Siti Nur Hidayah; Kejahatan Seksual Anak Sudah Lampu Merah

Wawancara
Typography

TIBYAN.Id – Kekerasan terhadap anak makin menghawatirkan. Dari sisi kuantitas jumlahnya terus bertambah, dari sisi kualitas juga kadar kejahatannya makin tinggi dan usia pelakunya makin muda. Semestinya ada langkah langkah strategis untuk melindungi anak anak Indonesia dari kejahatan yang makin membahayakan masa depan bangsa ini.

Siti Nur Hidayah, psikolog Universitas Islam 45 menyebut tindak kekerasan terhadap anak sudah lampu merah. Juga kejahatan anak semakin banyak jumlahnya dan semakin tinggi kualitas kejahatannya. Dalam perbincangan dengan Tibyan.Id, konsultan psikologi pada Islamic Preschool Center ini memetakan dahsyatnya kriminalitas anak itu.

Tibyan.id; Memang seberapa gawatnya kekerasan seksual pada anak saat ini, khususnya di Bekasi?

Siti Nur Hidayah; Wah bisa dibilang sudah lampu merah. Bayangkan saat ini, di Kota Bekasi sudah 32 kasus kekerasan pelecehan seksual pada anak yang dilaporkan ke Polisi. Padahal tahun 2017 baru setengahnya. Kalau yang melapor sebanyak itu, yang tidak melapor ke polisi jauh lebih banyak lagi tentunya.

Tibyan.id; Karena mereka merasa itu sebagai aib. Atau bisa juga cukup melapor ke Komisi Perlindungan Anak, ke psikolog atau ke LSM. Dari banyak kasus yang ibu temukan apa yang paling dirasakan sangat mengerikan?

Siti Nur Hidayah: Ada persepsi yang masih keliru di tengah masyarakat. Seorang anak yang diperkosa tidak mau melapor ke polisi karena merasa memalukan keluarga, aibnya terbuka dan jadi konsumsi public. Ini jelas keliru. Sehingga banyak kejadian begini tidak terungkap dan tidak bisa diberikan pembelaan pada si korban.

Tibyan,id: Ibu punya pengalaman yang paling berkesan, yang paling traumatic tentunya?

Siti Nur Hidayah; Banyak Sekali. Sejak bertahun tahun saya memang mendalami hal ini. Dari sekian banyak kasus, saya masih merasa amat terpukul pada kasus yang terjadi di Kayuringin tahun 2015 silam. Seorang anak usia 12 tahun diperkosa paman ibunya. Dalam ancaman peristiwa bejad itu terjadi beberapa kali. Duka ini tidak sampai disitu. Keluarga semua kemudian memusuhi ibunya yang dipersalahkan tidak bisa mengurus anak. Sampai akhirnya terusir dari rumahnya. Maka dalam penderitaannya, anak itu pun kehilangan kasih sayang ibunya. Kasus kasus pemerkosaan seperti ini banyak terjadi di mana mana. Di dalam rumahnya atau juga di luar rumah. Lingkungan kita semakin tidak aman memang.

Tibyan.id; Pemerkosaan di dalam rumah yang ibu maksud?

Siti Nur Hidayah: Ya itu tadi, ada orang tua memerkosa anaknya sendiri. Ada guru lesnya yang diundang ke rumah atau tukang yang bekerja di rumahnya. Bisa siapa saja. Sedangkan yang di luar rumah jelas sekali mereka menculiknya.

Tibyan.id; Kasus lain, misalnya anak usia SD sudah mulai pacaran?

Siti Nur Hidayah; Bukan hanya usia SD lagi. Ada anak TK sudah berhubungan intim dengan anak SD kelas satu. Kalau hanya pacaran dan ciuman, itu banyak lagi. Kita sudah dihadapkan pada realitas yang kita sendiri sulit menerimanya dengan akal sehat. Kekerasan lain, misalnya ada anak SMP kelas 1 membunuh kawannya. Banyak tindakan criminal berat pelakunya anak dibawah umur. Sekarang ini kekerasan yang dilakukan anak termuda pada anak usia 12 tahun.


Tibyan.id; Sedemikian mengerikannya. Apa masalah utamanya ?

Siti Nur Hidayah; Banyak factor tentunya. Yang utama adalah pola pengasuhan. Saat ini pola pengasuhan kita semakin jauh meninggalkan dunia anak anak. Orang tua sama sama sibuk dan meninggalkan anaknya sepi dari perhatian orang tua. Pulang sekolah tidak didapati orang tuanya di rumah. Keduanya sama sama ada di tempat kerja. Akibatnya anak mencari kesibukannya sendiri. Ini yang paling utama. Membiarkan anak tanpa pengasuhan orang tua.

Tibyan.id; Begitu komplek persoalannya. Ini menyangkut kehidupan keluarga dan tingkat pendidikan orang tua?

Siti Nur Hidayah; Kita coba sederhanakan masalahnya. Pola pengasuhan ini bisa dibangun kembali melalui kesadaran orang tuanya, khususnya ibunya. Bagaimana ibu ibu menyadari pentingnya pendampingan anak di luar sekolah. Sehingga, seorang anak tidak kehilangan pengasuhan saat kembali dari sekolah.

Tibyan.id; Berarti seorang ibu tidak boleh bekerja di luar rumah?

Siti Nur Hidayah; Banyak solusi yang bisa disodorkan. Kesibukan di luar untuk mencari nafkah, mana lebih penting dengan mengasuh anak agar tidak terjerembab dalam kenistaan? Kehancuran masa depan anak bisa jadi risikonya lebih besar daripada sekadar memperoleh beberapa rupiah dari pekerjaan seorang ibu. Ini hanya sebuah contoh. Tapi solusinya, saya yakin akan bisa ditemukan ketika soerang ibu menyadari pentingnya memberi pendampingan untuk anak anaknya.


Tibyan.id; Anda bicara pola pengasuhan anak? Ini kan sebetulnya complicated. Saat ini pasangan suami isteri suka atau tidak harus sama sama bekerja. Karena tuntutan kehidupan makin lama makin sulit dikejar oleh penghasilan. Bagaimana mungkin kemudian mereka diminta di rumah hanya mengasuh anak?

Siti Nur Hidayah; Memang tentunya penyelesaiannya tidak sepihak. Selain pendampingan untuk membangun kesadaran seorang ibu, pasti hal ini membutuhkan keterlibatan pemerintah. Bagaimana seorang walikota atau gubernur atau bahkan presiden melihat persoalan masa depan anak Indonesia ini sudah membutuhkan kebijakan yang lebih strategis lagi. Misalnya, apa yang disebut pendidikan wajib itu bukan dari SD tapi dari PAUD dan TK atau RA.

Tibyan.id; Ada yang perlu dierbaiki dari kebijakan ini?

Siti Nur Hidayah; Banyak. Pendidikan dini, yakni PAUD dan TK itu adalah bagian yang sangat mendasar. Ini disebut Golden Age. Apa yang mereka lihat, mereka dengar dan mereka rasakan akan dengan mudah mereka serap dan mereka tiru. Bagaimana kalau anak itu tinggal di daerah yang lingkungannya sering bicara jorok, sering memaki, mengumpat dsb, atau di daerah yang banyak anak anak terbiasa merokok, atau yang orang tuanya merokok di depan anak anaknya, atau misalnya setiap hari menyaksikan banyak orang ciuman dan pacaran di tv, bahkan anak menyaksikan gambar gambar porno dari internet yang sudah begitu mudah diakses anak.Ini kan pelajaran buruk yang sangat digemari anak. Ini semua membutuhkan regulasi yang menjadi benteng agar anak bisa selamat dari lingkungan serem seperti ini.

Tibyan.id; Bagaimana peran pengasuhan agama kepada anak, apa itu masih bisa jadi andalan?

Siti Nur Hidayah; Peran orang tua penting untuk menghindari kekerasan seksual. Dalam mengasuh anak sudah diberikan teladan rasul. Orang tua mengajarkan nilai-nilai Islam itu bersifat harus, seperti menutup aurat, selain itu sosialisasi kepada anak diberi pengertian tentang kedewasaan. Mengasuh anak yang baik dengan cara spiritual, keluarga memiliki semacam peraturan atau rutinitas yang harus dilakukan seperti solat berjamaah, mengajak ke masjid, juga mengaji, kebiasaan itu yang kini hilang. Ini sangat besar pengaruhnya.
Tibyan.id; Terhadap pelaku kekerasan atau perbuatan seksual anak dibawah umur, bagaimana ibu melihatnya?
Terkait pelaku yang masih di bawah umur memang perlu ada perlakuan khusus tentang hal itu. Itu kan sudah ada undang-undangnya, jangan perlakukan pelaku yang masih di bawah umur sama seperti pelaku kejahatan lainnya, harus ditangani dengan perlakuan berbeda. Tapi yang kurang dalam pola pengasuhan saat ini adalah kasih sayang dan pengetahuan tentang bagaimana mendampingi anak anak.


Tibyan.id; Sebagai seorang yang selalu bergelut dengan kasus kasus kekerasan terhadap anak dan pelecehan seksual, apa itu mempengaruhi hubungan ibu dengan anak anak ibu karena ibu juga kan memiliki anak anak, atau dengan suami?

Siti Nur Hidayah; Trauma itu pasti ada. Seorang professional juga manusia biasa. Apa yang saya temukan dalam dunia professi saya, terbawa menjadi protektif terhadap anak saya. Kadang juga terbawa menjadi sangat emosional dan menuntut pada suami. Namun, tidak selalu. Sesekali itu muncul dan segera saya menyadarinya.

Saya punya pengalaman. Suatu hari saya menangani kasus pemerkosaan. Sangat memilukan. Saat di rumah saya sudah saya tertidur sementara dua anak perempuan saya masih di masjid. Ketika yang satu pulang, saya langsung terbangun dan panic karena hanya kakanya yang pulang. Saya panic. Padahal adiknya justeru mampir beli jajanan.

Pernah juga saya marah sama suami karena anak saya telah pulang sekolah. Padahal semua itu hal biasa. Baru kemudian kami menyadari bahwa berbagai kasus di luar yang saya tangani seringkali mempengaruhi mentalitas saya. Ketika anak anak saya menyadari itu dan suami saya pun memahaminya, so far tidak masalah lagi. Bahkan kami sering mendiskusikannya bersama untuk hal hal yang bisa dijadikan I’tibar. (Abu Bagus)