, dengan pusat perdagangan, pasar dll. Akibatnya bukan hanya kemacetan yang timbul tapi kota menjadi sumpek dan tidak menarik untuk disinggahi.
Belum lagi kalau dilihat dari makin sempitnya ruang pembangunan di Jakarta, maka imbasnya adalah Jawa Barat. Properti, pusat hiduran, transportasi, pusat perdagangan pasti akan menyita Jawa Barat sebagai wilayah perluasannya atau Banten ke sebelah baratnya.

Saat ini saja kita bisa lihat banyak proyek property yang besar besar sudah bertumbuh, pembangunan kreta cepat, pembanguna pelabuhan, airport dan sebagainya yang tentunya layak untuk dipertanyakan, apakah semua itu sudah melewati fase penelitian yang mendalam. Ketika sebuah pembangunan hanya berorientasi pada aspek mempertimbangan kepentingan investor dan keuntungan matrial, maka bisa dipastikan aspek lingkungannya, keberlangsungannya, kenyamanannya akan terganggu.

Di sinilah pentingnya menjaga keseimbangan pembangunan itu yang peran besarnya ada di legislative. Saya akan coba menawarkan kepada rakyat jabar untuk bisa dipercaya mengisi posisi itu. Istilahnya, menjadi pengawal pembangunan Jawa Barat. Wallohu a’lam. (AB)

Tadi sore saya sempat bersilaturrahmi ke STAI Attqwa. Rupanya paginya baru saja digelar Ijtima’ Sanawi, acara tahunan yang selalu menarik karena membawa tema tema actual. Dalam perbincangan dengan Ustadz M Abid Marzuki saya menegaskan, seluas apapun wawasan kita bedah kalau SDM kita tidak diupgrade, tetap saja kita jalan di tempat. Padahal kekuatan Kiyai Noer Alie dalam membangun Attaqwa adalah pada strateginya menyiapkan kader sedini mungkin. Sebelum yang lain, Kiyai Noer Alie membangun kader terlebih dahulu.

Nah, dari percakapan tadi dengan Ustad Abid, ketua STAI Attaqwa, tampaknya Ijtima’ Sanawi 2018 tidak memberi perhatian rinci dan detail mengenai rekayasa sumber daya manusia untuk Attaqwa 20 tahun atau 50 tahun yang akan datang. Bisa jadi agendanya memang bukan ke situ. Tapi ketika problematika kawasan global dijadikan sebagai sebuah sajian atau aspek - aspek teknis pembenahan pendidikan menjadi tema, diskusi pasti akan mengarah pada mengukur kekuatan sumber daya manusianya. Setidaknya demi menghindari tudingan omong doing.

Dari Sumber daya manusia yang handal, tantangan itu bisa diantisipasi. SDM ummat, SDM di organisasi, SDM di lembaga lembaga pendidikan dan SDM di berbagai lini. Sudahkah persoalan SDM ini mendapat prioritas bagi Attaqwa untuk membangun masa depannya atau untuk membentengi dirinya dan ummatnya atau jamaahnya dari berbagai tantangan ? Let me guest, Yayasan Attaqwa tampaknya belum memiliki rancang bangun masa depan di sektor ini. Ini dugaan saya, mudah mudahan salah.

Tulisan ini semata mata didedikasikan sebagai bentuk kontribusi dari seorang alumni. Merujuk pada Mars Oh Pondokku, maka Pondok adalah ibu kandung, dan santri serta para alumninya adalah anak anak kandungnya. Anak durhaka namanya kalau gak mau berkontribusi sama almamaternya. Dan ibu yang baik pasti seneng kalau mau sedikit didandani dan diingatkan oleh anaknya.

Bagi Attaqwa belajar tentang rekayasa sumber daya manusia sebetulnya gak perlu jauh jauh. Adalah Kiyai Noer Alie yang awal mendirikan Attaqwa pemikirannya sudah loncat jauh ke depan. Inget, baru menanam benih, kiyai Noer Alie ibaratnya sudah jauh mempersiapkan teknologi pasca panennya. Di saat Attaqwa belum mentik, Kiyai Noer Alie sudah memilih anak anak lulusan SRI, antara lain Ustad Mahally Samsuddin, Ustad Tajuddin, Ustad Rosyidi, Ustad Mista Suhanda, untuk dibiayai sekolah ke luar.

Mereka ada yang dikirim ke Gontor. Ada yang ke Muhammadiyah dan ada yang ke pesantren NU. Untuk yang ke Gontor, seperti diceritakan Guru Rosyidi, mendapat perhatian besar dari Kiyai Noer Alie. Perkembangannya benar benar diikuti. Saat itu siswa Gontor belajarnya sudah berseragam celana dan kemeja serta berdasi dan bersepatu, juga dikenal disiplinnya ketat. Sementara Attaqwa masih berbentuk pesantren tradisional, belum sistem kelas.

Kita memang tidak bisa membaca transkrip dari rekayasa SDM yang sedang dibangun Kiyai Noer Alie. Itu semua ada dalam pikirannya dan kita hanya bisa memahaminya dari tindakan dan kebijakan yang dilahirkannya saat itu. Ingat, tidak semua yang ada itu tertulis. Tapi saat itu, saya yakin, di benak Kiyai Noer Alie Attaqwa sudah diset untuk 20 tahun atau 50 tahun ke depan. Great.

Enam tahun kemudian, satu per satu kader itu kembali. Mereka perlahan masuk ke dalam system. Pesannya sederhana saja. Yang muda diminta untuk memahami dan menghormati guru guru senior. Ini untuk menghindari gesekan lintas generasi. Tapi guru guru muda ini juga diminta untuk bisa mentransfer apa yang di dapat dari tempatnya belajar selama ini. Meski itu terkesan ekstrim.

Maka trio guru muda saat itu pun memulai missinya. Ada Guru Tajuddin sebagai team leader, ada guru Rosyidi dan ada Guru Mista Suhanda. Sementara Guru Mahalli Syamsuddin setelah mengajar beberapa lama mendapat penugasan jadi kepala desa. Berbagai perubahan mulai dilakukan. Tapi semua berjalan mulus, karena pendekatannya adalah tidak boleh sampai terjadi gesekan antara guru senior dan guru muda.

Hebatnya Kiyai Noer Alie dalam membangun kadernya adalah memberikan delegasi secara total. Saya masih ingat betul, bagaimana Guru Tajuddin begitu besar menerima delegasi kepercayaan untuk membidani lahirnya Albaqiyatus Solihat sementara di pondok putra beliau juga menjadi kepala MMA. Sampai sampai untuk mendisain seragam Albaqiyat saat itu harus Guru Tajuddin yang memikirkan.

Sekali lagi, KH Noer Alie memang maestro dalam membangun kader. Kepada trio guru muda ini, pendelegasian amanat diberikan tidak tanggung. Bukan seperti apa yang dikenal orang, kepala dilepas buntut dipegangin. Tidak. Kiyai mendelegasikan penuh. Dan trio guru ini pun bebas berinisiatif sepenuhnya. Termasuk untuk melakukan hal hal yang ekstrim.

Misalnya ketika harus membuka MMA, butuh guru guru pelajaran umum, maka trio ini harus pasang banyak akal dan siasat menarik minat guru guru umum yang umumnya jadi pengajar di sekiolah umum. Beberapa nama antara lain Sunaryo dan Lukmansyah. Lukmansyah adalah guru di SMA 1 dan SMA Muhammadiyah yang diajak mengajar ke Attaqwa. Untuk membuatnya betah, sampai sampai Guru Rosyidi mencarikan jodoh santri Albaqiyat untuk diperisteri. Supaya Guru Lukman semangat dan menjadi orang Attaqwa penuh.

Sampai pada masanya take off, Attaqwa pun bisa menyesuaikan diri dengan semua kebutuhan jamannya. Di tangan guru muda, Attaqwa menapaki perubahan dengan enteng. Dari pesantren tradisional berubah menjadi madrasah yang bersifat klasikal. Tuntutan penyesuaian terus dijawabnya dengan merubah status menjadi Madrasah Aliyah dan Madrasah Tsanawiyah dengan tetap mempertahankan identitas kepesantrenannya.

Dengan SDM yang terrencana sempurna, apapun perubahan yang menjadi tuntutan masa depan bisa diantisipasi dengan ringan. Lagi lagi yang disayangkan, kiyai Noer Alie tidak meninggalkan blue print tentang masa depan Attaqwa, tapi faktanya, apa yang dilakukannya saat itu sudah memiliki loncatan jauh melampaui masanya.

Seperti pernah saya perbincangkan juga dengan Guru Rosyidi, sebagai bos besar, Kiyai Noer Alie juga tidak memberi acuan detail mengenai tugas yang harus dilakukannya dalam membangun madrasah Attaqwa. “Perintahnya adalah betulin genteng yang bocor, maka mengambil tangga untuk naik ke atap secara otomatis menjadi perintah yang ada dibalik perintah botulin genteng bocor,” kata Guru Rosyidi.

Inilah hebatnya kiyai Noer Alie dalam membangun kadernya. Ia bisa mencetak orang orang yang tidak sekedar bisa menjadi penterjemah, tapi sekaligus bisa menjadi penafsir dari keinginan dan perintah yang tersurat maupun yang tersirat.

Pengurus Yayasan Attaqwa saat ini tentunya tidak bisa menjadi seperti KH Noer Alie. Tapi merekayasa masa depan dengan kemampuan SDM yang handal tak bisa dianggap enteng. Karena itu diperlukan sebuah upaya melalui berbagai diskusi dan kajian, bagaimana tantangan 20 tahun atau 50 tahun mendatang bisa diantisipasi dengan kematangan SDM yang tidak sekadar bekerja rutinitas tanpa kemisteri.

Mengutip Iqbal; Tidak ada tempat untuk berhenti. Sikap lambat berarti mati. Siapa terlena sejenak sekalipun pasti tergilas. (abubagus)

Oleh Amin Idris

Bismillahirrohmanirrohim. Segala puji bagi Allah, robb yang mengatur seluruh jagat raya dan kehidupan umat manusia. Dari kuasaNya manusia bisa memiliki otoritas untuk melakukan banyak hal, mulai dari mengatur kehidupan pribadinya, keluarganya, lingkungannya sampai pada mengatur dan mengelola alam dan memenej kehidupan dunia untuk akhiratnya.

Allah telah menetapkan manusia sebagai khalifah di mukabumi. Artinya, untuk urusan kehidupan di dunia ini manusia telah menjadi wakil Allah yang memiliki otoritas untuk memanfaatkannya sesuai dengan garis dan ketentuan yang telah ditetapkan Allah.

Sehingga dengan begitu jelas dan gamblang di dalam Alquran Allah mengatakan, bila kemudian terjadi kerusakan di muka bumi ini, entah itu bencana alam, longsor, gempa bumi, banjir, kebakaran hutan, atau berbagai kekacauan semata - mata karena ulah manusia itu sendiri sebagai penyebabnya.

Firman Allah; “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Q.S. Ar Rum (30) : 41-42)

Jamaah Yang Berbahagia

Alam dan segala isinya ini adalah wujud kasih sayang Allah kepada makhluknya di muka bumi ini. Dijadikannya seluruh alam raya ini untuk kesejahteraan manusia, untuk kedamaian kehidupan manusia, untuk ketentraman dan kebahagiaan alam raya ini. Allah membolehkan untuk mengeksplorasi alam ini dengan pengetahuan yang juga telah dibekalinya.

“Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (Al A’raf 74.)

Saat ini, problema umat manusia di dunia ini adalah terjadinya perusakan besar - besaran di muka bumi. Hampir di semua Negara di dunia ini terjadi krisis hutan. Indonesia bahkan mengalami hal yang parah. Selain hutan - hutannya yang dihabisi, penguasaan lahan pun terjadi ketidak seimbangan. Sebanyak 80 persen lahan di bumi Indonesia ini dikuasai hanya oleh beberapa orang saja.

Maka wajar ketika dimana mana terjadi bencana, sumbernya adalah karena ketidak seimbangan pengelolaan lahan, termasuk lahan hutannya. Bahkan, eksploitasi terhadap laut pun terjadi berlebihan. Akibatnya alam ini menjadi semakin tidak seimbang, kerusakan di mana - mana maka, dan bencana selalu mengancam.

Padahal Allah dengan tegas memberikan otoritas pemanfaatan alam untuk kesejahteraan seluruh umat mansia. Allah juga melakukan perbaikan - perbaikan, tapi kemudian dirusak lagi secara meraja lela. Padahal Allah pula memerintahkan agar setiap terjadi eksploitasi yang berdampak terjadinya perusakan di muka bumi hendaknya segera dilakukan recovery. Dan ketika itu tidak dilakukan pasti bencana akan datang sebagai hukuman dari Allah swt.

Beberapa ayat Alquran yang mengingatkan tentang ini antara lain;

“Yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak Mengadakan perbaikan”. Surat asy-Syu’araa ayat 152

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan”. Surat asy-Syu’araa ayat 183

“Dan adalah di kota itu (Menurut ahli tafsir yang dimaksud dengan kota ini ialah kota kaum Tsamud Yaitu kota Al Hijr) sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan”. Surat An-Naml Ayat 48

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,” Surat Al-Qashash Ayat 77

 

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?.” Surat Muhammad Ayat 22

 

Meskipun perusakan alam, eksploitasi hutan dan kejahatan lingkungan terjadi secara massip yang dampaknya akan merusak kehidupan, namun tetap saja pemerintah tidak memberikan sinyal - sinyal keberpihakan pada perbaikan. Bahkan kecenderungannya masih saja terjadi penyalahgunaan wewenang yang berkaitan dengan kebijakan, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Contoh paling nyata saat ini adalah bagaimana reklamasi di Jakarta yang memotong peran banyak pihak yang mencoba mengkritisinya. Juga berbagai proyek di Jawa Barat, seperti projek kereta cepat, kawasan perumahan dari Mei Karta sampai ke Wa Lini adalah bukti tidak singkronnya kehendak mayoritas rakyat dengan kebijakan pemimpinnya.

Jamaah Yang Berbahagia

Dimana peran umat Islam dalam kondisi seperti ini sehingga seakan tidak peduli dengan kehancuran masa depan yang terjadi di depan matanya meski dengan jelas ajaran Alquran telah menerangkannya secara gamblang. Peran umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia memang telah termarginalisasi oleh doktrin sesat yang menjauhkan umat dari politik. Akibatnya, manakala politik dikendalikan orang lain yang bukan dari kelompok “khairo ummah” berbagai praktek kecurangan dan kezholiman terjadi tanpa bisa dikendalikan oleh umat Islam.

Islam sebagai agama yang juga dianut oleh mayoritas umat di Indonesia selain sebagai aqidah ruhiyah (yang mengatur hubungan manusia dengan Rabb-nya), juga merupakan aqidah siyasiyah (yang mengatur hubungan antara sesama manusia dan dirinya sendiri). Oleh karena itu Islam tidak bisa dilepaskan dari aturan yang mengatur urusan masyarakat dan negara. Islam bukanlah agama yang mengurusi ibadah mahdloh individu saja.

Berpolitik adalah hal yang sangat penting bagi kaum muslimin. Ini kalau kita memahami betapa pentingnya mengurusi urusan umat agar tetap berjalan sesuai dengan syari’at Islam. Terlebih lagi ‘memikirkan/memperhatikan urusan umat Islam’ hukumnya fardlu (wajib) sebagaimana Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa di pagi hari perhatiannya kepada selain Allah, maka Allah akan berlepas dari orang itu. Dan barangsiapa di pagi hari tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin)”.

 

Oleh karena itu setiap saat kaum muslimin harus senantiasa memikirkan urusan umat, termasuk menjaga agar seluruh urusan ini terlaksana sesuai dengan hukum syari’at Islam. Sebab umat Islam telah diperintahkan untuk berhukum (dalam urusan apapun) kepada apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, yakni Risalah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Firman Allah SWT:

“….maka putuskanlah (perkara) mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…..” (Al-Maidah : 48)

 

“…Barangsiapa yang tidak memutuskan (perkara) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir “. (Al-Maidah :44)

 

Dua ayat di atas dan beberapa ayat lain yang senada, seperti surat Al-Maidah ayat 44,45, 47 dan 49 serta An-Nisaa’ ayat 65 menjelaskan bahwa kaum muslimin harus (wajib) mendasarkan segala keputusan tentang urusan apapun kepada ketentuan Allah, yakni hukum syari’at Islam. Dan dari sinilah kedaulatan umat bisa dibangkitkan sebagai upaya untuk mencegak gerakan yang menghancurkan kedamaian hidup manusia saat ini.

Barokallohu li walakum

Advertisement