Top Stories

Grid List

Oleh Inayatulloh Hasyin, dosen di Fakultas Hukum Universitas Djuanda, Bogor.

الله اكبر… الله اكبر… الله اكبر… لااله الاالله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد

َاللهُ اكبَر كَبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا, لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه, مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن, وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون, وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن, وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن, لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه, صَدَق ُوَعْدَه, وَنَصَرَ عبْدَه, وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه, لاالهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر, اللهُ اكبَرُ وَِللهِ الحَمْد

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، الحمد لله الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى محمد وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَا بَعْدُ؛

Segala puji bagi Allah, yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat hamba-hambanya, Maha suci Allah, Dia-lah yang menciptakan bintang-bintang di langit, dan dijadikan padanya penerang dan Bulan yang bercahaya. Maha Suci Allah yang tiada apapun di seluruh jagat semesta ini terjadi kecuali atas kehendak dan pengetahuan-Nya.

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ (59)

Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS Al-An’am: 59)

Maka, tak ada kesombongan apapun di hadapan Allah SWT. Bukanlah penyair Allama Iqbal menulis dalam Payame Mashriq:

شہید ناز او بزم وجود است
نیاز اندر نہاد ہست و بود است
نمی بینی کہ از مہر فلک تاب
بہ سیمای سحر داغ سجود است

Semesta berada di bawah kekuatan-Nya
Dimana segala hal terciptak untuk sujud.
Bahkan matahari itu terbit tak lain adalah tanda
sujud panjang di atas kuasa-Nya

Kesombongan Fir'aun berakhir hanya dengan air. Dia pun tenggelam di tengah lautan. Keserakahan Qarun tamat hanya dengan lumpur. Dia pun ditelan bumi. Peradaban bangsa Tsamud (kaum Nabi Shaleh) berakhir dilumat petir. Kemajuan peradaban bangsa 'Ad (kaum Nabi Hud) tamat riwayatnya dimangsa angin. Dan keperkasaan pasukan Abrahah luluh lantak hanya dengan kerikil batu-batu kecil.

Orang mengaakan, kain terindah adalah sutera. Ia diproduksi oleh ulat. Makanan terbaik adalah madu. Ia diproduksi oleh lebah. Perhiasan paling spesial adalah mutiara, dan ia dihasilkan oleh kerang. Kesombongan apa yang patut kita banggakan di hadapan Allah ketika semua yang istimewa itu dihasilkan oleh makhluk-makhluk kecil ciptaan-Nya.

Subhanallah, hanya Allah yang pantas sombong sebab Dia-lah Al-Qahhar dan Al-Jabbar sementara kita, umat manusia, sangatlah lemah, bahkan ketika mata kita terpapar debu pun kita memerlukan bantuan orang lain untuk meniupnya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang diutus dengan risalah kebenaran, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, mengajak pada kebenaran dan menerangi umatnya dengan cahaya keimanan.

Ya Allah, jadikanlah kecintaan kami kepada Rasulallah SAW bagaikan Abu Bakar yang menangis bahagia saat diizinkan Rasulallah SAW untuk menemaninya dalam berhijrah ke Madinah.

Aisyah (RA) berkata,

فَرَأَيْت أَبَا بَكْر يَبْكِي , وَمَا كُنْت أَحْسَب أَنَّ أَحَدًا يَبْكِي مِنْ الْفَرَح

Maka, aku melihat Abu Bakar menangis, dan aku tak pernah mengira ada seseorang yang menangis sedemikian hebatnya karena bahagia.

Ya Allah, jadikanlah cinta kami kepada Rasulallah sekuat Thalhah bin Ubaidillah yang dalam perang Uhud membela Rasulallah SAW hingga ke atas bukit Uhud dan menyababkan tangannya buntung disabet pedang. Namun, berbahagialah Thalhah bin Ubaidillah, sebab Rasulallah SAW telah menjanjikannya satu di antara "sepuluh orang langsung masuk surga".

Dalam satu hadits, Rasulallah SAW bahkan mengatakan,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى شَهِيدٍ يَمْشِي عَلَى رِجْلِهِ ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ

barangsiapa yang ingin melihat seorang syahid dan masih jalan dengan kedua kakinya (di atas muka bumi), lihatlah pada Thalhah.

Maka itu, setiap kali disebut perang Uhud, Abu Bakar mengatakan, perang itu milik Thalhah.

Ya Allah, meskipun kami ini awam dengan agamamu, namun doa kami, jadikanlah kami penyambung risalah perjuangan Rasulallah SAW hingga tidak ada umat manusia di muka bumi ini yang tidak tahu keagungan dakwah dan risalahnya.

Maka, jadikanlah perjuangan kami seperti Iqbal yang berkata,

إنْ كَانَ لِيْ نَغْمُ الْهُنُودِ وَدِنٍهم *لَكِنْ ذَاْكَ الصَوْتِ مِنْ عَدْنَانِ

Meskipun dalam darahku mengalir keturunan India * tetapi suaraku adalah penyampai keturunan Adnan (Rasulallah SAW)

الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد

Hadirin kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Maka, pada pagi yang indah ini, saat kumandang takbir bersahutan dengan kicauan burung dan gemericik rahmat ampunan dari Allah SWT, saya selaku khatib, pertama-tama ingin mengajak hadirin sekalian untuk meningkatkan taqwa kepada Allah SWT. Taqwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Izinkanlah saya selaku khatib dalam khutbah yang singkat ini menyambaikan khutbah berjudul, “Idul Fitri dan dan Peradaban Islami”.

Ketika Rasulallah SAW berhijrah ke Madinah, beliau SAW mendapati orang-orang berpesta dalam dua hari. Rasulallah SAW bertanya, "Hari apa ini?" Para penduduk Madinah itu menjawab, "Kami dulu berpesta dalam dua hari ini". Rasulallah SAW kemudian bersabda,

قدابدلَكم اللهُ تعالَى بِهِمَا خيرًا مِنْهُمَا يومَ الفطرِ ويومَ الأَضْحَى

Sungguh, Allah SWT telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik dari padanya Idul Fitri dan Idul Adha.

Sejak peristiwa itu, atau tepatnya pada tahun kedua hijriyah, umat Islam menunaikan shalat Idul Fitri di Madinah. Rasulallah SAW kemudian bertindak selaku imam dan khatib shalat Idul Fitri tersebut. Semua pemimpin besar ingin menciptakan peradaban. Tetapi tak ada yang mampu menciptakan peradaban par-excellence seperti Rasulallah SAW.

Secara ilmu fiqh, ulama kemudian berbeda pendapat tentang tata cara menunaikannya. Dalam madzhab Syafii, shalat Idul Fitri ditunaikan dengan tujuh takbir di rakaat pertama, setekag takbiratul ihram, dan lima takbir di rakaat kedua. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatlan oleh Imam Tirmidzi dan Ibn Majjah bahwa Nabi SAW bertakbir pada dua shalat 'Id dengan tujuh takbir di rakaat pertama sebelum membaca (alfatehah) dan lima takbir di rakaat kedua (juga sebelum membaca al-fatehah).

Tetapi, dalam madzhab Hanafi, shalat Idul Fitri ditunaikan hanya dengan tiga takbir di rakaat pertama setelah takbiratul ihram dan tiga takbir di rakaat kedua setelah membaca al-fatehah dan surah lainnya. Madzhab Hanafi kini dianut oleh saudara-saudara muslim kita di negara lain seperti Turki, Afghanistan, Pakistan dan sebagian Mesir.

Ikhtilaf fiqhiyah itu menunjukan keragaman pemahaman dalam Islam. Namun, keragaman itu tidak pernah boleh keluar dari bingkai ukhuwah atau persaudaraan. Di tengah gencarnya arus informasi instan saat ini, kadang kita mudah menuduh seseorang atau suatu kelompok sebagai bid’ah tanpa pernah mempelajari sebab-sebab perbedaan dalam ibadah.

الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد

Hadirin kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari peristiwa Idul Fitri yang mulai dilakukan Rasulallah SAW di kota Madinah itu?

Pertama: Pembentukan Pranata Sosial.

Sejak peristiwa Idul Fitri itu, maka lahirlah masyarakat baru di kota Madinah yang dimulai dengan hijrahnya Rasulallah SAW ke kota itu. Itulah pranata sosial paling indah dalam peradaban manusia. Rasulallah menegaskan:

خير الناس قرني ، ثم الذين يلونهم ، ثم الذين يلونهم ، ثم يجيء قوم تسبق شهادة أحدهم يمينه ، ويمينه شهادته" ؟

Pranata sosial yang dibangun oleh Rasulallah SAW adalah masyarakat yang taat pada aturan hukum dengan membangun rasa persaudaraan antara pendatang dari Mekah (Muhajirin) dan penduduk pribumi (Anshar) Madinah. Bahasa sekarang, Rasulallah membangun civil society atau masyarakat madani, yaitu masyarakat yang menjujung tinggi aturan-aturan hukum tanpa ada paksaan dari siapapun.

Sebelum kita menunaikan shalat Idul Fitri ini, kita diwajibkan berpuasa. Dan berpuasa menjadi ibadah yang tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang taat hukum, taat aturan Allah SWT. Bahkan berpuasa menjadi satu-satunya ibadah yang tidak bisa dilakukan oleh orang munafik.

Orang munafik bisa pura-pura shalat, bayar zakat, pergi haji, bahkan jihad sekalipun. Tapi orang munafik yang tidak taat aturan Allah itu tidak bisa pura-pura puasa. Sebab, puasa tidak dinilai karena seseorang itu terlihat lemas atau sering berludah, misalnya. Karena itulah, dalam hadits qudsi, Allah SWT berfirman, "semua (pahala) amal anak cucu Adam terpulang pada dirinya, kecuali puasa. Akulah yang menentukan balasannya". Maka, puasa menjadi pembeda kita dengan orang-orang munafik, orang-orang yang culas dengan aturan hukum.

Karena itu, Madinah menjadi kota yang penuh ketaatan, yang pada akhirnya terbebas dari kaum Munafik. Bahkan, setiap orang yang berkunjung ke Madinah saat ini akan mengatakan kota ini sangat damai. Ya, demikianlah kota Rasulallah SAW ini kenyataannya. Nama lama kota ini adalah Yathrib. Allah SWT berfirman:

وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا ۚ وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا

Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu". Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)". Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari. (QS al-Ahzab: 13)

Konon, kata Yathrib berasal dari kata Jetroba (Yetroba), salah satu anak keturunan Nabi Nuh (AS) setelah peristiwa banjir besar melanda planet bumi. Rasulallah SAW kemudian mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah. Kata Beliau SAW,

من قال للمدينة (يثرب) فليستغفرالله

"barangsiapa yang menyebut Madinah sebagai (Yatsrib) hendaklah dia beristigfar". (Musnad Imam Ahmad).

Sedemikian nyamannya kota yang dibangun Nabi ini hingga debu yang berterbangan pun menjadi obat. Suatu hari, ada seorang yang mengeluh pada Rasulullah SAW karena sakit, beliau SAW kemudian meletakkan tangannya di tanah lalu mengangkatnya (sambil berkata), “Dengan nama Allah, tanah kami yang baik ini, semoga dapat menyembuhkan orang-orang yang sakit di antara kami dengan izin Tuhan kami” Dengan kata lain, Madinah telah menjadi kota yang bebas polusi sejak dulu hingga kini.

Sedemikian indahnya ibadah di kota itu, orang bahkan berlomba memiliki rumah dekat masjid. Menurut riwayat, keluarga Bani Salmah memiliki rumah jauh dari masjid. Mereka acap kali telat shalat jamaah dengan Rasulallah SAW. Suatu hari dia ingin menjual rumah dan pindah ke sekitaran masjid Nabawi.

Mendengar itu; Nabi berkata,"Wahai Bani Salmah dari rumah kalian dicatat langkah kalian..dari rumah kalian dicatat langkah kalian.". Lalu turunlah firman Allah SWT:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ

"Sesungguhnya kami menghidupkan yang mati: dan kami catat apa-apa yg kalian perbuat: dan langkah-langkah kalian.." (QS Yaasiin: 12)

Pranata sosial yang merindukan masjid seperti itu hanya lahir dari kekuatan dakwah Rasulallah SAW yang mempersaudarakan kelompok pendatang (muhajirin) Mekkah dengan kelompok pribumi (anshar) Madinah. Maka, demikianlah kita dengar kisah Abdurrahman bin Auf.

Ia adalah seorang yang pedagang yang sukses. Padahal, saat hijrah meninggalkan Mekkah ke Madinah, Abdurrahman tak memiliki perbekalan yang banyak. Sampai di Madinah, ia dipersaudarakan oleh Rasulallah SAW dengan Saad bin Rabi', seorang tokoh di Madinah. Saad berkata, "Aku adalah salah satu penduduk Madinah yang kaya. Aku bersedia membagi setengah hartaku untukmu. Isteriku juga ada beberapa. Jika kau mau, aku ceraikan salah satunya agar kau nikahi". Tetapi, Abdurrahman bin Auf tahu diri. Dia hanya minta ditunjukan pasar. Dari sana dia berdagang, tak lama kemudian dia sukses dan memberi tahu Rasulallah SAW bahwa ia akan menikah.

الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد

Hadirin kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Kedua: Menerima kritik dalam membangun peradaban.

Setelah berhasil membangun Madinah, antara lain dengan mempersaudarakan orang Mekkah dengan orang Madinah, bukan berarti Rasulallah SAW terbebas dari kritik dan tantangan. Namun, semua kritik disikapi dengan bijak demi keutuhan perjuangan. Mari ambil contoh perang Hunain, salah satu peristiwa siaga satu yang paling panjang dalam sejarah Rasuallah SAW.

Seperti kita ketahui, pada perang Hunain, suku Hawazin menyerah, sedangkan suku Tsaqif melarikan diri ke Thaif. Di kota itu, terjadi ketegangan selama 20 malam. Suku Tsaqif mengutus para tokoh untuk menemui Rasulallah SAW agar membebaskan tawanan wanita dan mengembalikan harta mereka.

Di antara delegasi itu, Rasulallah SAW melihat wajah yang lamat-lamat dikenalinya. Ya, dia adalah Halimatus Sa’diyah, ibu angkatnya sendiri. Rasulallah SAW menyambutnya dengan kehangatan, dan menghamparkan selimut untuknya. Rasulallah SAW bahkan memenuhi permintaannya; seluruh tawanan wanita dibebaskan dan harta rampasan dikembalikan.

Keputusan Rasulallah SAW mengejutkan para sahabat, terutama kaum Anshar Madinah. Mereka mulai terhasut bahwa Rasulallah SAW berpihak pada masyarakat Makkah, tanah kelahirannya. Untuk apa bersabung nyawa, menggadaikan leher di kilatan pedang, jika pampasan perang dikembalikan pada kaumnya sendiri?.

Suara-suara sumbang semakin santer terdengar terutama saat Rasulallah SAW terlihat di mata kaun Anshar mengistimewakan Ikrimah, anak Abu Jahal, dengan memberinya harta rampasan perang.

Sampai disitu, Rasulallah SAW tetap menahan diri sampai akhirnya Sa'ad bin ‘Ubadah datang menghadap Rasulallah. Seakan protes, Sa'ad berkata, “kemenangan ini bertumpu pada orang-orang Anshar Madinah, tetapi mereka telah dibuat kecewa hatinya dengan pembagian rampasan perang. Engkau bagikan rampasan perang pada kaummu sendiri, sementara Anshar tak mendapat apa-apa”

“Kemana arah pembicaraanmu, Sa'ad?", tanya Rasulallah.
“Aku ini penyambung lidah kaumku, ya Rasulallah!”

Rasulallah SAW kemudian mengumpulkan seluruh kaum Anshar. Dengan suara bergetar dia berkata, “Wahai Anshar, tidak relakah kalian jika orang-orang itu kembali ke rumah mereka dengan membawa isteri, budak dan harta mereka. Sedangkan kalian kembali ke Madinah dengan (membawa) Rasulallah? Demi Allah, seandaianya orang-orang berjalan di suatu bukit, dan kaum Anshar berjalan di bukit yang lain, niscaya aku berada dalam barisan yang dilalui orang-orang Anshar itu”.

Para sahabat Anshar terdiam, lalu menitikan airmata. Mereka telah salah mengira maksud Rasulallah SAW sebab tak lama setelah itu, para pemuka suku Tsaqif menyatakan keislamanannya.

الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد

Hadirin kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Ketiga: Sempurnakan amal kebaikan.

Setelah kita berpuasa selama sebulan, Rasulallah SAW menganjurkan kita untuk membayar zakat fitrah sebelum shalat Idul Fitri ditunaikan.

روي عن عبدالله ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قال فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

Zakat fitrah menjadi penyempurna amal kebaikan sepanjang bulan suci Ramadhan. Demikian pula seharusnya dalam kehidupan kita di dunia ini. Sempurnakanlah amal kebaikan sebelum kita dihisab oleh Allah SWT kelak.

Rasulallah SAW memberikan keteladanan dalam menata kehidupan itu. Saat panji kemenangan telah berkibar. Umat telah terbentuk di Madinah. Ayat terakhir telah turun. Haji telah menjadi wada’. Pohon telah sempurna dan tak lagi tumbuh tunas muda. Rasulallah SAW merasakan sakit sisa racun Yahudi Khaibar.
Beberapa hari sebelum wafat Rasulallah SAW berziarah ke makam Baqi di kota Madinah.

Pemakaman Baqi’ juga disebut sebagai Jannatul Baqi’ atau Baqi’ul Qarqad yang berarti “kebun dari pohon Boxtrhorn”. Pada awalnya, di tempat itu banyak pohon Qarqad sehingga, dalam hadits, Rasulallah SAW mengatakan bahwa pada akhir zaman pohon Qorqod menjadi tempat berlindung orang-orang Yahudi.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ (رواه مسلم)

Jadi, pohon Qorqod adalah pohon kuburan yang tumbuh di Madinah sejak sekian abad lalu. Semog ia kelak menjadi pohon kuburan bagi orang-orang Yahudi yang memerangi kaum Muslimin di Palestina.

Selesai berziarah ke makam Baqi’, Rasulallah SAW mengeluh sakit kepala. Pada suatu malam, seharusnya beliau SAW berada di rumah istrinya yang bernama Maimunah, namun beliau SAW izin agar diperbolehkan bermalam di rumah Aisyah. Dengan dipapah oleh Alfadlu Ibnu Abbas dan Ali bin Abi Thalib, Rasulallah SAW menuju rumah Aisyah.

Selama beberapa hari tinggal di rumah Aisyah, Rasulallah SAW merasakan panas badannya makin tinggi. Sampai suatu pagi, beliau SAW merasa agak sehat dan meminta untuk dibimbing menemui orang-orang di masjid.

Di mimbar, Rasulallah SAW berkhutbah:

فَمَنْ كُنْتُ جَلَدْتُ لَهُ ظَهْرًا فَهَذَا ظَهْرِي فَلْيَسْتَقِدْ مِنْهُ ، أَلا وَمَنْ كُنْتُ شَتَمْتُ لَهُ عِرْضًا فَهَذَا عِرْضِي فَلْيَسْتَقِدْ مِنْهُ ، وَمَنْ كُنْتُ أَخَذْتُ مِنْهُ مَالا فَهَذَا مَالِي فَلْيَسْتَقِدْ مِنْهُ

“Wahai manusia, siapa yang pernah aku pukul punggungnya, maka inilah punggungku. Siapa yang pernah aku caci-maki, maka inilah kehormatanku. Siapa yang pernah aku ambil hartanya, inilah hartaku. Ambilah.”

Seorang mengaku pernah dicambuk. Namun dia tak kuasa mencambuk Rasulallah SAW dan justru memeluknya sambil berurai air mata. Seorang lagi meminta tiga dirham, Rasulallah SAW membayarnya.

Rasulallah SAW kemudian berkata, “Sesungguhnya membuka aib di dunia lebih ringan dari pada membuka aib di akherat.” Ya Allah, jadikanlah kami bagian dari orang-orang yang berbaris bersama Rasulallah SAW dalam hisab-Mu kelak.

Semoga kita termasuk orang-orang yang menyempurnakan amal-amal di dunia dengan kebaikan di hadapan Allah SWT dan Idul Fitri menjadi momentum secara berjamaah untuk membangun peradaban.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَِّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Oleh Inayatullah Hasyim

(Dosen Fakultas Hukum Universitas Djuanda

Pengurus Ikatan Dai Indonesia Jakarta)

 

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَذِى جَعَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرَ الْخَيْرَاتِ وَالْبَرَكَةِ شَهْرَ الطَّاعَاتِ وَالْمَبَرَّاتِ شَهْرَ الصّيَامِ وَالْقِيَامِ وَأشْهَدُ أنْ لا اِلهَ اِلااللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنْفَرِدُ بِالْوَحْدَانِيّةِ وَالْقُدْرَةِ الّذِى فَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِ وَالاَيَّامِ عَلَى بَعْضٍ وَجَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مِنَ الشُّهُوْرِالْعِظَامِ وَأيَّامَهُ مِنَ الايَّامِ الْكِرَامِ وَأشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِى أرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اللّهُمَّ صَلِّ وِسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ لِقَاءِ رَبِّهِمْ.

فقد قال الله تعالى في كتابه الكريم : اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ () خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ () اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ () الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ () عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (*)

اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ الله اِتَّقُوْا الله وَ اعْلَمُوْا اَنَّ الله يُحِبُّ مَكَارِمَ الْأُمُوْرِ وَ يَكْرَهُ سَفَاسِفَهَا يُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ اَنْ يَّكُوْنُوْا فِى تَكْمِيْلِ اِسْلَامِهِ وَ اِيْمَانِهِ وَ اِنَّهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ

Hadirin kaum Muslimin jamaah shalat Jum'at yang mulia.

Puji syukur pada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan kepada kita semua, terutama nikmat iman, islam dan kesehatan. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasulallah SAW dan para ahli keluarganya yang suci dan mulia.

Selaku khatib, saya berpesan pada diri sendiri dan jamaah sekalian : mari tingkatkan selalu ketakwaan kita kepada Allah SWT, agar kita mendapatkan kesuksesan hidup dunia dan akherat. Amin.

Pada hari yang cerah ini, selaku khatib, saya ingin mengajak hadirin sekalian untuk sejenak mentabbauri al-Qur’an, terutama dikaitkan dengan wahyu pertama yang turun kepada Rasulallah SAW di bulan Ramadhan, musim panas tahun

Ramadhan memang bulan al-Qur’an, Allah SWT menegaskan,

 شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (QS al-Baqarah: 185).

Menariknya, lima ayat pertama yang turun kepada Rasulallah SAW mengajarkan kita untuk membaca. Pada khutbah yang singkat ini, saya ingin kita mentadabburi dua ayat yang mula-mula turun kepada Rasulallah SAW.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah (RA), diceritakan:

 عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مِنَ الْوَحْىِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِى النَّوْمِ ، فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ، ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلاَءُ ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ - وَهُوَ التَّعَبُّدُ - اللَّيَالِىَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ ، وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ ، فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا ، حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِى غَارِ حِرَاءٍ ، فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ . قَالَ « مَا أَنَا بِقَارِئٍ » . قَالَ « فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى حَتَّى بَلَغَ مِنِّى الْجَهْدَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ اقْرَأْ . قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ . فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّى الْجَهْدَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ اقْرَأْ . فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ . فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى الثَّالِثَةَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ ( اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ * خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ ) .....

Dari Aisyah Ummul Mukminin r.a. bahwa ia berkata, "Pertama turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW secara mimpi yang benar waktu beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi. Semenjak itu hati beliau tertarik untuk mengasingkan diri ke Gua Hira. Di situ beliau beribadah beberapa malam, tidak pulang ke rumah istrinya. Untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Setelah perbekalan habis, beliau kembali kepada Khadijah, untuk mengambil lagi perbekalan secukupnya. Kemudian beliau kembali ke Gua Hira, hingga suatu ketika datang kepadanya kebenaran (wahyu), yaitu sewaktu beliau masih berada di Gua Hira. Malaikat datang kepadanya, lalu berkata, "Bacalah"Nabi menjawab, "Aku tidak bisa membaca". Nabi menceritakan, "Maka aku ditarik dan dipeluknya hingga aku kepayahan. Lalu aku dilepaskannya dan disuruh membaca. Malaikat berkata "bacalah" aku menjawab "aku tidak bisa membaca." Maka aku ditarik dan dipeluknya hingga aku kepayahan. Lalu aku dilepaskannya dan disuruh membaca. "Bacalah" kujawab menjawab "aku tidak bisa membaca." Maka aku ditarik dan dipeluknya untuk kali ketiga. Kemudian aku dilepaskan seraya ia berkata "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Demi Tuhanmu yang Maha Mulia." 

Menilik hadits di atas, dua ayat pertama berbicara tentang (1). Membaca sebagai proses belajar, dan (2) Penciptaan manusia.

Hadirin kaum Muslimin jamaah shalat Jum'at yang mulia.

Maka, membaca sebagai proses pembelajaran adalah ibadah yang sangat mulia. Dengan membaca, seseorang menjadi cerdas dan memiliki masa depan yang lebih cerah. Imam Syafii mengatakan,

ومنْ لم يذق مرَّ التعلمِ ساعةً * تجرَّعَ ذلَّ الجهل طولَ حياته

ومن فاتهُ التَّعليمُ وقتَ شبابهِ * فكبِّر عليه أربعاً لوفاته -- الإمام الشافعي

Siapa orang yang tak pernah merasakan sulitnya belajar; * dia akan terus dikungkung kebodohan sepanjang hidupnya

Dan, siapa orang yang terlewat untuk belajar di masa mudanya * mari takbir empat kali (shalat jenazah) atas kematiannya.

Demikianlah kita mendengar Rasulallah SAW menganjurkan umatnya untuk terus belajar. Bahkan, Rasulallah SAW mengatakan,

فَضْلَ العالمِ على العَابِدِ كَفضل القمر ليلة البدرِ على سائرِ الكَوَاكِب

“Keutamaan seorang yang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti (keutamaan cahaya) bulan purnama atas seluruh bintang-gemintang” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Ilmu pengetahuan yang dipelajari harus menjadi jembatan untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Sebab, sesungguhnya Islam tidak pernah membedakan ilmu dunia atau akherat, ilmu umum atau ilmu agama. Perbedaan itu terjadi karena keterbatasan manusia untuk menguasai semua disiplin ilmu. Kemampuan akal manusia sangat fakultatif sehingga diperlukan fakultas-fakultas ilmu.

Hadirin Kaum Muslimin Jamaah Shalat Jum’at yang Mulia.

Ilmu adalah anugerah ilahiyah. Tidak mungkin diperoleh kecuali dengan pertolongan dan taufik dari Allah. Karena itu, di antara doa yang paling agung yang ada dalam Alquran adalah “وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا “dan katakanlah, Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. QS:Thaahaa: 114.

Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, bahwa Rsulallah SAW setiap selesai shalat subuh mengucapkan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.” (HR. Ahmad dan  Ibnu Majah).

Oleh karena itu, hendaknya para pembelajar senantiasa meminta pertolongan kepada Allah SWT, memohon taufik kepada-Nya. Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah mengecewakan doa seseorang yang tulus meminta kepada-Nya.

Hadirin Kaum Muslimin Jamaah Shalat Jum’at yang Mulia.

Puncak dari segala ilmu adalah yang mendatangkan rasa takut kepada Allah SWT. Bukan kesombongan apalagi sampai menantang-Nya. Allah SWT berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya adalah para ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS: Fathir: 28).

Karena itulah, Allah SWT menegaskan,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ

“Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”.

Jadi, ilmu pengetahuan yang tidak mendatangkan ketaatan kepada Allah adalah kesia-siaan. Karena itulah, Ibnu Mas'ud mengatakan, كفى بخشية الله علما "cukuplah rasa takut kepada Allah disebut sebagai ilmu pengetahuan".

Apalah artinya banyak gelar, jika tak pernah gelar sajadah. Capaian-capaian dunia hanyalah halte dari fase kehidupan kita.

Maka, barangsiapa yang kehilangan rasa takut kepada Allah SWT di dalam hatinya, dia tidak disebut sebagai ilmuwan, betapapun banyak gelar akademis yang disandangnya. Takut kepada Allah adalah esensi dan puncak keilmuan seseorang. Semakin besar rasa takut yang mendatangkan ketakwaan kepada Allah, maka akan semakin tampak bersih hatinya, bagus akhlaknya, berbinar wajahnya, lembut tutur-katanya dan ilmunya mendatangkan kemaslahatan bagi umat manusia.

Hadirin kaum muslimin jamaah shalat Jum’at yang mulia

Pada ayat ke-dua dalam surah al-Alaq itu, Allah SWT berfirman tentang penciptaan kita.

خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Ayat ini menarik sekali untuk kita tadabburi bersama, sebab ia diturunkan di bagian awal wahyu, sehingga seharusnya manusia tak pernah berhenti belajar untuk mengetahui dirinya sendiri.

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى (٣٧)ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى (٣٨)فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالأنْثَى (٣٩)أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى (٤٠

37. Bukankah Dia (manusia) dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), 38. kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, 39. lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. 40. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati? (QS al-Qiyamah: 37-40)

Hadirin kaum muslimin jamaah shalat Jum’at yang mulia

Ayat-ayat di atas yang terkait dengan kata ‘alaq atau ‘alaqah menarik untuk diperhatikan. Setidaknya ada tiga pelajaran di sini. 

Pelajaran Pertama: Dari sisi ilmu qiroat. Pada ayat ke 37 Surah al-Qiyamah tadi, orang-orang di Kufah dulu ada yang membaca, “تمنى” dengan huruf “ت”, sedangkan bacaan dengan huruf “ي” populer di Mekkah dan Bashrah (Iraq). Mushaf yang kita pegang sekarang menggunakan bacaan dengan huruf “ي

Mengapa bisa berbeda bacaan? Jika dibaca dengan huruf "ta", punya pemahaman, penciptaan manusia berawal dari “sperma yang memancar”. Maka, hanya sperma jantan-lah yang berhasil bertemu dengan indung telur. Karena itu pula, dalam ayat lain,

Allah SWT berfirman,

إِنَّا خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur (memancar) yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (QS al-Insaan: 2)

Jika dibaca dengan huruf “ya”, memiliki pemahaman, penciptaan manusia adalah bermula dari bagian kecil (satu) sel sperma dari jutaan sel sperma yang ada. Imam al-Qurtubi menyimpulkan, kedua model bacaan itu dapat dibenarkan karena kedua-duanya shahih dan memiliki pemahaman yang benar.

Hadirin kaum muslimin jamaah shalat Jum’at yang mulia

Pelajaran Kedua: Apakah pada wanita terdapat “mani” yang memancar juga? Kisah berikut ini menarik untuk dicermati. Suatu hari Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasulallah, sesungguhnya Allah tak malu mengungkap kebenaran, apakah jika seorang wanita bermimpi, dia wajib mandi?” Rasulallah SAW menjawab, نعم إذا رأت الماء “Ya, jika dia melihat air (dari kemaluannya)”.

Teks hadits itu berbunyi, “na’am idza raat al-ma” Kata yang digunakan Rasulallah SAW secara jelas adalah “al-ma” atau “air”. Jadi kewajiban “mandi besar” pada wanita, adalah karena keluarnya air dari mimpinya itu. Lalu, apakah "air" itu yang menjadi unsur pembentukan embrio (janin)? Bukan. Embrio terbentuk karena sperma laki-laki (mani) yang berwarna putih lalu bercampur dengan indung telur perempuan yang berwarna kekuning-kuningan.

Hal itu diterangkan oleh Rasulallah SAW dalam hadits lainnya. Beliau SAW berkata, ماء الرجل ابيض وماء المرأة اصفر “air laki-laki berwarna putih, dan air perempuan berwana kekuning-kuningan”.

Air di hadits ini bermakna mani atau “sperma” bagi laki-laki dan “indung telur” bagi perempuan. Air-air tersebut, apabila keluar, keduanya memancar dengan tingkat intensitas yang berbeda antara laki-laki dan perempuan sebagaimana Al-Qur'an tegaskan:

فَلْيَنْظُرِ الإنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ (٥)خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ (٦)يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ

5. Maka hendaklah manusia memperhatikan dari Apakah Dia diciptakan? 6. Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, 7. yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. (QS At-Thariq 5-7)

Hadirin kaum muslimin jamaah shalat Jum’at yang mulia

Pelajaran Ketiga: Setelah sperma dan indung telur bertemu, Allah proses menjadi segumpal darah atau alaq sebagaiaman disebutkan dalam surah al-Alaq ayat kedua, atau alaqah sebagaimana disebutkan dalam surah al-Qiyamah ayat ke-tiga puluh delapan.

Pada ayat-ayat itu, Allah SWT menggunakan kata “alaq” atau “alaqah” yang umumnya kita terjemahkan menjadi “segumpal darah”. Apa maksudnya?

Kata ‘alaq atau alaqah memiliki tiga makna.

Pertama: gumpalan darah. (Blood clot). Kenapa harus menjadi gumpalan darah? Pada awal pekan ketiga kehamilan, jantung yang tersekat bergabung dengan pembuluh darah membangun sebuah sistem cardio-vaskular. Dan pada akhir pekan ketiga (hari ke-21), darah mengalir ke dalam embrio itu, maka jantung mulai berdetak.

Kedua: bergelantungan. Kita mungkin berfikir, "tali pusar", tapi pemahaman itu tidak tepat, sebab embrio baru di pekan ketiga dan belum sempurna penciptaannya. Ternyata, ilmu kedokteran menemukan, pembentukan “tali pusar” memerlukan “alat penghubung” (connecting stalk), dan -- masya Allah -- alat penghubung atau gantungan itu Allah ciptakan ketika janin masih berbentuk “gumpalan darah”.

Ketiga: Lintah. Kok lintah, apa hubungannya? Pada usia embrio dua puluh lima hari, gumpalan darah itu persis seperti lintah, mulai dari bentuk hingga anatomi tubuhnya. Sekilas, lintah terlihat seperti tidak memiliki tulang. Padahal, jika kita menggunakan x-ray, ia memiliki anatomi yang sempurna, termasuk mulut. Dan, embrio manusia di usia itu disebut sebagai lintah sebab memang sangat mirip dengan lintah.

Karena itulah, kita mendapati firman Allah SWT lainnya yang menjelaskan tentang detail proses penciptaan manusia. Allah SWT berfirman;

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْناهُ نُطْفَةً فِي قَرارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظامًا فَكَسَوْنَا الْعِظامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْناهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخالِقِينَ (14)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. ()  Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) ()  Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (QS al-Mu’minun 12-14).

Insya-Allah, pembahasan tentang detail penciptaan manusia itu akan kita bahas di kesempatan khutbah Jum’at lainnya. Demikian khutabh singkat ini semoga bermanfaat dan menambah keimanan kita kepada Allah SWT.

أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Oleh Inayatullah Hasyim

Pengurus DPP Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Jakarta.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَذِى جَعَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرَ الْخَيْرَاتِ وَالْبَرَكَةِ شَهْرَ الطَّاعَاتِ وَالْمَبَرَّاتِ شَهْرَ الصّيَامِ وَالْقِيَامِ وَأشْهَدُ أنْ لا اِلهَ اِلااللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنْفَرِدُ بِالْوَحْدَانِيّةِ وَالْقُدْرَةِ الّذِى فَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِ وَالاَيَّامِ عَلَى بَعْضٍ وَجَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مِنَ الشُّهُوْرِالْعِظَامِ وَأيَّامَهُ مِنَ الايَّامِ الْكِرَامِ وَأشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِى أرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اللّهُمَّ صَلِّ وِسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ لِقَاءِ رَبِّهِمْ.
فقد قال الله تعالى في كتابه الكريم: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
أمَّا بَعْدُ،
فَيَا أيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Hadirin kaum Muslimin jamaah shalat Jum'at yang mulia.
Puji syukur pada Allah SWT. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasulallah SAW dan para ahli keluarganya yang suci dan mulia.

Selaku khatib, saya berpesan pada diri sendiri dan jamaah sekalian: mari tingkatkan selalu ketakwaan kita kepada Allah SWT, agar kita mendapatkan kesuksesan hidup dunia dan akherat. Amin.

Pada hari yang cerah ini, selaku khatib, saya ingin mengajak hadirin sekalian untuk sejenak merencanakan amalan-amalan utama kita di bulan Ramadhan.

Setiap kali Ramadhan tiba, hati kita bersuka-cita. Betapa tidak, Rasulallah SAW berpesan,
أَتَاكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
“Telah datang kepada kalian Bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah. ALLAH wajibkan kepada kalian puasa dibulan ini. (Di bulan ini), akan dibukakan pintu-pintu langit, dan di tutup pintu neraka, serta setan-setan dibelenggu. Demi ALLAH, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan”

Hadirin kaum Muslimin jamaah shalat Jum'at yang mulia.

Selain berpuasa sebagai amalan utama kita di bulan Ramadhan, bulan ini juga dipenuhi gemilang keberkahan amalan-amalan lainnya. Pada kseempatan khutbah yang singkat ini, selaku khatib, saya akan membahas empat amalan utama agar kita mampu mengoptimalkan bulan Ramadhan sebaik-baiknya.

Pertama: Ramadhan adalah bulan al-Qur’an.

Allah SWT menegaskan,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ... (البقرة 185)
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (QS al-Baqarah: 185).

Karena al-Qur’an adalah petunjuk Ilahi, maka ketika semua buku dimulai dengan permohonan maaf penulisnya, khawatir ada salah sumber atau salah ketik, al-Qur'an memulainya dengan pernyataan yang sangat tegas, “tak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”.

Sayangnya, seringkali kita merasa sudah sangat menguasai al-Qur'an, padahal membacanya saja masih malas. Maka, Ramadhan ini kesempatan untuk mengulang bacaan kita.
Rasulallah SAW pernah meminta Ibnu Mas’ud untuk membcakan al-Qur’an baginya. Ibnu Mas'ud berkata, “bagaimana aku bacakan al-Qur'an sementara ia turun padamu?” Rasulallah SAW menjawab, “aku senang mendengarnya dari (orang) lain.”

Demi mendengar bacaan Ibnu Mas'ud, Rasulallah SAW menitikan air mata dan meminta Ibn Mas'ud untuk menghentikan bacaannya. Ayat yang membuat beliau SAW menangis adalah:
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا (ألنساء 41)
“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad SAW) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)”. (QS An-nisa: 41)

Beliau SAW kemudian berkata, “siapa orang yang ingin membaca al-Qur'an seperti saat diturunkan, bacalah sesuai bacaan Ibnu Umi Abdi (Abdullah bin Mas'ud)”.

Karena itulah, Khalid bin Walid, salah seorang sahabat Nabi SAW, setiap kali mengambil mushaf al-Qur'an, ia menitikan air mata menangis seraya berkata, “Aku sibuk (hingga tak sempat membacamu) karena jihad”. Bayangkan, Khalid bin Walid menangis karena sibuk berjihad. Sementara kita?

Bagi kalangan awam, Ramadhan menjadi momen membaca al-Qur’an, memperbaiki tilawah dan meluruskan ilmu tajwid.

Sementara bagi kalangan alim-cendikia, Ramadhan menjadi bulan “tadarus” al-Qur’an secara ilmu pengetahuan saat dimana kitab suci ini diserang oleh berbagai kalangan, terutama kaum kafir dan orientalis.

Studi tentang al-Qur'an memang selalu menarik. Contoh sederhana, tentang sejarah kodifikasi dan proses pembukuannya. Mushaf yang sampai ke tangan kita dikenal dengan istilah mushaf rasm Utsmani. Dinamakan demikian sebab kodifikasi final al-Qur'an baru dilakukan di zaman Utsman bin Affan. Dan disebut "rasm" bukan "kitabah" karena tulisan Arab sesungguhnya adalah proses melukis, bukan menulis.

Sahabat Nabi yang lain, semisal Ibn Mas'ud (ra) sebagaimana dikisahkan di atas dan Ubay bin Kaab (ra) memiliki mushaf sendiri dengan susunan yang berbeda dari mushaf Utsmani. Ibn Mas'ud, misalnya. Dia tidak memasukkan surah "al-fatihah", "An-Nas" dan "al-Falq" dalam daftar surah di mushafnya. Para Orientalis seperti Arthur Jeffrey (The Qur'an as a Scripture) dan Theodore Noldek, (The Origin of the Koran) menyimpulkan perbedaan mushaf Ibn Mas'ud dengan mushaf-mushaf sahabat Nabi lainnya, membuktikan ada "campur tangan kekuasaan" dalam menentukan surah-surah dalam al-Qur'an.

Sementara, ulama Islam seperti al-Qurtubi menyimpulkan, tidak dimasukannya ketiga surah pendek itu dalam mushaf Ibn Mas'ud sebab para sahabat Nabi sudah menghafalnya di luar kepala. Lagi pula, Ibn Mas'ud (ra) adalah sahabat Nabi yang mengatakan, "aku belajar al-Qur'an sebanyak 70 surah langsung dari Rasulallah SAW." Jadi, al-Qur'an yang dikodifikasi Ibn Mas'ud lebih merupakan koleksi pribadi ketimbang untuk dibaca publik.

Hadirin kaum Muslimin jamaah shalat Jum'at yang mulia.

Kedua: Ramadhan adalah bulan Qiyamul Lail.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW berkata,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari Muslim).

Maksud dari kata “qiyam Ramadhan” adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh para ulama. Pada mulanya, shalat taraweh ditunaikan sendiri-sendiri.

Rasulallah SAW khawatir, jika ditunaikan berjamaah maka hukumya akan wajib. Maka itu, beliau menunaikannya sendirian. Lalu, di zaman Umar bin Khattab, taraweh ditunaikan secara berjamaah mengingat orang-orang sudah mulai lengah untuk menunaikan taraweh karena sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Ubay bin Ka’ab salah satu sahabat Rasulallah SAW menjadi imam shalat pertama pada taraweh berjamaah di era Umar bin Khattab itu.

Biasanya, Rasulallah SAW menutup shalat tarawehnya dengan shalat witir. Ketika Rasulallah SAW ditanya, "Doa (di waktu apa) yang paling didengar (Allah)?". Beliau SAW menjawab, “pada penghujung malam”.

Aisyah menceritakan:
مِنْ كُلِ اللَيْلِ قَدْ أوْتَرَ رَسُولُ اللهِ صَلىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم فَانْتَهَى وِتْرُهُ إلىَ السَحْر
“Pada setiap malam, Rasulallah SAW menunaikan shalat witr, dan shalatnya berakhir sampai waktu sahur (remang-remang)”.

Shalat malam mengajarkan kita untuk khusyu dan tawadhu. Di era gadget dan media sosial, saat setiap kita mudah sekali up-date status, shalat malam seharusnya mampu mengajarkan kita untuk tidak show-up, pamer kepada banyak orang.

Imam Ibnul Qayyim mengingatkan,

قَدْ قَالَ أحَدُ الصَالِحِين : لآنْ اَبيت نَائِمََا وَاصْبَحَ نَادِيمََا خَيرٌ مِن أبيتَ قَائِمََا وَاصبَحَ مُعْجِبََا

dan sungguh telah berkata salah seorang yang shaleh, "bahwa engkau tertidur di malam hari (sehingga tidak tahajud) dan menyesal di pagi hari adalah lebih baik dari pada kau tahajud di malam hari, dan berbangga (dengan tahajud itu) di pagi hari"

Shalat yang khusyu akan mengantarkan pertolongan dan kasih sayang Allah. Dikisahkan suatu malam, seorang pencuri masuk ke rumah Malik bin Dinar. Pencuri itu mencari-cari emas dan perak yang dimiliki sang Imam. Namun, dia tak mendapati apa-apa, kecuali sang imam yang tengah qiyamul lail.

Selepas mengucap salam, Imam Malik memergoki pencuri yang tengah mengintip itu. Disapanya: "Engkau ingin mencuri harta, hanya memberimu kebahagiaan dunia. Sudahkah kau curi waktu malam untuk menyiapkan kebahagiaan akherat?".

Pencuri itu tertegun. Ia kemudian duduk bersila, mendengarkan tausiyah sang Imam. Saat masuk waktu shubuh, Malik bin Dinar dan pencuri itu keluar rumah, mereka menuju masjid bersama-sama. Masyarakat geger. Mereka berkata, "Imam paling mulia berjalan ke masjid dan shalat berjamaah bersama pencuri paling utama". Orang-orang bertanya: "apa rahasianya".

Malik bin Dinar pun menjawab, "ketuklah pintu langit, sebab Dia-lah yang menggenggam hati manusia".

Hadirin kaum Muslimin jamaah shalat Jum'at yang mulia.

Ketiga: Ramadhan adalah juga bulan sedekah.

Rasulullah SAW adalah seorang yang paling pemurah dan di bulan Ramadhan beliau lebih pemurah lagi. Kebaikan Rasulullah SAW di bulan Ramadhan melebihi angin yang berhembus karena begitu cepat dan banyaknya.

Dalam sebuah hadits, Rasulallah SAW mengatakan, “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan.” (HR. Baihaqi). Dan bersedekah tidak harus menunggu kaya.

Suatu hari, Rasulallah SAW berkata,

سبق درهم مئة ألف درهم فقال رجل وكيف ذاك يا رسول الله قال: رجل له مال كثير أخذ من عرضه مئة ألف درهم تصدق بها ورجل ليس له إلا درهمان فأخذ أحدهما فتصدق به

"(Pahala sedekah) satu dirham mengalahkan seratus ribu dirham”. Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana mungkin, ya Rasulallah?”. “(Bandingkan) seorang kaya raya yang memiliki banyak harta, dia mengambil seratus ribu dirham dari hartanya dan bersedekah dengannya. Lalu ada seorang miskin yang hanya punya dua dirham, dan dia bersedekah dengan satu dari dua dirham itu”.

Karena itulah, Ali bin Abi Thalib berkata, “Jangan malu bersedekah walaupun sedikit. Sebab, kebaikan itu (dinilai) pada pemberiannya walaupun sedikit”.

Dikisahkan, seseorang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, "Bagaimana untuk mengetahui seseorang itu "ahli dunia" atau "ahli akherat"?" Ali bin Abi Thalib menjawab, "Jika ada dua orang (tamu) datang, satu orang (tamu) membawa hadiah, dan satu lagi meminta sedekah. Bila hati tuan rumah lebih condong pada pembawa hadiah, maka dia termasuk ahli dunia. Apabila hati tuan rumah lebih condong pada orang yang meminta sedekah, maka dia termasuk ahli akherat.

Karena itu pula, Ibnul Qayyim mengatakan,

لَوْ عَلِمَ الْمُتَصَدِقُ حَقّ الْعِلْمَ وَتَصَوُرَ أنَ صَدَقَتُهُ تَقَعَ فِي ( يَدِ اللَهِ ) قَبْلِ يَدِ الفَقِيرِ ، لَكَانَتْ لَذّةُ المُعْطِي أكْبَرَ مِنْ لَذَةِ الآخِذِ

Seandainya seorang pemberi sedekah mengetahui dan melihat dengan sebenarnya bahwa sedekahnya telah sampai (ke tangan Allah) sebelum sampai ke tangan orang miskin, niscaya rasa bahagia yang dirasakan seorang pemberi sedekah lebih besar dari rasa bahagia penerima (sedekah) itu.

Hadirin kaum Muslimin jamaah shalat Jum'at yang mulia.

Keempat: ramadhan adalah bulan taubat. Rasulallah SAW berkata,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ، فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ، وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai umat manusia bertaubatlah kalian. Sesungguhnya aku bertaubat seratus kali dalam sehari-semalam”. Bila pada hari-hari biasa kita dianjurkan bertaubat. Maka, taubat di bulan Ramadhan tentu lebih baik adanya.

Mengapa taubat? Sebab manusia makhluk yang lemah. Allah memberi jalan taubat sebagai wujud kasih sayang-Nya. Bahkan Allah sangat senang dan bahagia bila ada manusia yang bertaubat.

Rasulullah SAW menggambarkan kesenangan Allah SWT itu dengan bersabda, “Sungguh Allah akan lebih senang menerima taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya daripada (kesenangan) seorang di antara kalian yang menunggang untanya di tengah padang luas yang sangat tandus, lalu unta itu terlepas membawa lari bekal makanan dan minumannya dan putuslah harapannya untuk memperoleh kembali. Kemudian, dia menghampiri sebatang pohon lalu berbaring di bawah keteduhannya karena telah putus asa mendapatkan unta tunggangannya tersebut. Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba dia mendapati untanya telah berdiri di hadapannya....” (HR Muslim).

Seringkali kita merasa bahwa dosa yang kita lakukan hanya dosa-dosa kecil saja sehingga tak diperlukan bersegera dalam bertaubat. Padahal, kata Ibnul Qayyim, jangan pernah meremehkan dosa-dosa kecil. Lihatlah patok kayu di dermaga yang melilit tambang, ia bahkan dapat menarik kapal.

Maka, tak ada kata lain bagi kita kecuali segera bertaubat. Menarik untuk mengutip Ibnul Qayyim sekali lagi.

Katanya:

لَوْ عَلِمَ الْعَاصِي أنَ لَذَةَ التَوْبَة تَزِيْد عَلَى لَذَةِ اْلمَعْصِيَةِ أضْعَافََا مُضَاعَفَة لَبَادِر إلَيْهَا أعْظَمَ مِنْ مُبَادَرَتِهِ إلىَ لذَةِ الْمَعْصِيَةِ.

“Sekiranya seorang pelaku maksiat mengetahui bahwa kenikmatan bertaubat lebih dahsyat berlipat-lipat dari kelezatan maksiat, niscaya dia akan bersegera menuju taubat lebih cepat dari usahanya menggapai maksiat”
Semoga kita dapat mengisi hari-hari di bulan suci ini dengan penuh keberkahan. Amin ys robbal alamain.

Demikian khutbah singkat ini, semoga bermanfaat.

أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Advertisement