H Rusmin, Cita-citanya Menjadi Seperti “Pentagon” Bagi Amerika

Wawancara
Typography

Siang itu, usai rapat dewan pendiri Yayasan Nurul Islam Islamic Centre KH Noer Alie, H Rusmin tidak langsung pulang. Masih ada beberapa menit dimanfaatkan untuk bincang-bincang di ruang kerja ketua Yayasan, Drs H Nurkamal SH. Bersama Drs H Dede Satibi, pria sepuh yang masih tampak energik ini terus mendiskusikan banyak hal tentang masa depan Islamic Centre KH Noer Alie ini. 

Pak Rusmin, begitu ia akran disapa, mendominasi perbincangan. Suaranya keras, lantang. Ia seakan memiliki dendam yang tinggi tentang perbaikan sosial di Kota Bekasi. Ia mengaku masih ingat betul pesan KH Noer Alie saat melontarkan ide mendirikan Islamic Centre saat itu. Kepada Abu Bagus, Pak Rusmin berbagi cerita seputar pendidirian Islamic Centre dan perjalanan masyarakat Bekasi dalam perjuangan.

Peran apa yang paling bapak ingat dari KH Noer Alie dalam kontek pendirian Islamic Centre ini?

Sudah sangat jelas, sangat gamblang. Kiyai bilang; “Di sini gudangnya ulama. Di sini tempat berkumpulnya orang-orang pinter. Karena itu, jadikan Islamic Centrer ini sebagai wadah para ulama dan orang berilmu ini untuk berkarya membangun masyarakat Bekasi yang lebih bermartabat.” Pesan itu terus teringat dan seakan menjadi amanat yang harus saya pikulnya meski terasa berat.

Bisa sedikit diceritakan pak sampai ada ide membangun Islamic Centre dari Kiyai Noer Alie kemudia di dukung sepenuhnya oleh para umaro dan masyarakat saat itu?

Di Pemda Bekasi (belum terpisah kabupaten dan kota-red) setiap bulan ada pengajian. Yang ikut para pejabat teras Kabupaten, mulai dari bupatinya sampai kepala-kepala bagian, pimpinan dan anggota dewan. Tentunya juga masyarakat, para pengusaha, ulama dan para cendikia. Dalam pengajian itulah Kiyai Noer Alie melontarkan ide, hendaknya ada sebuah pusat kegiatan keislaman, sebagai islamic centre di Bekasi ini. Disinilah tempat digodognya semua persoalan dan tantangan pembangunan masyarakat muslim, khususnya pembangunan masyarakat Bekasi.

Jadi bukan hanya untuk kepentingan ubudiyah mahdhoh?

Godok semua persoalan sosial keagamaan. Rumuskan. Matangkan konsepnya dan wujudkan dalam berbagai program. Yang menggodog, mematangkan dan merumuskan tentunya para orang-orang yang pintar itu, ya para ulama dan para ilmuan. Jadi memang ini semacam “pentagon” bagi Amerika.

Menurut bapak, apakah saat ini kapasitas Islamic Centre sudah memadai untuk menjadi seperti “pentagon” di Amerika itu?

Saya kira itu tujuannya, di sini kan sudah dikumpulkan para ilmuan dari berbagai disiplin ilmu, diberikan wadah untuk berkreasi. (Belum lama ini berdiri Bekasi Diaspora, wadah otonomi Yayasan Nurul Islam, sebagai wadah kaum cendikia alumni dari luar negeri, para profesional, pengusaha dsb yang memiliki niat mulia membangun masyarakat Bekasi). Diharapkan mereka bisa mengikuti perkembangan pertumbuhan masyarakat dan membangun antisipasi dari dampak negatif yang berkembang.

Antisipasi yang seperti apa yang dibutuhkan?

Tadi anda katakan, tantangan dakwah makin kompleks. Fasilitas kemaksiatan makin mudah dan murah. Ini kan harus dibentengi. Ini harus diberi proteksi dengan ilmu dan pengetahuan. Dakwah harus mendapat tempat yang seimbang agar bisa menjadi tameng bagi para pribadi muslim. Ini yang saya maksudkan antisipasi itu. Dan inilah tantangan bagi Islamic Centre kedepan.

Penduduk bekasi yang makin padat, problemanya makin kompleks, apa tanggapan bapak bila dikaitkan dengan tugas Islamic Centre?

Ya termasuk juga mengingatkan jangan sampai ada hal-hal buruk terjadi di tengah pertumbuhan penduduk Bekasi. Misalnya jangan sampai ada apartemen atau kos-kosan yang jadi tempat prostitusi. Ini secara politis memang tugas pemerintah, tapi sebagai bagian dari masyarakat, kita memberi masukan, solusi dan saran-saran yang konstruktif. Agar yang begitu itu jangan ada di Bekasi.

Kalau begitu Islamic Centre harus selalu lebih maju dibanding lingkungannya?

Ya. Itu bisa dimulai dari para pengurusnya. Kuncinya adalah satu, pengurusnya harus kompak, satu visi satu misi. Jangan sampai ada yang menyimpang dari khittah perjuangan. Kekompakan adalah modal utamanya. Setelah itu mau membaca dan mau belajar dari keadaan.

Menyatukan visi bukan hal mudah?

Ya dimulai dari para pemimpinnya. Untuk teknisnya gampang saja. Sering-sering aja baca buku panduan organisasinya. Disitu sudah jelas apa visinya apa misinya. Baca dan ikuti saja sesuai petunjuk dari buku pedoman itu. Dengan cara itu, semua cita-cita Islamic Centre akan terwujud dengan mudah. 

DALAM BUKU Visi Misi Islamic Centre, Rusmin menulis posisi strategis perjuangan rakyat Bekasi. Bekasi pada masa revolusi fisik (1945-1949) merupakan daerah perang. Siang dikuasai pasukan penjajah malamnya dikuasai tentara republik. Banyak pahlawan yang gugur di berbagai zona pertempuran di Bekasi. Berbagai peristiwa sejarah pada masa itu ditulis oleh Chairil Anwar di dalam bukunga “Deru Campur Debu”. Sebuah sajaknya dengan jelas Chairil Anwar menorehkan kisah itu dalam “Antara Karawang Bekasi, tulang tulang berserakan.” 

Diantara mereka hanya beberapa yang dimakamkan di makam pahlawan Bulak Kapal. Yang lain ada yang dimakamkan oleh keluarganya ada juga yang dimakamkan secara biasa biasa saja karena statusnya sebagai mayat tidak dikenal. Rangkaian peristiwa masa perjuangan itu dibuatkan sebuah monumen sejarah berupa bambu runcing di daerah Bulak Kapal oleh Bupati H Abdul Fattah (1974-1983).

Momentum kedua, pada 17 Januari 1950, tak kurang dari 2.500 rakyat Bekasi bersama para ulama, pejuang, tokoh, para pemuda, berkumpul menggelar rapat akbar di alun alun Bekasi. Ada dua pernyataan politik yang mereka sampaikan saat itu. Pertama, menyatakan menyerahkan kekuasaan pemerintah federal kepada pemerintah Republik Indonesia. Kedua, menuntut agar kewedanaan Bekasi dinaikkan statusnya menjadi kabupaten Bekasi, keluar dari Mister Cornelis, Jatinegara. Tuntutan itu dikabulkan. Maka, 15 Agustus 1950, terbentuklah secara resmi Kabupaten Bekasi. Peristiwa ini diabadikan dalam sebuah monumen dalam bentuk tugu yang dibangun di depan Makodim Bekasi.

Fase ketiga adalah fase pembanguna kualitas manusianya. Ini berbentuk kerjasma harmonis antara ulama dan umaro. Gagasan kiyai Noer Alie yang visioner dan menjawab problema pembangunan manusia di abad modern bersambut baik. Masyarakat Bekasi membutuhkan sebuah pusat pemikiran dan pengkajian masalah. Dari ide itu, para umaro pun mendukungnya menjadi sebuah Islamic Centre yang kini menjadi Islamic Centre KH Noer Alie. 

Sebagai Islamic Centre pertama di Bekasi sudah bisa dirasakan manfaatnya. Banyak daerah melakukan study banding, mereka belajar tentang pengelolaannya yang optimal sesuai kebutuhan masyarakat. Ini adalah monumen bersejarah bagi tahapan pembangunan Bekasi. Karenanya bukan hanya perlu dilestarikan, tapi terus dikembangkan agar bisa memberi manfaat yang lebih optimal bagi peradaban manusia, khususnya manusia Bekasi. (Abu Bagus)