Dari Jalan saya temukan Tuhan, Hidayah itu datang begitu lembut

Oase Iman
Typography

PURWANTI WIDIASTUTI sehari hari dipanggil Wiwid. Sebagai anak jalanan, hidup mengamen dalam gelapnya masa depan. Tapi hidayah Allah membalikkan realitas. Setelah memeluk Islam ia merasa menemukan makna hidup yang hakiki. Ia mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan kini. Maka di depan namanya pun ditambah satu kata baru, Maryam. MARYAM PURWANTI WIDIASTUTI.  Wiwid pun bercerita tentang perjalanan hidup dan pengalaman spiritualnya.

Menjadi muslimah tidak pernah saya cita-citakan. Apalagi kehidupan saya sejak kelas satu SMA memang di jalanan, sebagai anak jalanan, mengamen dari satu bus ke bus lain. Sama sekali tidak terpikir saya akan menjadi muslimah. Langkah saya mengalir apa adanya layaknya orang-orang yang hidup di jalanan. Begadang, nongkrong, mabuk. Hasil ngamen uangnya dipakai buat minum. 

Bersyukur saya masih memiliki satu titik terang, meski sangat kecil dan redup. Titik terang itu adalah tekad tak mau berhenti sekolah. Saya tak mau putus sekolah. Karenanya setiap pagi saya tetap berseragam dan pergi ke sekolah. Pulang sekolah, saya masuk lagi ke dunia jalanan saya, bersama teman-teman saya yang memang enak bertemannya. Di jalanan kami membangun persaudaraan, cinta dan kasih sayang. Komunitas jalanan memiliki ikatan persaudaraan yang kental. Dan ini yang membuat saya betah ada dalamnya, terus mengalir indah sampai lulus SMA dan kemudian saya kuliah di UNJ dan selesai kemudian saya diwisuda tahun 2003. 

Saat itu, saya anak jalanan bangga meraih gelar sebagai sarjana Teknik Transportasi Laut. Tentu saya bangga. Seperti lazimnya sarjana, saya mencari dan dapat pekerjaan. Namun, hidup saya memang bukan  saya yang menentukan. Pendidikan tidak bisa mengalahkan habit saya sebagai anak jalanan. Rupanya kegiatan saya di jalanan dan mencari uang dengan jalan mengamen bukan sekadar urusan perut. Ada cinta di dalamnya. Saya tinggalkan pekerjaan saya. Saya pun kembali ke jalanan dan mengamen.

Meski sudah lulus saya masih sering tampil berkesenian di kampus. Prilaku saya sebagai anak jalanan bahkan mengalahkan formalitas hidup saya yang menuntut berpakaian rapih, aturan waktu dan sebagainya. Jalanan ternyata lebih punya daya pikat. Di jalanan saya menemukan kebebasan, jati diri, persaudaraan. Di jalanan saya mendapatkan kehidupan yang sangat nyata. Bukan hidup yang serba formal dan penuh basa basi.

 

POTRET kehidupan jalanan yang muncul dipermukaan memang melulu sisi gelapnya saja. Padahal jalanan juga punya sisi putih. Di jalanan ada solidaritas, pertemanan, kemanusiaan. Bahkan di jalanan pula saya menemukan Tuhan. Begini kisah pertemuan itu. Suatu hari saya nyetrit. Ini sebuah tradisi di kalangan anak pengamen jalanan yang mau jalan jauh tapi tidak bawa uang. Kami berempat waktu itu. Tujuan Yogyakarta. Dari gitar ditangan, kami dapat makan dan bisa mencapai tujuan.  

Dalam perjalan dengan kreta api ekonomi saat itu, saya tanya kepada teman yang muslim. Kalau sahadat islam itu apa. Karena dalam iman katolik saya saat itu, saya juga punya janji setia yang di dalam islam disebut sahadat. Saya juga saat itu minta dijelaskan tentang “alfatihah”. Dengan gaya anak muda, suasana berlangsung penuh canda dan tawa riang. Saya pun berucap akan masuk Islam, tapi ragu, bisakah saya menjadi muslimah. Teman-teman pun tertawa rame-rame.

Rupanya, di kursi sebelah ada orang lain, usia setengah baya menyaksikan dialog saya. Dengan logat jawa, dia menghampiri kami. Suasana menjadi agak serius. Dia bilang bahwa dia juga dulunya seorang ahlul kitab tapi mendapat hidayah dan menjadi muslim. Karenanya, kalau ada niat ingin menjadi muslimah jangan pernah ragu apalagi takut, bisa jadi itu adalah sebuah hidayah atau penggilan Allah. Ikuti saja jalannya. Lakukan saja sesuai panggilan hati nurani. 

Setelah sampai stasiun, kami berpisah dan semua belalu seakan tanpa kesan. Tapi setiap kali saya sendiri, selalu teringat ucapan bapak di kreta itu. Berbagai pertanyaan tentang keimanan saya muncul lagi. Padahal pertanyaan-pertanyaan ini pernah dilarang oleh pendeta saya saat saya tanyakan waktu masih di kampus. Konsep trinitas yang saya tanyakan tidak memuaskan jawabannya. Namun sang penderta saat itu melarang saya untuk bertanya hal-hal sejenis. Karena pertanyaan sejenis itu bersumber dari setan untuk mengganggu iman seseorang. 

Saya juga dipasok informasi negatif tentang Islam. Seorang muslim bisa berkali-kali menikah. Prianya bisa punya beberapa isteri. Ini untuk memprotek saya agar tidak tertarik pada Islam. Padahal bapak saya yang menceritakan itu tak juga bisa menghindari menikah lebih dari satu kali. Saat ibu saya meninggal bapak pun menikah lagi. Kami sadar bapak memerlukan isteri. Tapi imannya yang hanya mengenal satu pernikahan tak bisa menghalanginya. Bahkan karena menjaga doktri sekali pernikahan, rumah tangga yang sudah tidak harmonis, suami isteri yang tak lagi ada kedamaian, tidak bisa diselesaikan oleh iman mereka. 

Ingatan itu muncul lagi, mengapa ada beberapa tuhan dalam gereja dan yang mana yang paling patut diikuti, mengapa saya tidak boleh mendapat jawaban dari pergumulan ini. Saya tidak puas. Seiring dengan itu saya pun mengingat kembali dialog bapak di kereta itu lagi. Ungkapannya memantapkan saya untuk tahu Islam. Saya pun mulai mencari dan bertanya tanya. Siapa tahu ini adalah hidayah. Siapa tahu ini adalah ajakan Allah untuk saya bisa berdamai didalam pelukannya.

KEGELISAHAN spiritual saya terus berlanjut. Saya mulai malas ke gereja. Saya bertanya kepada teman-teman tongkrongan saya di jalanan. Tentang syahadat, tentang alfatihah dan sebagainya. Sebagai seorang katolik saya mengerti poin-poin penting keimana saya tapi banyak juga umat katolik yang tidak tahu karena mereka tidak mau belajar dan tidak mau membaca. Teman-teman saya yang mengaku muslim saat itu bisa jadi sama dengan kelompok yang ini, tidak tahu agamanya karena tidak mau belajar. 

Ketika niat saya masuk Islam tercetus teman-teman saya ini justeru sangat mendukung. Ada yang mengajarkan gerakan sholat. Ada juga yang mengajarkan beberapa bacaan sholat. Meski mereka sering lalai sholat, tapi satu dua ada juga yang hafal bacaannya dan bisa gerakannya. Saya belajar, dan diam-diam saya mempraktekkannya. Saat itu saya mulai meninggalkan gereja.

Suatu hari masih di tahun 2003, malam takbiran, saya menyaksikan kesibukan umat Islam yang akan merayakan sholat iedul fitri. Saat itu saya dan teman-teman sedang mangkal di Pasar Baru Bekasi. Hingar pembeli dan penjual pakaian menciptakan suasana riuh dan sangat ramai. Saat itulah saya melihat sebuah mukenah (pakaian sholat wanita) tergantung di kios pedagang tersorot lampu neon dan tampak sangat bercahaya. Saya minta teman teman saya untuk membelikan itu. Saya mau sholat ied besok pagi.

Teman-teman pun serentak memenuhi permintaan saya. Kami kembali ke kosan teman. Hidup saya memang masih “menclok” dari satu kosan teman ke teman yang lain. Dan di daerah dekat Pasar Baru itulah paginya saya bisa melakukan sholat secara terbuka, sholat iedul fitri. Saya semakin bulat tekad untuk menjadi muslimah. Saya tinggalkan keimanan katolik saya.

UNTUK KEPERLUAN administrasi pernikahan saya, saya membutuhkan legalitas. Saya memerlukan syahadah resmi. Di Islamic Centre Bekasi inilah, dibawah bimbingan pak kiyai Abid Marzuki saya mengucapkan dua kalimah syahadah,  asyhadu an laailaaha illalloh wa asyhadu anna muhammadur rasulullah. Saya pun mendapat sertifikat keislaman itu. Namun semua ijazah saya masih tercatat saya sebagai seorang katolik.

Kalau saya renungkan, apa yang membuat saya terpanggil untuk masuk Islam, saya juga tidak tahu. Panggilan Allah itu datang dengan sangat lembutnya sampai saya sendiri tidak bisa merasakannya. Saya yakin benar, hidayah Allah membalikkan hati saya untuk berpaling ke jalan kebenaran. Memang Allah lah yang membolak balikkan hati manusia. Saya yakini itu.

Untuk menjaga keimanan saya pun perlu mengapdet setiap saat. Saya perlu belajar, membaca dan mengaji. Saat ini saya juga tahu banyak aliran, namun saya diajarkan tak boleh terjebak pada aliran mazhab itu. Saya berpedoman hanya pada Quran dan Hadits. Namun saya belajar kepada semua. Saya tidak ingin menjadi muslimah yang tidak ngerti apa-apa. Sampai untuk menjelaskan sahadah dan alfatihan saja tidak bisa. Menjaga iman saya perlu membaca dan belajar.

Namun takdir saya memang tidak lepas dari jalanan. Bersama Bang Anay, saya saat ini membangun kreativitas dan kehidupan anak-anak jalanan. Ada sanggar Sastra Kalimalang, ada sekolah pinggir kali. Saya ingin anak anak jalan memiliki kesempatan juga untuk maju. Tiap sabtu, anak-anak sanggar  diberikan ruang di Radar Bekasi untuk menampilkan puisi atau karya seni lainnya. Juga pernah mengisi  kegiatan seni di Sekolah Tinggi Agama Islam Attaqwa. Kini, saya bahagia bersama suami dan dua anak saya. Yang masih dalam kandungan ini yang ketiga. Di jalanan saya menemukan pilihan hidup yang nyata, kebahagian dan kedamaian yang hakiki. Karena dari sini saya mendapat peluk dan kasih sayang Allah. ***