Paray Said; Santa Clara Masih menyimpan Benih Konflik Susulan

Wawancara
Typography

TIBYAN -- Sabtu siang (29/4), ada yang sangat mengganggu pikiran Paray Said. Ketua Islamic Centre KH Noer Alie yang juga sebagai Ketua Baznas Kota Bekasi ini mengaku “risau” melihat kondisi sosial masyarakat Kota Bekasi saat ini. Dalam sebuah Diskusi Redaksi Tibyan.id, Paray Said menyoroti banyak soal ekses pembangunan Gereja Santra Clara ini.

Penolakan masyarakat atas dibangunnya Gereja Santa Clara, yang kemudian menimbulkan gesekan social, diperkirakan hanya padam sesaat. Berbagai pemicu protes masih tampak kuat bersemi di masyarakat. Aksi demontrasi yang berimbas jatuhnya korban luka pada 24 Maret atau aksi sebelumnya yakni pada November 2016, berujung jatuh korban dan diperiksa beberapa tokoh pemuda. Bahkan ada yang ditahan di Polda Metro Jaya.


Di sisi lain ada juga situasi yang mulai menggeliat seiring dengan akan berlangsungnya pemilihan kepala daerah Kota Bekasi pada 2018. Saat ini, beberapa nama calon sudah mulai muncul. Konsekwensinya, akan menimbulkan polarisasi di tengah masyarakat. Setiap calon akan membentuk jaringan dan pengikutnya sendiri.


Dalam konteks itulah, Tibyan berbincang santai dengan Paray Said. Dengan gayanya yang “medok” sebagai putra Bekasi, Paray pun tampil menjadi pimpinan yang cair. Tema tema serius dilontarkannya dalam pernyataan yang kadang terkesan lucu. Satu hal yang ingin dijaga Paray Said, yakni situasi harmony masyarakat Bekasi bisa tetap terjalin.

Tanya; Apa indikasinya kalau suhu politik itu dianggap memanas? Bukankah rakyat Bekasi saat ini enjoy enjoy saja dengan keberhasilan pembangunan yang ada.


Jawab ; Siapa bilang enjoy enjoy aja. Lu liat imbas dari bentrok aksi demonstrasi Gereja Santa Clara. Ini masih meninggalkan luka. Luka yang dibiarkan akan menjadi bara api yang bisa saja memantik api yang membakar. Elit masyarakat harus mampu membaca ini sebagai sesuatu yang tidak boleh dibiarkan saja.


Lalu?


Iya. Pemimpin, tokoh masyarakat, tokoh agama, tidak bisa membiarkan ini terpendam. Harus ada inisiasi dari para elit untuk melakukan rekonsiliasi. Setiap masalah jangan dipendam. Tapi dibedah dan ditemukan solusinya. Saat ini, luka dari aksi Santa Clara masih membutuhkan solusi.


Sebagai tokoh masyarakat yang pernah lama di birokrasi dan di partai politik, apa solusi yang menurut Anda pas untuk ini?

Lah. Jangan Tanya gua. Pertanyaan ini selayaknya dilontarkan kepada para steakholder Kota Bekasi. Ada walikota, partai politik, tokoh masyarakat muslim, tokoh masyarakat katolik, kepala kepolisian dan sebagainya. Mereka kita tanyakan, apakah merasa ada kecenderungan yang membahayakan apa tidak? Belum tentu apa yang saya rasakan mereka juga merasakan? Analisa saya sama apa tidak dengan pendangan mereka?

Usul Anda?

Secara pribadi saya melihat perlunya rekonsiliasi. Setidaknya Walikota selaku pimpinan daerah Bekasi bisa berinisiatif untuk menggagas ini. Mempertemukan tokoh tokoh lintas agama, khususnya tokoh umat Islam Kota Bekasi dengan tokoh umat Katolik kota Bekasi. Setidaknya pemkot bisa lebih terbuka lagi dan membuka informasi seluas luasnya kepada masyarakat. Karena saya melihat dibalik itu masih ada potensi konflik susulan. Tema pun tidak perlu berbasabasi terlalu jauh, langsung bicara searah tentang Pembangunan Gereja Santa Clara.


Intinya, perlu ada kompromi kompromi di kalangan tokoh masyarakat dengan pemerintah dah pemimpin Gereja?

Saat ini masyarakat muslim menilai pembangunan gereja ada manipulasi. Misalnya ada anggapan pemalsuan tandatangan rekomendasi. Di sisi lain walikota merasa telah meyakini proses perizinan telah sesuai dengan prosedur. Di sini ada gap. Gak mungkin Bang Pepen bisa sesumbar meski harus ditembak kepalanya tidak akan dia cabut perizinan itu. Sementara masyarakat menganggap tandatangan warga itu adalah manipulasi. Jadi gak ketemu lah.

Masalahnya, selain itu ada kekecewaan umat Islam saat ini terhadap Walikota H Ramhat Efendy. Misalnya dalam peristiwa ceramah Dr Zakir Naik, walikota sempat disambut teriakan massal yang tidak menyenangkan. Bahkan rencana kepergian Walikota ke Vatikan makin memperkuat kesimpulan masyarakat bahwa Bang Pepen saat ini semakin menjauh dari kenyataan yang ada di masyarakat.


Iya saya dengar juga begitu. Tapi tentang kepergiannya ke Vatikan, memang Bang Pepen mendapat undangan dari Kedutaan Besar RI yang ada di sana. Tapi pandangan masyarakat seringkali tidak memerlukan detailnya. Karena itu secara pribadi saya pernah menyampaikan agar kepergian ke Vatikan dibatalkan saja. Sebagai sahabat, saya pernah meminta untuk tidak memenuhi undangan itu. Karena bisa makin menjauhkannya dari masyarakat Islam Bekasi.


Tadi Anda mengaku risau dengan kemungkinan munculnya gesekan social. Memang seberapa besar sih kemungkinan adanya gesekan itu?

Saya bukan sedang takut sama memedi yang tidak jelas. Saya ini sudah lama berjibaku dalam urusan politik dan social kemasyarakatan. Rumusnya sederhana. Jangan pernah mau ambil risiko. Karenanya cegah sebelum terjadi. Antisipasi sedini mungkin. Itu pendekatannya. Kepentingannya adalah jangan sampai terjadi adanya gesekan di tengah masyarakat, sekecil apapun hal itu pasti merugikan.

Semua ini tentunya akan mempengaruhi elektabilitas Rahmat Efendi yang akan mencalonkan kembali menjadi Walikota Bekasi

Ah. Saya tidak punya kepentingan dengan elektabilitas. Concern saya adalah bagaimana menjelang pilkada ini masyarakat kota Bekasi tidak terjerembab ke dalam pertentangan yang merugikan. Ini yang perlu dikawal dan dibentengi. Karena bagi kami, siapapun walikota Bekasi, pasti dia orang yang diterima di tengah masyarakat. Ddan untuk kepentingan rekonsiliasi tokoh umat beragama ini saya yakin untuk bisa memfasilitasinya bersama masyarakat.(*)