25
Wed, Nov

Menghadapi Tantangan Zaman: Saatnya Berhimpun dan Tinggalkan Kerumunan

Presiden PKS Ahmad Syaikhu

Oase Iman
Typography
TIBYAN.ID - Di awal khutbah ini, saya mengutip sebuah pengakuan dari Paul Kennedy dalam bukunya The Rise and Fall of the Great Powers (1987). Tulis dia:
 
“Selama berabad-abad sebelum tahun 1500 M, Dunia Islam sudah lebih dulu maju dibanding Eropa di bidang peradaban dan teknologi. Pada bidang matematika, pemetaan, pengobatan dan banyak bidang ilmu serta industri pabrik pemintalan, pengecoran laras senjata, mercusuar, peternakan kuda kaum muslim menikmati keunggulannya.”
 
Pengakuan ini mengkonfirmasi bahwa dalam sejarahnya, Islam telah mewarnai peradaban dunia. Di masanya, Islam mengalami  sebuah era gilang gemilang dengan motor penggeraknya adalah Nabi Muhammad SAW.
 
Kunci keberhasilan Rasulullah SAW membangun generasi emas adalah integritas. Beliau memberikan teladan dalam banyak hal. Akhlaknya begitu mulia. Sikap dan perilakunya terjaga. Lisannya penuh hikmah dan kelembutan. 
 
Sosok penuh integritas semacam ini yang membuat umat mencintainya. Bersedia mengikuti tanpa syarat. Umat menjadi himpunan yang kokoh, bukan sebuah kerumunan. 
 
Lalu mengapa Umat Islam mundur? Jawabnya : karena integritas yang diajarkan oleh Rasulullah SAW terkikis oleh ALWAHNU. Para sahabat bertanya apa itu ALWAHNU ya Rasulullah? Jawab Rasul : HUBBUD DUNIA WA KAROHIYYATUL MAUT (Cinta dunia dan takut mati). Orang cinta dunia akan serakah, tidak pandang halal haram. Yang penting kepentingan sendiri terpenuhi. Tak peduli masyarakat dan bangsanya sendiri merugi. Demikian halnya dengan orang yang takut mati agak hidup lebih pragmatis dan meninggalkan semangat juang. Sehingga eksistensi keberadaannya tidak menambah bobot kaum Muslimin. Rasulullah SAW jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita dengan sabdanya :
 
ﻳُﻮﺷِﻚُ ﺍﻷُﻣَﻢُ ﺃَﻥْ ﺗَﺪَﺍﻋَﻰ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺪَﺍﻋَﻰ ﺍﻷَﻛَﻠَﺔُ ﺇِﻟَﻰ ﻗَﺼْﻌَﺘِﻬَﺎ » . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻗَﺎﺋِﻞٌ ﻭَﻣِﻦْ ﻗِﻠَّﺔٍ ﻧَﺤْﻦُ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻗَﺎﻝَ « ﺑَﻞْ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻛَﺜِﻴﺮٌ ﻭَﻟَﻜِﻨَّﻜُﻢْ ﻏُﺜَﺎﺀٌ ﻛَﻐُﺜَﺎﺀِ ﺍﻟﺴَّﻴْﻞِ ﻭَﻟَﻴَﻨْﺰِﻋَﻦَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣِﻦْ ﺻُﺪُﻭﺭِ ﻋَﺪُﻭِّﻛُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻬَﺎﺑَﺔَ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﻟَﻴَﻘْﺬِﻓَﻦَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓِﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻜُﻢُ ﺍﻟْﻮَﻫَﻦَ » . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻗَﺎﺋِﻞٌ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﻮَﻫَﻦُ ﻗَﺎﻝَ « ﺣُﺐُّ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻛَﺮَﺍﻫِﻴَﺔُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ » ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ
 
“Hampir tiba masanya bangsa-bangsa saling mengajak untuk (mengalahkan) kalian sebagaimana sekumpulan orang saling mengajak (untuk memakan makanan) di talamnya. “Apakah karena kita sedikit pada waktu?” Seseorang bertanya. “Bahkan kalian banyak, tapi kalian buih seperti buih banjir. Dan Allah mencabut rasa gentar dari hati musuh kalian. Dan Allah menanamkan al-Wahn di hati kalian. “Apa itu al-Wahn wahai Rasulullah?” tanya seseorang. “Senang dunia dan takut mati,” jawab Rasulullah saw.
 
 
Tantangan Zaman Revolusi Industri 4.0
 
Hari ini, dunia mengalami perubahan yang begitu masif dan cepat. Teknologi berkembang dahsyat yang mengakibatkan berubah pula budaya masyarakat dunia. Kita mengenal era ini dengan nama 4.0.
 
Revolusi industri 4.0 merupakan konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh ekonom asal Jerman, Profesor Klaus Schwab dalam bukunya yang bertajuk “The Fourth Industrial Revolution”. Klaus mengungkapkan empat tahap revolusi industri yang setiap tahapannya dapat mengubah hidup dan cara kerja manusia. Revolusi industri 4.0 merupakan tahap terakhir dalam konsep ini setelah tahapan pada abad ke-18, ke-20, dan awal 1970.
 
Perubahan dari fase ke fase memberi perbedaan yang signifikan. Dimulai dari fase pertama (1.0) yang bertumpu pada penemuan mesin yang bertumpu pada mekanisasi produksi. Fase kedua (2.0) sudah beranjak pada etape produksi massal yang terhubung dengan quality control dan standarisasi. Fase ketiga (3.0) memasuki tahap keseragaman secara massal yang bertumpu pada integrasi komputerisasi. Fase keempat (4.0) kini menghadirkan digitalisasi dan otomisasi perpaduan internet dengan manufaktur. 
 
Singkatnya, era 4.0 membuat dunia semakin mengecil. Terjadi digitalisasi dalam banyak aspek kehidupan. Serba cepat dan instan serta terintegrasi dalam balutan teknologi digital.
 
 
Saatnya Berhimpun, jangan terus berkerumun
 
Hobi berkerumun yang kita miliki sudah saatnya ditinggalkan. Umat Islam harus segera berhimpun. Dan itu diawali oleh para pemimpinnya. Berbeda dengan berkerumun, jika kita berhimpun maka kita akan memiliki kekuatan yang dahsyat. 
 
Agenda kerja kita tak bersifat jangka pendek, tapi berjangka panjang dan berkesinambungan. Sifatnya pun tak pragmatis, namun sistematis dan strategis. Ikatan emosional akan tercipta sehingga jalinan tali ukhuwah akan terikat dengan kuat. Terakhir, dengan berhimpun kita akan teratur dan rapi karena memiliki pemimpin yang memiliki otoritas untuk mengatur.
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang d jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Asf Shaf: 4)
 
Untuk menghadirkan kesadaran dan semangat berhimpun tentu saja tidak mudah. Era 4.0 membuat kita semakin berjarak antar sesama manusia. Tapi satu kata kuncinya: integritas. Seperti yang telah ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW. 
 
Tantangan zaman hari ini memang tak mudah. Apalagi di masa pandemi Corona saat ini. Namun dengan kesadaran untuk berhimpun, maka umat akan mampu melewati tantangan ini. Dan tugas para pemimpin umat untuk memberi contoh dengan integritasnya.