Di Planetarium, Mereka Tak Sekadar Berdarmawisata

Rihlah
Typography

TIBYAN-- Seperti gaya para peneliti, anak anak sekolah dasar ini dengan khusuk menguliti setiap detail barang-barang yang dipamerkan. Umumnya camera, teleskop, projector sampai pernak pernik planet. Mereka adalah siswa siswi Bimbingan Belajar Mitra Insani yang sedang dibawa para pembimbingnya berwisata ke Planetarium Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Bagian yang paling banyak diminati rupanya pakaian astronot. Mereka mencatat setiap detail nama nama bagian dari pakaian itu. Yang menarik lainnya adalah gugus galaksi dengan hamparan bintang gemintang. “Pak aku mau jadi astronot, biar bisa jalan menjelajahi galaksi dan melihat dari dekat bintang bintang,” kata salah satu siswa.

Inilah sebuah wisata edukasi. Anak-anak mendapatkan refreshing sekaligus memacu semangatnya dan membawa mimpinya jauh melampaui realitasnya. Hampir setiap benda yang dipamerkan memacu semangat mereka untuk bertanya. Karena memang, sebelum berangkat pembimbing mereka telah membekalinya dengan beberapa pertanyaan yang harus dicari jawabannya.

“Sederhana saja pak pertanyaannya”, kata Ibu Wiwik Rofiantini, kepala Bimbel Mitra Insani. Salah satu tugas yang diberikan adalah mencari benda paling menarik di ruang pameran lalu cari informasi sebanyak-banyaknya tentang benda itu dan tuliskan. Luar biasa rupanya, anak anak sangat antusias.

Planetarium Jakarta

Planetarium dan observatorium Jakarta merupakan salah satu tonggak sejarah di bidang Iptek Ke astronomian. Digagas pertama kali oleh Bung Karno, presiden pertama RI, didukung ITB, untuk tujuan agar bangsa Indonesia tidak tertinggal di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Lebih dari itu, bangsa Indonesia yang dikenal kaya dengan budaya dan peradaban menyimpan banyak kisah, legenda dan bahkan tahayul. Bung Karno tidak menghendaki, fenomena alam yang sesungguhnya bisa dipelajari secara rasional, berkembang menjadi tahayul. Ini antara lain mengapa observatorium ini dibangun padda tahun 1964.

Tahun 1996, gedung ini direnovasi dan ditambah kelengkapannya dengan berbagai peralatan yang lebih modern. Proyektornya diganti dengan proyektor universal model VIII yang lebih canggih pada jamannya.  Layar kubahnya diganti dengan yang lebih modern meski konsekuensinya mengurangi kapasitas tempat duduk dari 500 menjadi 320 kursi.

Dan disinilah tempat para anak anak pelajar, mahasiswa atau bahkan masyarakat umum yang membutuhkan pengetahuan tentang astronomi. Entah itu untuk kepentingan penelitian atau untuk kebutuhan lain yang lebih khusus, misalnya merukyat hilal dan sebagainya.

Siang itu, bersama para pelajar Mitra Insani, ada ratusan wisatawan yang antri membeli tiket. Suasananya menarik karena mengawali pertunjukan mereka bisa melakukan pengamatan langsung di ruang pameran. “Kami ingin terbang ke langit,” begitu mimpi anak anak yang berwisata di Planetarium.

Wisata Edukasi

Jalan jalan alias rihlah hendaknya tidak sekadar menghindar dari rutinitas. Bagi anak anak sekolah rihlah itu hendaknya memiliki muatan edukasi yang menarik. Bagaimana dengan jalan jalan, setiap anak bisa mendapat suasana berbeda dari keseharian mereka lalu memperoleh pesan-pesan menarik dari apa yang dilihatnya.

Kecenderungan berjalan jalan bagi anak anak sekolah hanya mempertimbangkan aspek wisata saja sepatutnya dipertimbangkan kembali. Yang penting, bagaimana mereka berwisata dengan membawa pertimbangan lainnya misalnya aspek edukasi dan aspek spiritual.

“Kami selalu membawa anak anak ke Planetarium, Ke Taman Mini, Ke Museum, ke Istana Presiden, ke Istiqlal atau ke Monas,” kata Ibu Wiwik Rofiantini. Hampir setiap kesempatan kami pilih ke tempat tempat ini. Bagi gurunya mungkin bisa bilang bosan, tapi anak anak ini selalu menjadi pengalaman pertama.

Bersama rombongan anak anak bimbel ini, ikut serta ketua Yayasan dan Pembinanya bersama para guru pembimbingnya. Bagi kami, begitu cerita Ibu Nurmani ketua Yayasan Mitra Insani, pendidikan adalah proses  melahirkan generasi masa depan yang terintegrasi antara iman, ilmu dan amal.

Bagaimana pendidikan bisa membangun masa depan seorang anak untuk menjadi pribadi yang baik dan pintar, bukan baik tapi bodoh. Baik itu adalah sebuah proses pembinaan spiritualitasnya. Sementara untuk pintar adalah pembinaan intelektualnya.

Anak pintar tapi tidak benar sama buruknya dengan anak bodoh meski dia benar. Karena itu sebuah lembaga pendidikan masa depan adalah yang bisa mengintegrasikan aspek aspek spiritualitas ini dengan aspek intelektualitasnya.

Untuk mencapai target itu memang tidak cukup hanya dilakukan oleh sekolah. Tapi juga orang tua, lingkungan, media dan pemerintah. Semuanya punya tugas seimbang untuk membangun generasi yang berilmu, beriman dan beramal soleh.

Siang itu, dari planetarium mereka dibawa ke museum sumpah pemuda. Lalu mengakhiri kunjungan di Masjid Istiqlal. Subhanaloh, perjalanan sederhana tapi syarat makna.(*)