Rohingnya: Rumah Kami Boleh Hangus Dibakar, Tapi Iman Kami Tetap Berkobar

Hot Issue
Typography

TIBYAN.Id -- Pekan ini, terkumpul Rp 30 juta lebih dari Islamic Centre KH Noer Alie Bekasi. Dana ini terdiri dari sumbangan Islamic Centre bersama para lembaganya, ditambah uang kotak amal jumat (8/9) dan dana yang dikumpulkan spontan oleh Remaja Masjid Nurul Islam Islamic Centre. Dana kecil ini tidak ada artinya bagi skala penderitaan ratusan ribu saudara muslim Rohingnya, tapi ini adalah wujud solidaritas tauhid yang telah ditunjukkan Islamic Centre bersama jamaahnya.

Tragedi pembantaian etnis muslim Rohingnya di Rachine, Myanmar, memang luar biasa kejam. Dari perkiraan PBB yang menyebut angka 30 ribu arus pengungsi yang hijrah ke Bangladesh, nyatanya pekan ini PBB mengumumkan sudah 270 ribu pengungsi itu bergerak memasuki Bangladesh.

Mereka adalah sisa sisa nyawa yang selamat dari pembantaian. Ya pembantaian. Karena lihatlah mereka, ada yang terpotong kakinya, tertembak punggungnya, matanya, mukanya, telinganya, dan sekujur tubuhnya luka dan bersimbah berdarah. Di rumah sakit di Kota Bangladesh dilaporkan oleh PBB kini ribuan nyawa meregang maut.

Dan, ini yang sadis. Mereka yang tak bisa lari dari rumahnya terpaksa hangus dibakar, mati digantung, perut dibelah, dipotong lehernya, disayat kakinya, dan masya Alloh kejaman mereka seperti tak berbatas. Ada gambar di sebuah masjid, mereka terkapar gosong semua. Tampaknya ini gambar jamaah yang sedang sholat kemudian dibakar bersama bangunan masjidnya.

Mereka meninggal karena perlakuan sadistis, dan mereka yang masih hidup terpaksa kehilangan tempat tinggal dan masa depannya.

Ini tragedy kemanusiaan yang sulit untuk digambarkan seberapa berat kekejamannya. Tapi more than it, etnis Rohingnya yang dibantai itu adalah pemeluk Islam. Mereka muslim yang bersaudara dengan muslim lainnya di berbagai belahan bumi ini. Mereka adalah saudara yang harus dibela, dibantu, ditolong, diselamatkan dan diberi tempat untuk menyelamatkan diri.

Muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara, seperti satu kesatuan tubuh. Kalau ada bagian tubuh yang terluka, pasti bagian lainnya akan merasakan sakit dan tentu berusaha menolongnya. Begitu kata Baginda Junjungan Agung kita, Rasul Muhammad s.a.w.

Itu sebabnya, derita muslim Rohingnya membangkitkan solidaritas. Ada yang menggalang dana. Ada yang mengumpulkan bantuan logistic. Dan bahkan ada yang rela berjihad untuk datang ke Rachine langsung untuk membelanya. Ini biasa. Ini sebuah solidaritas iman. Ini adalah panggilan tauhid. Dan ini adalah seruan Allah, agar sesama muslim saling tolong menolong. Bahkan ini adalah ajaran kanjeng Rasul Muhammad.

Kata baginda Muhammad; Kalau kamu menyaksikan kemunkaran, hendaknya kamu turun tangan untuk mencegahnya. Kalau tidak mampu cegahlah dengan seruan, kalau gak mampu juga yang berdoalah. Berdoa kepada Allah agar kemunkaran ini bisa diakhiri, agar saudara yang terzolimi bisa diselamatkan dan dikuatkan.

Tapi apa, aksi solidaritas tauhid ini malah dimacem macami. Dianggap punya indikasi akan menggulingkan kekuasaan, mengganggu Presiden, menciptakan stabilitas di dalam negeri. Oppoooo iki? Islam yang original memang “kal jasadil wahid”, kalau satu terusik yang lainnya merasa sakit. Ini saya katakan Islam yang original, islam yang masih bersih, islam yang belum tercemar oleh kepentingan pragmatis.

Dan, Muslim yang original, adalah muslim yang sadar konstitusi. Jangan takut pak, orang Islam tidak akan main kotor dan tidak main kasar. Kita main jujur dan kalau ada yang main kotor dan tidak jujur pasti tertolak dan ditinggal jauh jauh. Meski kami sadar, kejujuran tidak selamanya harus jadi pemenang.

Kekuasaan yang saat ini ada di tanganmu nikmat nikmatilah saja, kuasai kuasai saja, gunakan gunakan saja sa karepmu. Tapi ketika kami mau memberi simpati dan solidarity kami kepada saudara kami, jangan pula dianggap akan menggoyang dan mengganggu kekuasaan itu. Ah, kamu lebay Pak, berlebihan dan over estimate. Setidaknya pernyataan Bapak tidak mendamaikan hati kami yang sedang berduka untuk saudara kami yang dianiaya di Myanmar.

Sebagian umat seperti saya ini juga sesungguhnya tidak bisa berbuat apa apa untuk saudara kami di Rohingnya. Tapi cinta dan solidarity kami membuat mulut kami tidak bisa diam untuk terus berdoa, bermunajat dan meminta pada Gusti Allah. Meminta agar saudara kami di Rohingnya diberi keselamatan, diberi kekuatan dan diberi kesabaran. Ini adalah ujian.

Dan setiap kali terlintas kemarahan di otak kami terhadap prilaku para pejabat dan elit negeri ini yang menuding macem macem terhadap solidarity kami ini, kami juga minta pada Allah, jangaaaaan samapai terlontar sumpah dari mulut kami. Sumpah kami membahayakan. Tapi doa yang baik yang kami harap terus terucap, termasuk untuk Bapak yang menduung solidaritas kami adalah solidaritas yang punya niat busuk. Tidak pak, kami tetap mendoakan Bapak agar bisa tenang dan tidak gelisah karena praktek kekuasaan Bapak yang kayak gini.

Besok kami tetap akan mengumpulkan dana bantuan kami, meski kami belum tahu pasti bagaimana menyampaikannya ke saudara kami. Buat kami, kepedulian ini adalah bukti cinta kami pada sesama saudara seiman. Ini juga wujud dari kepatuhan kami kepada ajaran tentang persaudaraan yang disampaikan kanjeng Nabi kami, Muhammad s.a.w. Kami yakin, ideology tidak akan pernah kehilangan tempat. Meski rumah kami dibakar, jiwa kami tak ikut hangus.

Salam solidaritas tauhid.