Misionaris Cari Kesalahan Islam Eh....Malah Dapat Hidayah

Oase Iman
Typography

TIBYAN_ Jamak kita dengar orang masuk Islam karena ingin menikahi gadis Islam. Ada juga yang masuk Islam karena bermimpi bertemu dengan nabi Muhammad, atau ada suara hati yang membuatnya tertarik dengan Islam, terpesona dengan lantunan ayat suci Al Qur'an, dan azan. Dan, tak sedikit orang masuk Islam karena agama yang  dianutnya tak dapat menjawab kegelisahan hatinya dan menemukan islam.

Berbeda dengan Bernard Abdul Jabbar, yang bersyahadah tahun 2000  di Jakarta. Ia memastikan diri meninggalkan keyakinannya dari Katolik dan memilih islam sebagai agama dan keyakinannya setelah malang melintang di dunia missionaris selama lebih 5 tahun. Sebelum memantapkan  diri masuk islam ia lebih dulu mempelajari dan mendalami  islam.

Ketertarikannya kepada Islam berawal dari tugasnya sebagai seorang missonaris. Ia diwajibkan untuk  menghafal alqur'an meskipun tujuannya untuk menyerang islam dengan cara mencari sisi kelemahan Islam, sebagaimana yang dilakukan oleh para orientalis. Mereka mengkaji dan mendalami Islam bukan untuk diimani dan diamalkan tapi justru digunakan untuk melemahkan serta menghabisi Islam.

Untuk menjadi seorang missionaris yang handal perlu penguasaan Islam, Bahasa Arab, dan hapalan Al Qur’an. Iapun mulai berlajar Islamologi salah satu bidang studi di sekolah Teologia. Belajar Tauhid,  Fkih, Tarikh, dan menghapal Alqur’an dan Hadis. Sebelum masuk Islam sudah sempat hapal  5 juz Alqur’an  dan sejumlah hadis.

Dengan memahami Islam Bernard Abdul Jabbar  lebih mudah masuk ke tengah-tengah umat islam tanpa sedikitpun kecurigaan kalau ia  adalah seorang Katolik yang akan merusak pemahaman orang islam, yang mayoritas islam keturunan dan tak terlalu paham dengan islam.

Kalau kita ingin memenangkan peperangan kita harus tau kelemahan musuh dan berani memasuki daerah musuh. "Kalian harus menjadi domba di tengah serigala"  katanya saat diwawancari TIBYAN, di masjid Nurul Islam komplek Islamic Centre KH. NOER ALIE, Kota Bekasi, Senin (5/5), dengan mungutip Al Kitab ayat Matius 10:16.

Banyak missionaris yang belajar islamologi dan menghapal alqur'an tapi tujuannya untuk mencari kelemahan. Saya adalah salah seorang dari 500 missionaris yang belajar islam dan menghapal alqur'an untuk mencari kelemahan kelemahan islam.

Yang membuat saya penasaran semakin  mendalami Islam malah  menemukan kebenaran yang hakiki dalam islam. Saya tak menemukan kesalahan dalam islam. Niat awal untuk menemukan kesalahan Islam malah menemukan kebenaran.

Hati saya semakin menemukan kebenaran setelah membaca surat Ali Imran ayat 19. "Sesungguhnya agama disisi Allah ialah Islam." hatinya semakin mantap  membaca Surat Ali Imran ayat 85, " Dan barang siapa yang mencari agama selain islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat di termasuk orang yang merugi"
Sementara pada ayat 83 pada surat Ali Imran mempetanyakan orang yang mencari agama srlain agama Allah.

Itulah yang menggugah hati saya semakin mantap untuk memilih islam sebagai agama dan keyakinan saya. Sangat berbeda ketika saya mendalami agama Katolil. Semakin saya dalami malah semakin jauh dari kebenaran.

Ketika ia bersyahadah, semua keluarga yang masih menganut Katolik protes keras. Berbagai tekanan ia peroleh baik dari keluarga maupun dari teman temannya sesama missionaris. Mereka menyesalkan sikapnya ia memilih pindah agama danenjadi Islam.

Tapi tekanan yang datang bertubi tubi dapat ia laluo dan berhasil membawa keluarganya, orang tua dan kaka adiknya masukk islam. Yang terakhir dari keluarganya masuk islam adalah adeknya seorang biarawati yang sekarang sudah menjadi ustazah.

Tokoh islam yang paling ia kagumi pada awal awal ia masuk islam adalah Husein Umar (almarhum) manatan Ketua Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia dan seorang kristologi, Ramly Nawawi (almarhim).