Wisata Spiritual Ke Guangzhou Bangunan Masjid dan Klenteng, Pembedanya Kaligraf

Rihlah
Typography

Selain Hongkong, Beijing dan Shanghai, Guangzhou adalah kota yang paling banyak menjadi destinasi wisatawan. Bukan hanya wisatawan Indonesia, dari berbagai negara pun memilih Guangzhou sebagai tempat tujuan jalan-jalan mereka. Wisata spiritual pun menjadi trend baru di saat ini.

Ada beberapa tempat pavorit di Guangzhou. Yang suka jalan-jalan santai bisa mangkal di kawasan Jalan Beijing (Beijing Lu).  Yang suka kuliner, Guangzhou memang menjadi tempat kuliner top. Semua aneka makanan dunia ada di sini, dan cita rasa yang disajikan sungguh luar biasa. Bagi yang muslim, jangan khawatir, tak susah mencari restoran halal di sini. Umumnya, orang datang ke ke Guangzhou untuk rekreasi dan belanja.

Dari sekian banyak tempat jalan-jalan yang murah meriah ada di Sungai Mutiara. Sungai besar yang membeiilah kota Guangzhou ini bukan hanya bersih, tapi sudah bersolek dari ujung ke ujing. Hanya nongkrong-nongkrong sore, pinggir sungai yang satu ini memang bikin betah. Di sini saat itu, saya memilih fasilitas wisata sungai, yakni naik kapal kecil dan berputar-putar mengelilingi sungai.

Sepanjang tepi sungai, pemerintah kota telah memasang lampu-lampu hias. Semakin indah pemandangan ketika gedung-gedung pencakar langit yang berjajar di sepanjang sungat itu memamerkan aneka lampu hias. Terang, indah dan amat mempesona menjelajah sungai mutiara dengan mini cruise. Buffe pun disediakan di dalam kapal kecil ini yang biayanya suddah incharge di dalam harga tiket. So, menyantap hidangan makan malam sambil berlayar di sungai mutiara, menjadi kenangan yang sulit terlupakan.

Tiga Masjid Tua di Guangzhou

Ada tiga buah masjid di Ibu kota Provinsi Kanton ini. Masjid Huaisheng di Jalan Guang Ta No 56. Masjid ini masjid pertama dan menjadi masjid tertua, dibangun mada masa awal dinasti Tang. Ada lagi Masjid Hao Pan di  Jalan Hao Pan, Tiancheng, dan satunya lagi Masjid Dongying di Xiao Dongying Yue Hwa. Yang keempat sebetulnya bukan masjid, tapi makam salah seorang sahabat nabi, Saad bin Abi Waqos. Di kawasan pemakamannya ini dibangun masjid. Kawasan yang terdiri dari beberapa bangunan dan masjid serta taman ini dikenal sebagai Abu Waqos Tomb. 

Wisatawan muslim, umumnya yang datang dari kawasan Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Indonesia, pasti tidak pernah melewatkan kesempatan mengunjungi empat tempat bersejarah ini. Mereka bisa santai-santai, bermain-main di taman masjid, atau sekadar shoping benda-benda yang berlabel muslim. Atau sekadar menghabiskan waktu di kafe atau rumah makan atau kedai teh yang ada di kawasan itu. Suasana keislaman terasa “nyambung” dengan lingkungan sekitar.

Banyak pula pengunjung dari Afrika, termasuk dari negara-negara arab. Mereka mendominasi lingkungan itu. Setiap memasuki waktu sholat, ruang utama masjid baru dibuka. Muazin, imam dan pengelola masjid langsung membuat shof-shof sholat. Saat itu kantin di dalam kawasan masjid, kantor, toko souvenir tutup untuk mengikuti sholat. Cukup banyak jamaah setiap waktu. Saya pernah mengikuti sholat isya berjamaah. Subhanalloh, bangunan utama masjid penuh.

Islam di Guangzhou sudah masuk sejak lebih dari 1300 tahun silam. Pelopornya ya Saad bin Abi Waqas yang diminta Rasulullah Muhammad berdakwah ke negeri Tirai Bambu ini. Di masa Abi Waqas lah masjid Huaisheng dibangun, sebagai masjid pertama di Guangzhou, dimasa awal berkuasanya Dinasti Tang. Satu yang menjadi ciri khas masjid ini adalah menara. Menara bukan khas arsitektur China, tapi Arab. Karena itu Masjid Huaisheng dikenal juga sebagai Tower Mosque atau disebut juga dengan nama Guangzhou Mosque. Menara pada masjid ini menjadi cagar budaya nasional. Sementara masjidnya, bersama tiga masjid lainnya, termasuk makam Saad bin Abi Waqas menjadi cagar budaya dicatatkan sebagai cagar budaya pemerintah provinsi.

Masjid Tanpa Menara dan Kubah

Arsitektur Masjid di Indonesia atau di banyak negeri selalu menonjolkan dua ciri, yakni menara dan kubah. Di Guangzhou, saya hanya menemukan satu menara yang ada pada masjid pertama dan tertua di Guangzhou, yakni masjid Huaisheng. Menara inilah yang menandakan masjid. Menara ini pernah berganti fungsi, seiring dengan fungsi bangunan masjid. Pernah menjadi mercusuar, menjadi tempat tawanan, dan saat ini kembali menjadi bagian dari masjid. Pada ketiga masjid yang lainnya tidak ada menara.

Kubah sama sekali tidak ada selain pada bangunan kecil makam Saad bin Abi Waqos. Posisinya tentu tidak menonjol, tertutup oleh arsitektur bangunan bangunan lain yang mengusung disain arsitektur China. Nyaris tidak ada perbedaan dengan bangunan klenteng Sam Poo Kong di Semarang atau klenteng-klenteng lainnya. Yang membedakannya hanya terlihat pada seni kaligrafi yang menghiasi bangunan utama masjid.

Masjid-masjid di Guangzhou memang dibangun sebagai kawasan komunitas muslim. Bukan hanya ada bangunan utama masjid, tapi seperti pada masjid Huaisheng yang luasnya 2966 m2 ini banyak kegiatan umat muslim China digelar. Bangunan utama masjid ada di tengah. Ada mess untuk keluarga ta’mir dan karyawan. Ada lembaga pendidikan, seperti taman kanak-kanak atau taman pendidikan Alquran. Ada kantor, kantin dan toko souvenir. Seluruh sudut tertata dengan taman-taman, pepohonan dan kolam ikan. Indah. Orangpun tak bosan untuk berlama-lama di masjid.

Rupanya bukan hanya di Istiqlal atau masjid pada umumnya di Indonesia. Setiap hari jumat usai sholat, selalu saja ada pasar dadakan. Di masjid Huaisheng pun demikian. Banyak barang-barang khas menarik dijual, juga makanan jajanan khas di sepanjang jalan di sekitar masjid. Rumah-rumah makannya pun repot melayani jamaah Jumat yang makan atau sekadar jajan. Subhanalloh, masjid sampai ke Guangzhou pun tetap memberi keberkahan. (amin idris)

Masjid Huaisheng :

Beri Perlindungan Hak

Letaknya di Guang ta Lu no 56. Masjid ini sebagai bukti pertama masuknya Islam di Guangzhou. Dibangun pada awal dinasti Tang oleh Saad bin Abi Waqas.Arsitekturnya sepenuhnya bergaya China kecuali pada menara yang tinggonya 36,3 meter. Pernah ditutup dan dijadikan gudang, baru pada tahun 1980 an, tempat ini difungsikan kembali sebagai masjid. Tangun 1996, menara ini dicatatkan sebagai bangunan cagar budaya nasional. Pada tahun 1999 mendapat penghargaan nasional sebagai masjid tertua di Guangzhou. 

Di masjid ini pula terdapat kantor Guangzhou Islamic Association. Dari sini berbagai kegiatan dan perlindungan hak-hak umat Islam mendapat perhatian. Tamu-tamu negara, khususnya yang dari Indonesia yang berkunjung ke Guangzhou seringkali diagendakan ke masjid ini. Gambar presiden Soeharto dan Ibu Tien juga gambar Presiden BJ Habibie dan Ibu Ainun, saya tihat terpampang dialbum dokumentasi masjid ini. (*)

Masjid Hao Pan :

Mengajarkan Bahasa Arab

Masjid ini dibangun tahun 1465 di masa pemerintahan Dinasty Ming. Letaknya di Jalan Hao Pan No 378 di kawasan Tiancheng. Nama masjid ini diambil dari nama jalannya. Di atas lokasi seluas 1491 meter masjid ini masjid ini lebih banyak memperhatikan aspek pendidikan umat Islam. Dari masjid ini lahir sebuah Universitas Muslim. Dari sini juga disalurkan dana beasiswa untuk bidang-bidang sejarah Islam. Beberapa majalah tentang Islam juga terbit dari masjid ini. Sebelum dan sesudah revolusi budaya di China, masjid ini mendapat fitnah luar biasa. Sehingga perhah beralih fungsi menjadi pabrik. Tahun 1998 masjid ini difungsikan kembali. Kini di tempat ini diselenggarakan pusat pendidikan bahasa arab. (*)

Masjid Dongying :

Pengurusan Janazah Muslim

Masjid ini dibangun oleh para pendatang tentara Hui dari provinsi di luar Kanton sekitar 500 tahun silam. Masjid ini terletak di Jalan Yue Hua. Di masjid ini terkenal sebagai penyelenggara prosesi pemakaman. Mulai dari memandikan jenazah, pembungkusnya secara syar’ie, menyolatkannya dan membawanya kepemakaman. Seringkali ada orang muslim yang meninggal, maka keluarganya bisa datang ke masjid ini untuk memperoleh bantuan pengurusan janazah. (*)

Abi Waqos Tomb :

Dikunjungi Banyak Wisatawan

Sejarah memang masih perlu pembuktian. Pernyataan ini bukan meragukan tapi membuka peluang untuk sebuah kebenaran. Lembaga dakwah Islam Guangzhou pun menyebut makam ini dengan nada seperti itu. “It is said that Shaabi Tomb was the tomb where Abi Waqas was buried,” tulis selebaran penjelasan tentang makam ini. Memang ada makamnya, dan memang dikenal sebagai makam Saad bin Abi Waqas. Lokasinya sangat strategis, disebelah Taman Yuexieu, Jie Fang Bei Road. Sejak ribuan tahun silam, umat Islam lokal atau mereka yang datang dari luar negeri selalu mengunjungi tempat ini sekadar untuk berziarah dan memberi penghormatan.  (*)