Catatan Dari Jogokariyan; Membangun Umat Berbasis Masjid

Rihlah
Typography

TIBYAN.Id – Masjid Jogokariyan memang bukan sekadar masjid. Ia sebuah konsep jitu tentang membangun kesejahteraan rakyat berbasis masjid. Ya sejahtera duniawi dan ukhrowi tentunya. 

Saya beruntung bisa ziarah ke masjid ini di bulan Ramadhan ini. Ada takjil disediakan untuk ifthar bersama 3000 porsi makan berbuka. Ya, tiga ribu piring nasi lengkap lauk pauknya.

Sesaat tiba di Jalan Jogokariyan dan mendapatkan masjid yang telah kesohor ke seantero negeri, hati kecil saya berkata. “Oh ini, ya.” Bahkan anak anak saya yang belum tau popularitas masjid ini berkomentar ringan. “Jauh jauh, masjidnya kok biasa saja”.

Masjid Jogokariyan terletak di tengah-tengah kampung Jogokariyan, Mantrijeron, Yogyakarta. Jalannya tidak terlalu besar, halamannya juga terbatas. Namun kini, masjid ini sering menjadi rujukan bagi masjid-masjid lainnya. Salah satunya pernah dikunjungi parlemen Belanda.

Data Base Jamaah

Inilah satu satunya masjid yang melakukan sensus pada jamaahnya atau warga sekitarnya setahun sekali. Sensus ini mendata jamaah di sekitarnya. Bukan sekadar nama, alamat, pekerjaan, pendapatan dan pendidikannya. Tapi yang terpenting siapa saja dalam keluarga itu yang sholat dan yang belum sholat, siapa yang sudah sholat di masjid, yang sudah berzakat dan yang belum, yang sudah berkurban atau belum, yang sudah mengikuti kajian dan yang belum dan dari satu keluarga didata punya keahlian apa dan sudah bekerja dimana?

“Data base ini akan menjadi mapping dakwah yang dilaukan di masjid ini,” kata salah seorang pengurusnya. Menurutnya pada tahun ini bisa dipastikan muslim yang tinggal di empat RW lingkungan Jogokariyan ini sudah mengikuti kegiatan masjid secara seksama. Bahkan saat sholat subuh bisa dibilang jamaah sampai meluber, seperti jamaah sholat jumat saja.

Dari data sensus ini akan ketahuan bahwa dari sekitar 1040 KK atau sekitar 4100 penduduk di sekitar masjid ini telah dipastikan hampir semuanya sholat. Pada tahun 2010 ada 17 orang yang belum sholat, sedangkan pada tahun 2000 ada 127 orang yang tidak sholat. Ini menunjukkan sebuah prestasi dakwah yang dilakukan disini.

Masih cerita untuk memikat jamaah sholat subuh. Awalnya dicetak undangan (seperti undangan perkawinan). Persis seperti undangan pernikahan, namun di lembar sebelahnya diisi ayat ayat dan hadis hadis keutamaan sholat subuh berjamaah. Kini, setiap subuh, jamaah membludak. Tentunya sudah tidak pake undangan lagi.

Saldo nol

Keunikan lain, masjid ini tidak membangun saldo kas masjid. Semua infak harus tersalurkan. Infak itu ditunggu pahalanya tuk jadi amal sholih, bukan untuk disimpan di rekening Bank.

Selain itu, masjid ini tidak membuat amal usaha. Semua kebutuhan masjid akan dibelanjakan dari warung milik jamaah. Sehingga, jamaah mendapat berkah dari masjid, dan masjid tidak mematikan usaha jamaah.
Dengan saldo nol, berarti juga akan menyemangati jamaah untuk berinfak. Selain itu, tidak membuat iri jamaah yang tidak berpunya saat mendengar saldo di masjidnya begitu besar sementara dia mau berobat tidak punya dana.

Tahun 2005, masjid ini menggerakkan program jamaah mandiri. Program ini menghitung biaya kebutuhan masjid selama setahun. Kemudian dibagi 52 ditemukanlah kebutuhan sepekan. Dari angka itu dibagi kapasitas daya tampung, sehingga ketemu angka untuk satu space orang shalat. Buat yang berinfak sebesar itu, dia tergolong jamaah mandiri. Tapi lebih dari itu, dia tergolong jamaah yang mensubsidi. Dan bila kurang dari itu, dia tergolong jamaah yang disubsidi.

Cara ini cukup ampuh. Ternyata tidak ada jamaah rela menerima subsidi untuk setiap ruang ibadahnya. Dengan cara ini pula, semua orang punya kesadaran sendiri dalam berinfak. Buat yang tidak bisa berinfak atau jamaah yang kategori menerima subsidi, tidak apa apa. Bahkan pengurus mengharap doa dari semua jamaah agar bisa melayani dengan sebaik baiknya. Gerakan ini berhasil menaikkan pendapatan infak sampai 400 persen.

Fasilitas Gratis

Keunikan lain di masjid ini, tidak ada pungutan apa apa selain infak. Ada wifi, gratis. Sehingga banyak anak muda betah berlama lama di masjid ini, dan tentunya tetap ingat waktu sholat. Daripada di warnet, mereka main game lupa sholat.

Di halaman depan masjid, ada panggung. Dari backdrop yang masih terpasang, masjid ini baru saja menghelat kegiatan tabligh akbar. Beberapa nama seperti Amin Rais, Mahfud MD, Bachtiar Nasir, Fachri Hamzah dll terpampang jelas. Dekat stage itu ada meja tenis. Ini juga digemari anak anak untuk berolah raga. Olah raga di masjid pasti ingat waktu sholat.

Di depan masjid ada halaman kosong yang dijadiin halaman parkir. Juga tidak ada tarif parkirnya. Padahal ditunggui satpam yang tentunya digajih. Petugas pun tidak menangih atau meminta uang parker.

Namun di beberapa sudut masjid dan dekat dengan lokasi parkir ada kotak infak yang cukup besar. Di sini pengunjung bukan membayar parkir tapi berinfak. Dengan pendekatan ini pendapatan masjid jauh lebih besar. Pengunjung berinfak minimal Rp 10000 tapi pastinya banyak yang lebih dari itu.

Bahkan kotak infak ini dibuat besar besar dengan lubang masuknya besar juga. Sehingga kalau ada yang akan berinfak besar, misalnya beberapa juta, tetap bisa masuk.

Dan ini mungkin yang paling penting dijadikan catatan. Masjid ini bisa jadi satu satunya masjid yang sejak tahun 2005 telah mengikut sertakan jamaahnya pada program Universal Conference Insurance dimana seluruh Jamaah Masjid bisa berobat di Rumah Sakit atau klinik manapun secara Gratis dengan membawa Kartu Sehat Masjid Jogokariyan. Bahkan hal yang biasa dilakukan di masjid ini adalah memberi hibah Umrah bagi jamaah yang betul-betul rutin Jamaah Sholat Shubuh di Masjid Jogokariyan.

Masjid memang bukan sekadar bangunan tempat ibadah. Di masa Rasululloh masjid menjadi tempat mengelola Negara. Arinya selain tempat ibadah mahdhoh, masjid menjadi pusat untuk mensejahterakan jamaahnya. Andai semua masjid bisa dikeloa begini, setidaknya belajarlah ke Jogokariyan kalau ingin mensejahterakan masyarakat dari basis masjid. (Amin Idris)