13
Sun, Oct

KH M Amin Noer : Kelemahan Umat Islam Karena Gagal Faham Fardlu Kifayah

Oase Iman
Typography

TIBYAN.ID, Bekasi – Pimpinan Yayasan Attaqwa, KH M Amin Noer MA, mengatakan puncak persatuan umat Islam yang terkuat dan indah adalah disaat dipersatukannya kaum Anshor dan Muhajirin di Madinah. Dari persatuan itu terbangun Sulthon yakni menggunakan system khilafah, yang presidennya atau kholifahnya adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Menjawab pertanyaan Tibyan, putra pejuang Pahlawan Nasional ini mengatakan, persatuan umat yang dibina melalui sistem pemerintahan khilafah ini terus berlanjut dengan sangat baik di masa khilafah para sahabat. Tapi, kepentingan Yahudi dan Negara Negara barat kemudian merasa terusik dan mereka kemudian memecah system khilafah ini. Melalui Kamal Attaturk di Turki kekhalifahan Turki kemudian berganti dengan system demokrasi. Inilah kemudian awal kehancuran persatuan umat.

Kalau di Indonesia menurut Kiyai Amin Noer, puncak persatuan umat terkuat di saat organisasi politik dan organisasi massa Islam bersatu dalam wadah politik Masyumi. Saat itu, semua unsur masyarakat Islam berada dalam satu payung persatuan yang sangat indah, kuat dan solid sampai akhirnya terjadi pelemahan internal yang ditandai dengan keluarnya NU dari tubuh Masyumi.

Persatuan umat tidak terjadi begitu saja. Seorang pemimpin, dalam hal ini Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membangun umat menjadi sebuah kekuatan yang kokoh dengan jalan persatuan. Yakni diawali dari dipersatukannya kekuatan muhajirin dan anshor di awal periode Madinah, alias fase kedua perjuangan dakwah Islam.

Jadi kalau sekarang ini dikeluhkan terjadi pelemahan umat Islam di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia, karena pemimpin umat saat ini tidak lagi mampu membangun kesatuan dan persatuan yang kokoh. Kita dilemahkan oleh situasi yang tidak mampu kita antisipasi.

“Nabi Muhammad telah mencontohkan kepada ummatnya, dalam melaksanakan perintah Allah perlu menyiapkan semua kekuatan, terutama dalam menghadapi tantangan yang datang dari musuh-musuh Islam,” kata KH M Amin Noer MA, pimpinan Yayasan Attaqwa Ujungharapan Bekasi.

DUA KEKUATAN

Dalam membangun kejayaan umat Islam, Nabi Muhammad telah jelas memberikan contoh keberhasilannya melalui dua hal. Pertama Nabi membangun kekuatan moral pengikutnya. Kekuatan moral yang dimaksud adalah Iman dan ibadah. Ini pondasi, landasan yang kalau diibaratkan bangunan.

Kekuatan moral ini adalah fase pertama membangun ketahanan umat. Bagaimana mereka meyakini adanya kekuatan yang absolut, yakni Allah Ta’ala. Dalam hal ini adalah pendidikan iman dan Islam. Mereka diajarkan tentang Tuhan dan ajaran ajaran teologinya. Fase ini terjadi di Makkah. Disebut pembinaan periode Mekkah.

Fase kedua adalah pembangunan kekuatan pasca Mekkah, yakni setelah berhijrah dan Nabi membangun dari basis Madinah. Di sini Nabi membangun kekuatan umat pada fase professional. Urusan Iman dan Islamnya alias kewajiban dasarnya, atau fardhu ‘ainnya, sudah dianggap tuntas. Selanjutnya, di Madinah Nabi mempersatukan kekuatan Anshor dan kekuatan Muhajirin.

Betapa persatuan mereka adalah persatuan yang sangat kuat. Yang punya harta, berbagi dengan hartanya. Yang punya ternak berbagi ternaknya. Bahkan salah seorang sahabat Anshor rela menceraikan isterinya agar bisa dinikahi oleh saudaranya yang berhijrah. Subhanalloh.

Nah dari dua kekuatan yang terpadu antara kaum Muhajirin dan Anshor inilah kemudian Nabi membangun sistem khilafah, dan nabi Muhammad sebagai pemimpinnya, yakni khalifah alias Presiden. Saat itulah kekuatan umat Islam terbangun atas dasar mahabbah yang sangat dalam.

Pada fase Madinah ini pula Nabi Muhammad memperkuat pertahanan untuk melawan bila ada serangan musuh dengan menciptakan Sulthon. Dengan persatuan Muhajirin dan Anshor inilah secara depacto terbentuk satu Negara. Maka sebagai pemimpin negara Nabi membuat aturan dan Undang-undang sehinngga terwujud umat yg asyidda alal kuffar ruhama bainahum, yakni kekuatan yang tegas kepada kaum kafir dan penuh cinta dan kasih sayang sesamanya.

Realitas ini ditandai dengan dilaksanakannya prinsip-prinsip keadilan yang tidak pandang bulu. Sampai sampai beliau berkata, “Seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri akan aku potong tangannya,” kata Muhammad dalam kapasitasnya sebagai Presiden saat itu. Islam menegakkan keadilan dengan prinsip tidak tebang pilih.

WhatsApp Image 2019 09 24 at 08.58.01

MAMPU MELAWAN

Dengan persatuan yang kuat dan keadilan yang tidak tebang pilih Nabi Muhammad mampu melawan setiap serangan musuh yang datang menyerang umat muslim. Mulai dengan Perang Badr 1 dan 2, Perang Khondaq, Perang Uhud dan seterusnya sampai nabi wafat, persatuan umat atau negara terus berlanjut di dalam berbagai proses pemilihan pemimpin baru dalam memilih presiden. Dengan istilah Kholifah, diawali dengan Kholifah Abu Bakar, Kholifah Umar, Kholifah Usman dan Kholifah Ali dan seterusnya sampai Kholifah Uthman di Turki, persatuan terus terjaga dengan baik.

Saat itu tak ada satu kekuatan pun yang bisa melumpuhkan kekuatan Islam. Sampai akhirnya pada tahun 1924 Yahudi berhasil memporak-porandakan persatuan Islam. Caranya, Yahudi menghilangkan sistem Kholifah dan menggantinya dengan sistem Presiden melalui pengkaderan Kamal Attaturk di Turki.

Kamal menggulingkan Kholifah terakhir di Turki yaitu kholifah Abdul Hamid dan mengganti system pemerintahannya dengan Sistem Presiden. Seluruh Negara Islam tidak bersatu lagi dan masing2 berdiri sendiri. Dari sinilah kekuatan negara Barat dibawah politik Yahudi mencaplok satu demi satu negara Islam.

Mesir, Palestine, Pakistan, dijajah Inggris. Libya dijajah Italy. Aljazair dijajah Prancis. Dari sinilah Negara - negara Barat dan Yahudi berketetapan untuk menghancurkan setiap ada persatuan ummat Islam, termasuk di Indonesia, yang mulai menjadikan prinsip prinsip kekhilafahan.

Perasatuan umat Islam yang sangat kokoh, yang dibangun oleh KH.Hasyim Asy’ari melalui kekuatan partai Islam yang bernama Masyumi, sebagai sebuah partai yang merupakan pusi dari seluruh Partai dan Ormas Islam, juga ikut menjadi sasaran untuk dihancurkan dari dalam.

KH Hasyim Asy’ari tidak mengkoptasi sendiri Masyumi. Terbukti dalam masa kepemimpinannya Masyumi pernah dipimpin oleh seluruh elemen kekuatan umat. Ketua pertama adalah putranya KH.Wahid Hasyim kemudian terpilih yang kedua M. Nasir, lalu Prawoto dst.

Fenomena ini mencemaskan musuh Islam. Lagi lagi Barat dan Non Muslim tidak rela Islam bersatu. Maka dibujuklah NU untuk keluar dari Masyumi, maka pada tahun 1952 keluarlah NU dari Masyumi. Akhirnya terbentuklah poros Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) sebagai poros kekuatan politik baru Presiden Soekarno.

Masyumi jelas menentangnya dan harus menanggung resiko dibubarkan oleh Soekarno. Sejak saat itulah awal kehancuran persatuan umat muslim di Indonesia. Terjadilah Gestapu tahun 1965 semakin mempertegas kehancurannya. Sejak pecah peristiwa politik tahun 1989, terbentuklah stigma terorisme yang dilekatkan ke dalam umat Islam. Umat Islam dicap sebagai teroris, radikalis.dan ekstrimis.

“Ini sekilas sejarah agar kita tahu apa dan siapa di balik hancurnya persatuan umat Islam di Indonesia,” kata KH M Amin menegaskan.

Menjawab pertanyaan, KH M Amin menegaskan penyebab pertama karena menurunnya terus kekuatan persatuan di kalangan umat Islam sejak runtuhnya kekhalifahan di Turki. Disamping tidak fahamnya umat atas pengertian Fardlu Kifayah. Menurutnya, semua kekuatan non muslim menghancurkan Islam dengan prinsip dasar Fardlu Kifayah.

Apa itu Fardlu Kifayah, sebagian besar orang Islam saat ini hanya memahaminya sebagai sholat janzah, makna yang sempit. Sementara non muslim memahaminya dengan benar, yakni fardlu kifayah itu adalah Profesionalisme. 

Jadi karena salah memahami Fardlu Kifyah maka profesionalitas umat Islam di bidang keilmuan dan kemajuan peradaban jauh tertinggal. Umat Islam tidak memiliki profesi yang mampu mempertahankan eksistensinya sebagai umat yang mayoritas. Nasibnya selalu terombang ambingkan di antara kekuatan musuh dan para penghancur Islam. (mai)