28
Tue, Sep

Memeringati Tahun Baru Dalam Perspektif Islam. Fenomena Sosial Mengalahkan Ajaran Agama

*Ilustrasi Pesta Kembang Api Tahun Baru, Photo : ANTARA/Wahyu Putro

Oase Iman
Typography

Oleh : Dr. KH. Zamakhsyari Abdul Majid, MA
Ketua Umum Majelis Mudzakarah Ulama Bekasi Raya
(MAJMU BEKAS RAYA)

TIBYAN.ID - Perayaan malam pergantian tahun dewasa ini bisa dikatakan sebagai sebuah tradisi global yang dipraktekkan oleh hampir semua kalangan dari seluruh penjuru dunia. Semua lapisan masyarakat lintas segmentasi geografis dan strata sosial larut dalam sukacita menghabiskan waktu semalam penuh dengan berbagai aktifitas yang menghibur dan suasana kebersamaan. Namun, di balik semua hingar bingar perayaan tersebut tak jarang pula mengundang kegundahan berupa benturan konsepsional, normative bahkan ideologis. Budaya perayaan tahun baru yang nota bene berasal dari Barat dan secara historis lekat dengan tradisi yang sedikit banyaknya menimbulkan pertanyaan seputar “kepantasan” merayakannya di benak masyarakat yang berada di luar batas kedua tradisi tersebut.

 

Di Indonesia khususnya, malam pergantian tahun dirayakan dengan berbagai kegiatan yang mafsadh-nya jauh lebih besar daripada manfaatnya dan tidak sedikit ditemukan praktek penyimpangan-penyimpangan yang dilarang Agama. Sebagai contoh, perayaan tersebut dilakukan dengan meniupkan terompet secara bangga dan suka cita, membakar kembang api yang memiliki kesan indah dan modern, bahkan yang lebih parah lagi moment ini dilakukan dengan perbuatan-perbuatan maksiat (minum-minuman, seks bebas, menggunakan narkoba) yang jelas dilarang oleh syariat agama Islam. Terlebih di tahun ini merupakan tahun wabah yang keberadaan virus Covid-19 yang melanda negara kita, jika perayaan ini tetap dilakukan, maka kecenderungan untuk berkumpul dan berkerumun akan sulit dihindari.

 

Pergantian malam tahun baru memang merupakan peristiwa yang biasa dan akan terus terjadi. Tetapi bagi sebagian masyarakat mungkin malam pergantian tahun merupakan saat yang dinanti-nanti karena akan sangat menyenangkan dan membahagiakan, namun tidak semua masyarakat beranggapan seperti itu masih ada sebagian masyarakat yang memikirkan bagiamana kondisi pada tahun depan. Karena mereka sadar bahwa sesuatu pasti akan berakhir maka lebih baik menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya daripada menghabiskan waktu dengan terbawa euforia hanya untuk menyambut tahun baru.

 

Sebagai bangsa yang majemuk, ummat muslim tidak melarang bagi warga negara yang ingin merayakan dengan suka cita sesuai dengan ajaran dan keyakinanya. Namun para prinsipnya, agama Islam memiliki nilai dan ajaran yang dengan jelas melarang perayaan tersebut terlebih perayaan yang jauh dari nilai-nilai ketuhanan. Sehingga moment ini perlu juga memerlukan kesadaran bagi seluruh warga negara khususnya bagi umat beragama untuk saling menghormati dan menghargai ajaran dan nilai-nilai Islam yang terkandung didalamnya.

 

Fenomena sosial pada perayaan malam tahun baru masehi bukan sesuatu hal yang baru, karena sejatinya perayaan ini memiliki kecenderungan yang merugikan. Sebaiknya perayaan yang hanya bersifat seremonial ini kita perbaiki dan berubah menjadi perayaan teological. Fenomena dan tantangan ini sesungguhnya bukan hanya terkait dengan Muslim tetapi juga terkait dengan ajaran agama lain. Menjadi tugas para ulama dan pemimpin masyarakat agar perayaan tahun baru tersebut berjalan secara positif dan Indonesia sebagai masyarakat yang mayoritas Muslim tentu harus memasukkan nilai-nilai keIslaman dalam peringatan tersebut.

 

Ada hal positif lain yang dapat dilakukan yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT yaitu seperti berdoa, berzikir, dan bertahlil serta bermuhasabah, mengkhatamkan Al-Quran dan memanjatkan doa agar Indonesia dijauhkan dari musibah, bencana, perpecahan konflik yang disebabkan karena segmentasi politik, peningkatan kemiskinan disebabkan karena resesi ekonomi, dan kita sama-sama berdoa kepada Allah agar memberikan kekuatan secara total untuk bangsa Indonesia untuk dapat keluar dari wabah Covid-19. Hal ini sangat positif karena kita akan merasakan kebersamaan bersama keluarga, kerabat, dan teman dan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai renungan bahwa hidup didunia hanyalah sementara.

 

Secara alamiah proses nilai-nilai Islam dan agama umumnya tersebut sudah mulai berjalan. Di luar hiruk-pikuk bunyi petasan dan kembang api, kini mulai tumbuh tradisi baru dengan berdzikir di berbagai masjid yang diikuti dengan pemberian wejangan oleh para dai sampai dengan tengah malam. Tradisi baru inilah yang harus didorong agar semakin cepat berkembang untuk mengarahkan energi masyarakat dalam memperingati tahun baru secara positif.

 

Karena sifatnya yang berulang setiap tahun, maka ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan Majelis Mudzakarah Ulama Bekasi Raya (MAJMU) khususnya yang memiliki jejaring sampai ke level bawah bisa berkoordinasi mengajak umat untuk meramaikan masjid, mushalla, dan tempat-tempat lainnya dengan hal-hal yang positif. Para pemimpin pemerintahan yang berasal dari berbagai latar belakang kelompok keislaman tersebut juga bisa diajak memperingati momentum ini dengan perayaan yang lebih positif yang kini sudah dimulai dilakukan di beberapa tempat dengan tetap berpedoman pada protokol kesehatan.