GNPF Bertemu Jokowi Bukan Dadakan, Ini Penegasan UBN

TIBYAN – Ketua Gerakan Nasional pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) Bachtiar Nasir mengungkapkan, pertemuan piahaknya dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Ahad lalu (25/6), bukanlah karena mereka yang sengaja meminta bertemu. Tapi merupakan buah dari gagasan agar antara kedua pihak terjadi dialog. Pertemuan itu sendiri, sebagaimana diungkapkan Ustad Bachtiar Nasir (UBN) dalam keterangannya kepada pers di AQL Islamic Center Tebet, Jakarta, Selasa (27/6), ddidahului dengan pertemuannya dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla. “Kami ketemu wapres tiga kali. Saya datang tiga kali. Sekali didampingi Menko Polhukam,” kata Bachtiar Nasir. “Bukan meminta, kami menggagas terjadinya dialog antara GNPF-MUI dengan presiden,” kata dia. Sebelumnya, sebagaimana dikutip Swamedium.com, Pertemuan ini merupakan kelanjutan pertemuan sebelumnya antara GNPF MUI dengan Pemerintah yang diwakili Menkopolhukam Wiranto dan Wapres Jusuf Kalla dalam seminggu ini. Pertemuan Tim 7 GNPF MUI dengan Presiden RI Joko Widodo menyikapi berbagai persoalan terutama ketidakjelasan soal hukum yang menimpa ulama dan aktivis Islam, serta penyelesaiannya dengan jalan dialog langsung kepada Presiden. Menurut Bachtiar, sebenarnya sejak Aksi Bela Islam 4 November 2016 atau yang dikenal dengan aksi 411, mereka ingin berkomunikasi dengan Jokowi. “Takdir menghendaki lain. 212 kita ketemu presiden, tapi tak terjadi komunikasi, presiden hanya sampaikan salam.” Ketika aksi 2 Desember 2016, Jokowi sempat bertemu dengan massa aksi dan mengucapkan terima kasih kepada massa yang ketika itu menuntut aparat memproses kasus penistaan agama yang melibatkan mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Usai Aksi 212, GNPF kata Bachtiar, kehilangan cara untuk berkomunikasi dengan Jokowi. “Komunikasi selanjutnya lewat Kapolri. Terutama menghadapi kasus, kasus, satu per satu dimasalahkan. Dan, kami difasilitasi dengan Menkopolhukam,” katanya. Saat bertemu dengan Wiranto, GNPF menyalurkan seluruh aspirasinya, dan Wiranto berjanji menyampaikannya ke presiden. “Kami ingin sekali berdialog. Dialog solusi,” katanya. Barulah, pada malam takbiran, atau Sabtu (24/6) malam, ada momentum. “Jadi malam terakhir kami duduk dengan Menkopolhukam. Lalu ke Menag. Paginya komunikasi presiden,” kata dia. Dia mengatakan, pertemuan dengan Jokowi memang terkesan mendadak, namun sebenarnya ada beberapa rentetan peristiwa yang mendahuli pertemuan itu. “Mendadak itu kesannya kami ingin ketemu presiden,” kata dia. (lya)

Hot Issue
Typography

TIBYAN – Ketua Gerakan Nasional pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) Bachtiar Nasir mengungkapkan, pertemuan piahaknya dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Ahad lalu (25/6), bukanlah karena mereka yang sengaja meminta bertemu. Tapi merupakan buah dari gagasan agar antara kedua pihak terjadi dialog.

Pertemuan itu sendiri, sebagaimana diungkapkan Ustad Bachtiar Nasir (UBN) dalam keterangannya kepada pers di AQL Islamic Center Tebet, Jakarta, Selasa (27/6), ddidahului dengan pertemuannya dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla. “Kami ketemu wapres tiga kali. Saya datang tiga kali. Sekali didampingi Menko Polhukam,” kata Bachtiar Nasir.

“Bukan meminta, kami menggagas terjadinya dialog antara GNPF-MUI dengan presiden,” kata dia.
Sebelumnya, sebagaimana dikutip Swamedium.com, Pertemuan ini merupakan kelanjutan pertemuan sebelumnya antara GNPF MUI dengan Pemerintah yang diwakili Menkopolhukam Wiranto dan Wapres Jusuf Kalla dalam seminggu ini.

Pertemuan Tim 7 GNPF MUI dengan Presiden RI Joko Widodo menyikapi berbagai persoalan terutama ketidakjelasan soal hukum yang menimpa ulama dan aktivis Islam, serta penyelesaiannya dengan jalan dialog langsung kepada Presiden.

Menurut Bachtiar, sebenarnya sejak Aksi Bela Islam 4 November 2016 atau yang dikenal dengan aksi 411, mereka ingin berkomunikasi dengan Jokowi. “Takdir menghendaki lain. 212 kita ketemu presiden, tapi tak terjadi komunikasi, presiden hanya sampaikan salam.”

Ketika aksi 2 Desember 2016, Jokowi sempat bertemu dengan massa aksi dan mengucapkan terima kasih kepada massa yang ketika itu menuntut aparat memproses kasus penistaan agama yang melibatkan mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Usai Aksi 212, GNPF kata Bachtiar, kehilangan cara untuk berkomunikasi dengan Jokowi. “Komunikasi selanjutnya lewat Kapolri. Terutama menghadapi kasus, kasus, satu per satu dimasalahkan. Dan, kami difasilitasi dengan Menkopolhukam,” katanya.

Saat bertemu dengan Wiranto, GNPF menyalurkan seluruh aspirasinya, dan Wiranto berjanji menyampaikannya ke presiden. “Kami ingin sekali berdialog. Dialog solusi,” katanya.

Barulah, pada malam takbiran, atau Sabtu (24/6) malam, ada momentum. “Jadi malam terakhir kami duduk dengan Menkopolhukam. Lalu ke Menag. Paginya komunikasi presiden,” kata dia.

Dia mengatakan, pertemuan dengan Jokowi memang terkesan mendadak, namun sebenarnya ada beberapa rentetan peristiwa yang mendahuli pertemuan itu. “Mendadak itu kesannya kami ingin ketemu presiden,” kata dia. (lya)