06
Mon, Apr

Gelar Doktor Untuk H. Abid Marzuki

Foto : Possore

Wawasan
Typography

TIBYAN.ID - Ketika aku membaca di sosial media, bahwa H. Abid Marzuki, mendapat gelar doktor, yang pertama terucap dari bibirku adalah "Alhamdulillahi robbil 'alamin".

Mengapa itu yang terucap? Karena Ustadz Abid Marzuki, begitu kami memanggilnya sehari - hari di Islamic Centre Bekasi, layak menyandang gelar itu. Baik ditinjau dari aktivitasnya sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi di Bekasi maupun aktivitas sosialnya di masyarakat.

Saya sangat yakin dan haqqul yakin, ia sangat layak menerima gelar doktor karena keilmuannya. Bukan karena penghormatan sebagaimana layaknya pejabat negara menerima gelar doktor dari perguruan tinggi karena perguruan tingginya cari muka kepada penguasa. Padahal pejabat negara yang dianugerahi doktor tak memiliki kapasitas kelimuan.

Berbeda dengan Ustadz H. Abid Marzuki yang dianugerahi doktor oleh Universitas Negeri Jakarta. Ia memperoleh itu tidak ujug ujug, kata orang Bekasi, tapi gelar doktor itu ia peroleh lewat jenjang keilmuan lewat pendidikan yang ia tempuh, termasuk saat ia menimba ilmu di negeri jiran Malaysia.

Aku mengenal betul ustadz Abid Marzuki. Paling tidak ada dua kali kami melakukan penelitian di Bekasi. Yang pertama saat kami melakukan penelitian tentang pencemaran 10 sungai yang di Bekasi dan dampaknya kepada masyarakat Bekasi. Hasilnya cukup mencengangkan. 10 sungai sudah tercemar dengan limbah B3, berupa logam berat dan mercury. Mercury bisa bersenyawa dengan ikan dan tumbuh tumbuhan yang ada di sisi sungai. Jika masyarakat memakan ikan yang terkontaminasi mercury maka dalam tempo 20 tahun masyarakat bisa terserang penyakit kanker kulit, ( tentu ini masih perlu penelitian lanjut). Hasil penelitian itu sempat di Jadikan Bappeda kabupaten Bekasi sebagai bahan rujukan untuk mengambil kebijakan.

Kami juga pernah melakukan penelitian tentang Kondisi Ekonomi masyarakat pesisir Utara Bekasi. Dalam penelitian itu, kami kerjasama dengan Pusat Peran serta Masyarakat (PPM), sebuah LSM yang didirikan Adi Sasono (almarhum).

Dari hasil penelitian itu ditemukan masyarakat yang miskin yang kami istilahkan saat itu sebagai " Kemiskinan terstruktur" Artinya kemiskinan itu berlangsung secara turun temurun, mulai dari kakek hingga ke buyut.

" Kemiskinan terstruktur terjadi akibat kebodohan karenan tak mendapat pendidikan. Sementara kebodohan akibat kemiskinan yang mengakibatkan tak mampu menyekolahkan dan mendidik anaknya".

Hasil penelitian itu, sempat menjadi rujukan bagi pengambil kebijakan oleh Pemda Bekasi, bahkan nasional yang mendorong PPM menggulirkan dana Program Pemberdayaan Masyarakat pesisir, dibagian utara Bekasi.

Aku bangga, akhirnya Ustadz Abid Marzuki meraih gelar doktor. Meski demikian, tak ada artinya gelar doktor jika ilmunya tak bermanfaat bagi masyarakat. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bagaikan pohon yang akarnya menancap ke dalam tanah pohonnya menjulang tinggi ke angkasa, daun rindang, dan lebat serta buahnya banyak yang memberi banyak manfaat kepada orang banyak. Selamat meraih titel doktor. Semoga ilmunya bermanfaat untuk orang banyak.(Imran Nasution)