18
Wed, Sep

LGBTQ Mulai Masuk Ke Film - Film Kartun

foto : KVUE.com

Wawasan
Typography

TIBYAN.ID - Oleh : Pundra Rengga Andhita, Pengajar di Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. 

Nicole and I thought this was a great opportunity to organically introduce an LGBTQ couple in the series, and we asked Hasbro and they approved it.’’ (Michael Vogel).

Itulah pernyataan yang diungkapkan penulis dan produser, Michael Vogel menjelang beredarnya episode The Last Crusade dari film kartun My Little Pony: Friendship is Magic.

Sebuah film yang mengisahkan pertemanan enam karakter perempuan, produksi Hasbro Studios Amerika Serikat. Seperti dilansir situs daring People, episode ini memperkenalkan Aunt Holiday and Auntie Lofty sebagai pasangan lesbian yang merawat karakter Scootaloo.

Popularitas telah mendorong distribusi film ini menjadi semakin meluas di berbagai pasar internasional. Seiring perkembangan internet, My Little Pony dapat ditonton tidak hanya melalui layar televisi, tetapi juga situs daring, seperti Youtubedan lainnya.

Di Indonesia, film ini sudah mulai tayang sejak tahun 2016 melalui salah satu televisi nasional. Tampilan visual yang didominasi warna pastel berhasil melahirkan interaksi intens antara anak-anak dan tayangan ini.

Film kartun memang telah menjadi bagian panjang dari perjalanan sinematografi. Pada era modern, film kartun kerap menjadi pilihan orang tua untuk ditontonkan ke anak, baik itu batita, balita, maupun usia lanjutnya.

Tidak sedikit orang tua yang memberikan akses televisi atau gawai untuk anak guna mengakses film kartun. Niatnya mungkin baik, hendak memberikan hiburan atau sekadar pengalih perhatian bagi anaknya.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ghilzai, Alam, Ahmad, Shaukat, dan Noor (2017), ada tiga hal yang didapatkan anak-anak dengan menonton film kartun, yakni kesenangan (41 persen), tindakan (23 persen), dan belajar (17 persen).

Ya, film kartun memang tidak hanya menyajikan fungsi hiburan, tetapi juga informasi dan edukasi. Film kartun bisa menjadi salah satu medium pembelajaran sosial yang efektif bagi anak.

Namun, yang menjadi persoalan adalah muatan pesan apa yang terdapat dalam film tersebut. Ini penting karena anak merupakan plagiator yang baik.

Pesan yang disampaikan melalui film kartun bisa dengan mudah diterima oleh anak tanpa mempertimbangkan layak dan tidaknya. Semakin tinggi intensitas menonton maka semakin besar peluang mereka untuk mengingat pesan dalam film tersebut.

Nantinya, ingatan ini tidak mengendap sementara. Ingatan akan melekat seiring perkembangan usia dan menjadi acuan mereka untuk melihat kehidupan nyata seperti apa yang ada dalam film. Ini yang perlu menjadi perhatian.

Film bukan hanya menyajikan unsur sinematik melainkan juga unsur naratif yang memuat pesan tertentu. Muatan pesan sering kali terkait dengan kepentingan yang ingin disampaikan pembuatnya.

 

Kepentingan itu berasal dari realitas luar film yang dirangkai melalui narasi, karakter, dan elemen fiksi lainnya.Terkesan samar tetapi jika diperhatikan dengan saksama akan tersirat pesan apa yang hendak disampaikannya.

Dalam perspektif komunikasi massa, film sebagai salah satu saluran media massa, mampu memberikan pengaruh yang ekstensif dalam waktu singkat. Pengaruh itu memiliki potensi penerimaan yang besar jika audiensnya pasif.

Hal yang perlu diketahui, anak merupakan tipologi audiens pasif yang cenderung lebih mudah menerima pesan dalam film. Kesadaran intelektualitas, sosial, dan spiritualitas yang belum memadai, membuat mereka belum bisa melakukan negosiasi terhadap pesan yang diterimanya.

Kemudahan penerimaan anak terhadap narasi film tidak terlepas dari penyajian unsur sinematik yang menarik, seperti tampilan latar, warna, suara, kostum, make up, karakter, pergerakan karakter, dan lainnya.

Unsur itu tentu dibangun sedemikian rupa agar mampu menjadi pesan persuasif yang menarik perhatian anak. Lebih lanjut, perpaduan narasi dan unsur sinematik yang didukung oleh intensitas menonton akan menciptakan dependensi anak terhadap film.

Efek jangka panjangnya bisa memengaruhi pembentukan sikap dan perilaku mereka pada masa mendatang, meniru seperti apa yang ada di dalam film.

My Little Pony bukanlah film kartun pertama yang menampilkan narasi LGBTQ (lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer). Ada beberapa film kartun lain yang pernah menampilkan hal serupa, seperti Beauty and The Beast (2017), Finding Dory, dan Doc McStuffin.

Ada yang menampilkannya secara jelas, tetapi ada juga yang hanya terselip di beberapa framenya. Kedetailan ini yang perlu menjadi perhatian orang tua. Pembentukan sikap dan perilaku anak tidak hanya bergantung pada lingkungan, tetapi juga media yang diaksesnya.

Oleh karena itu, selektivitas memegang peran penting. Sebijaknya, orang tua jangan mudah begitu saja memberikan asupan hiburan pada anak.

Orang tua harus mampu berperan sebagai audiens aktif, memperhatikan dengan saksama muatan pesan apa saja yang tersembunyi di dalam film kartun. Jika ada potensi ketimpangan nilai yang tidak sesuai dengan norma masyarakat, sebaiknya mengganti film kartun dengan media hiburan lain.

Belakangan ini, narasi LGBTQ seperti tenggelam tertelan bumi tergantikan dengan isu politik nasional yang tidak berkesudahan. Padahal, isu ini sepadan gentingnya karena menyangkut masa depan generasi muda Indonesia.

Kontestasi politik nasional yang ada sebaiknya tidak mengesampingkan perhatian masyarakat, media, dan pemangku regulasi terhadap isu sosial lain. LGBTQ tidak pernah berhenti untuk menyasar anak.

Pesannya disampaikan secara halus melalui berbagai media. Kehadiran isu ini di masyarakat, perlu dimunculkan secara berkesinambungan sebagai ihwal kegentingan yang mendesak. Jangan sampai anak kita memberikan sumbangsih bagi peningkatan penerimaan LGBTQ pada masa mendatang. Naudzubillah.

 

Sumber : Republika