Imam Bukhari, Pernah Buta Namun Hafal Seribu Hadist Sahih

Rihlah
Typography
SIAPA yang tidak mengenal tokoh periwayat hadis terkemuka dunia, Imam Bukhari, atau nama sebenarnya Muhammmad bin Ismail bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari al-Ju'fi?  
 
Ia dilahirkan di  Bukhara, Uzbekistan, bulan Syawal tahun 194 Hijrah. Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui, ulama besar yang pernah mengelilingi dunia 
untuk mencari ilmu dan menghafal ratusan ribu hadis Rasulullah SAW itu dilahirkan dalam keadaan buta kedua matanya.
 
Namun, keajaiban terjadi, ketika pada suatu malam ibunya bermimpi melihat Nabi Ibrahim a.s.   yang berkata kepadanya,“Hai Fulanah (yang dimaksudkan adalah ibu Imam Bukhari), sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata puteramu kerana kamu selalu berdoa”.
Ternyata pada pagi harinya si ibu menyaksikan bahwa Allah telah mengembalikan penglihatan kedua belah mata puteranya itu, Bukhari kecil.
 
Pada usia 10 tahun, Bukhari  memulai pengembaraannya ke berbagai negeri. Ia mengembara ke Balkh, Naisabur, Rayy, Baghdad, Bashrah, Kufah, Mekah, Mesir, dan Syam untuk menuntut ilmu. Di antara gurunya yang paling terkenal adalah Imam Muslim bin al-Hajjaj An-Naisaburi, yaitu ulama penyusun kitab Sahih Muslim.
 
Imam Bukhari sangat terkenal dengan kecerdasan dan kekuatan hafalannya. Beliau pernah berkata, “Saya hafal 100,000 hadis sahih, dan saya juga 
hafal 200,000 hadis yang 
tidak sahih. Setiap hadis yang saya hafal, pasti dapat saya sebutkan sanadnya (rangkaian perawinya),” kata Imam Bukhari.
 
Beliau juga pernah ditanya oleh Muhamad Abu Hatim Al-Warraaq, “Apakah engkau hafal sanad dan matan setiap hadis dimasukkan ke dalam kitab yang engkau susun (kitab Sahih Bukhari)?’’
Bukhari menjawab, ‘’Semua hadis yang saya masukkan ke dalam kitab itu sedikit pun tidak ada samar bagi saya.”
 
Tidak heranlah jika banyak ulama dan imam sezaman dengannya sering memberikan pujian kepada beliau. Berikut antara pujian kepada Imam Bukhari:
 
Muhammad bin Abi Hatim berujar: “Saya mendengar Imam Bukhari berkata, Para sahabat Amr bin Ali al Fallaas pernah meminta penjelasan kepada saya tentang status (kedudukan) sebuah hadis. Saya katakan kepada mereka, Saya tidak mengetahui status (kedudukan) hadis tersebut. Mereka menjadi gembira kerana mendengar ucapanku itu, dan mereka segera bergerak menuju ‘Amr. Lalu mereka menceritakan peristiwa itu. ‘Amr pun berkata kepada mereka, Hadis yang status (kedudukannya) tidak diketahui oleh Imam Bukhari bukanlah hadist’.”
 
Imam Bukhari mempunyai karya besar dalam bidang hadist. Di antara kitabnya yang terkenal adalah Al-Jami’ juga dikenali As-Shahih atau Sahih al-Bukhari. Para ulama mengatakan bahwa kitab Sahih al-Bukhari ini merupakan kitab paling sahih setelah Alquran.
 
Ketaqwaan Imam Bukhari
 
Di sisi lain, ketaqwaan dan kesolehan Imam Bukhari juga tidak dapat dipersoalkan. Antaranya:
 
- Diceritakan oleh Abu Bakar bin Munir , “Saya mendengar Imam Bukhari berkata, ‘saya berharap bahwa ketika saya berjumpa Allah, saya tidak dihisab dalam keadaan menanggung dosa ghibah (mencela orang lain)’.”
 
-Abdullah bin Sa’id bin Ja’far berkata, “Saya mendengar para ulama di Basrah mengatakan, ‘tidak pernah 
kami jumpai di dunia ini orang seperti Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) dalam hal makrifah (keilmuan) dan kesolehan’.”
 
-Sulaim berkata, “Saya tidak pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri sejak 60 tahun ini, orang yang lebih dalam pemahamannya tentang ajaran Islam, lebih warak (takwa), dan lebih zuhud terhadap dunia daripada Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari).”
 
- Al-Firabri berkata, “Saya bermimpi melihat Nabi SAW dalam tidur saya, Baginda bertanya kepada saya: “Engkau hendak menuju ke mana?” Saya menjawab, “hendak menuju ke tempat Muhammad bin Ismail Al-Bukhari”. Nabi Muhammad pun  bersabda: “Sampaikan salamku kepadanya!”
 
Imam al-Bukhari menghembuskan nafas terakhir pada malam  Iedulfitri tahun 256 Hijrah ketika beliau berusia 62 tahun dan dikebumikan di Khartank, sebuah desa di Samarkand, Uzbekistan.
 
Sumber: utusan