Andalusia dan Azzikro, Oase Spiritual di Sentul

Rihlah
Typography

Ada fenomena baru dalam dunia jalan-jalan. Orang-orang modern yang sukses, bisa jadi karena sudah bosan menjelajah keindahan siang dan pesona malam, mereka menemukan cara baru berlibur. Ada yang berumroh, atau umroh sambil jalan-jalan menapak tilas peradaban Islam. Ke Palestina, Mesir, Turki, Spanyol, Yordania dan bahkan ke Yerussalem. Buat yang tak mampu menjangkaunya, pilihan wisata spiritual lokal tak kalah menariknya. Satu diantaranya berakhir pekan di Masjid Andalusia, di Sentul, Bogor, Jawa Barat yang dibina Dr Syafiie Antonio.

Atau di sebelah barat Sentul ada Masjid Moammar Khadafi. Ini juga magnit baru wisatawan. Hampir tiap akhir pekan selalu ada yang menarik. Dzikir, ceramah atau tabligh akbar. Di masjid binaan Arifin Ilham ini memang kegiatanya lebih banyak berupaka zikir. Namanya juga majelis zikir, maka seperti itulah yang paling dominan di Azzikro. Sedangkan di Andalusia yang dibina Dr. Syafie Antonio, ekonom syariah, lebih menonjol kampusnya, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia. Karenanya kegiatannya lebih bernuansa pengetahuan.

Nah kedua pusat spiritual Islam dari dua mubaligh kondang ini rupanya bisa membangun imej baru Sentul. Andalusia dan Tazkia adalah oase di sebuah kegersangan hidup orang-orang modern yang pragmatis dan matrialistik. Syafiie dan Arifin mampu memberi keseimbangan kehidupan antara duniawi dan ukhrowi. Di saat orang tenggelam dalam tuntutan hidup yang serba materi, glamour, nafsu, gaya hidup yang mengumbar syahwat, Andalusia dan Azzikro datang menyadarkan mereka tentang konsep kehidupan damai dan Indah dalam persepektif Islam. Arifin memberi kepuasan jiwa melalui zikirnya yang sering kali jamaahnya sampai nangis sesenggukan, Syafiie Antonio membangun perspektif baru dalam pemikiran Islam yang kaya dengan kajian ilmu.

Salah satu paket kegiatan weekend menarik dari Andalusia adalah pengajian yang diasuh langsung Dr Syafie Antonio. Setiap ahad pekan kedua, pengajian ini digelar dengan apik. Penyajiannya menjawab kebutuhan jamaahnya dengan tema sentral “Sukses, Kaya dan Bahagia.”  Satu persatu sifat Allah dibahas secara mendalam oleh Syafiie.

“Sifat-sifat Allah ini bukan sekadar dihafalkan, tapi di dipelajari dan digali referensinya menjadi sebuah ilmu berharga dan luar biasa,” kata Syafiie Antonio menjelaskan.  Dalam sebuah penjelasan, Syafiie menyebut pada saat kejadian manusia, Allah meniupkan sebagian dari potensinya kepada hambanya. Potensi itu ditafsirkan sebagai sifat-sifat Allah yang tercermin dalam nama-nama Allah, alias Asmaul Husna.

Sejak sekitar empat tahun silam, pengajian ini menjadi pilihan banyak keluarga muslim. Mereka adalah keluarga sibuk yang ingin ngaji tapi juga bisa berlibur bersama keluarganya. Bukan hanya dari Jakarta, tapi dari Karawang, Sukabumi, Tasikmalaya, Tangerang dan berbagai daerah lainnya. Umumnya mereka membawa keluarga. 

Pengajian dimulai pukul 08.00. Tidak banyak basa basi, saat dibuka, panitia memutarkan cd asmaul husna. Jamaah mengikuti alunan zikir itu dengan lampu yang dibuat redup. Banyak yang dibuat menangis oleh koreografi sederhana tapi kena di jiwa. Setelah itu, Syiafie langsung menjelaskan satu asmaul husna, dibahas menggunakan proyektor. Biasanya ada tamu tokoh yang diberi kesempatan bicara sesuai kapasitasnya. 

Pembahasan dimulai dari aspek lughoh (bahasa), historis, tinjauan ekonomi, syariah, budaya, filsafat dan sebagainya. Satu nama Allah yang bermanka satu sifat Allah dikaji dari berbagai sudut pandang. Menariknya, penjelasan Syafiie memang menjawab gejolak spiritualitas masyarakat kota, sesuai dengan kecenderungan yang menjadi mimpi mereka. Al hasil, pengajian ini menjadi pilihan orang modern yang sedang mencari jati diri mereka di bidang spiritualisme.

Minggu kedua bulan ini pengajian diadakan pada 10 Mei. Dua tamunya adalah DR. Ing. H. Ilham Habibie, MBA (Ketua ICMI) dan Rachmat Gobel (Menteri Perdagangan). Mereka akan mengkaji Al Haqq (Maha Benar). Seperti pada bulan-bulan sebelumnya, pengajian i ni ramai dikunjungi. Termasuk mahasiswa dari berbagai jurusan.

Pengajian ditutup dengan sholat zuhur berjamaah. Setelah itu, jamaah pun tidak susah mencari buruan kulinernya. Kalau mau singkat, ya mie kocok, nasi uduk, nasi ayam dan aneka kuliner lain di kantin masjid dengan dorongannya es krim durian atau es cendol. Atau melangkah sedikit di depan masjid, ada RM Mang Kabayan, atau RM Lekko. Keduanya recomended. Aneka pilihan makanan ada di sini. Semuanya enak-enak. 

Atau lebih ke dalam, ada pasar Ah Pong. Nah ini restoran yang menggunakan model food hall. Memasuki areal ini harus melewati jembatan gantung. Unik.  Dan di sini pula tempat selfi paling popular di kalangan pengunjung. Jangankan anak muda, kakek nenek yang udah bangkotan yang jalannya sudah dituntun masih ada yang tampak berselfie ria di sini. Top dua jempol.

Sekelilingnya adalah kali. Pengelola pintar memanfaatkan potensi alam ini. Mereka atur debet airnya sehingga bersahabat bagi anak-anak. Beberapa gondola dilepas untuk disewakan. Maka orang pun bisa berlama-lama menikmati kuliner sambil memandang alam yang tampak sangat ramah. Karena berlama-lama itulah, meja dan tempat duduknya jadi susah didapat. “Kalau udah week end apalagi long week end, ya sabar-sabar aja dapet meja dan tempat duduk,” kata Mang Ujang, bar tender.

Syafiie Antonio dan Arifin Ilham adalah dua tokoh da’i muda yang layak dapat acungan jempol. Keberaniannya membangun dua pusat kegiatan Islam ditengah derasnya arus kapitalisme di kawasan sentul membuat cerita jadi berimbang. Tana Azzikro atau Andalusia, bisa dibayangkan kawasan Sentul menjadi tandus, gersang, kering ditengah rimbunnya hijau pepohonan.

Untuk memadukan perjalanan week-end spiritual yang lebih asyik di Sentul, keluarga Ibu Nur dari Bekasi punya schedule yang boleh ditiru. Mereka sekeluarga berangkat dari bekasi selepas sholat subuh, sehingga masuk ke cipayung dalam kondisi masih longgar dan sejuk. Pagi seperti itu kawasan puncak masih bisa dinikmati. 

“Ke atas bisa juga karena alasan mengejar bubur bunut di parkiran Red Factory Outlet,” katanya. Bubur ini favorit keluarganya. Sehingga jam tujuh prosesi santap bubur sudah selesai dan mereka pun turun lagi ke bawah. Sekali lagi, saat-saat itu puncak masih bisa dinikmati. Mereka turun lagi ke Ciawi dan mengejar sebelum pukul 08.00 harus sampai di Andalusia, dan masuk ke majelis sampai lohor.

Usai pengajian, selain di beberapa resto kawasan Sentul bisa juga naik ke Ciawi atau Bogor. Bisa pilih banyak makanan. Tapi menjelang waktu ashar mereka sudah lari lagi ke Azzikro atau ke Andalusia untuk sholat ashar berjamaah. Usai sholat Ashar, tak ada lagi pilihan lain selain masuk tol dan bablas pulang. Mau coba? (Amin Idris)