Lebih dekat dengan Adnin Armas, Filsuf Pendidik Kalangan Muda

Wawasan
Typography

Penulis : Ismail Alam 

Nama Adnin Armas menjadi bahan pembicaraan beberapa hari terakhir. Sebagai ketua Yayasan Keadilan untuk Semua, ia sudah dua kali dipanggil Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) sebagai saksi dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), yakni pada Jum’at (10/2) dan Rabu (15/2) lalu.

Menurut polisi, terdapat indikasi pelanggaran ketika Adnin mengizinkan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) memakai rekening yayasannya, untuk menampung dana umat yang hendak menyumbang bagi penyelenggaraan Aksi Bela Islam 411 dan 212. Sampai tulisan ini dibuat, polisi tidak bisa membuktikan pelanggaran itu, apalagi soal keterlibatan Adnin di dalamnya.

Yayasan Keadilan untuk Semua didirikan Adnin untuk berkhidmat di tiga bidang, yakni bidang keagaamaan, pendidikan, dan kemanusiaan. Jauh sebelum terbentuk GNPF-MUI dan terselenggaranya Aksi Bela Islam, ia dan yayasannya banyak memberi bantuan untuk pengungsi Rohingya, korban gempa Pidie, dan korban serangan di Tolikara. Pria yang akrab disapa Ustadz Adnin ini bahkan menyuarakan pembelaan terhadap nasib pegungsi Rohingya ketika menjadi pembicara di Universitas Oxford, Inggris, tahun 2015 lalu.

Siapa sebenarnya Adnin Armas? Untuk mengenalnya lebih jauh, kita bisa memulai dari sebuah novel laris, Negeri 5 Menara, yang ditulis Ahmad Fuadi. Dalam novel itu, Fuadi menuliskan kenangan masa kecilnya (yang berarti, terinspirasi dari kisah nyata) di Pondok Modern Gontor. Di sana, ia bersahabat dengan beberapa santri yang datang dari penjuru Indonesia. Salah satu sahabatnya bernama Raja, anak Medan yang kutu buku dan selalu menjinjing kamus kemana-mana. Di kehidupan nyata, ialah Adnin Armas.

Budaya Ilmu

Adnin berdarah Aceh, namun lahir di Medan tahun 1972. Pendidikan di Gontor yang menanamkan akhlak dan adab membuatnya amat menjunjung tinggi budaya ilmu. Setelah selesai menempuh pendidikan di Gontor, ia melanjutkan kuliah strata 1 dalam bidang filsafat di International Islamic University of Malaysia, Kuala Lumpur. Kepada penulis, beberapa waktu lalu, ia menceritakan kebiasaannya ketika itu. “Saya menulis makalah filsafat, mulai dari Imam Al-Ghazali sampai Edmund Husserl, dengan berupaya merujuk langsung ke sumber utamanya,” ujarnya. Saat di luar kelas, sambungnya, ia bergaul dengan mahasiswa di jenjang yang lebih tinggi, bahkan dengan dosen-dosen.

Usai meraih gelar sarjana, Adnin melanjutkan pendidikan strata 2 di Institute of Islamic Thought and Civilizations (ISTAC), sebuah kampus dengan bangunan dan perpustakaan megah yang didirikan dan dipimpin langsung oleh filsuf muslim terbesar hari ini, Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Ia juga menikahi Irma Draviyanti, yang dikenalnya di kampus IIUM. Irma adalah mahasiswi di jurusan ilmu ekonomi. Mereka menikah di Cipanas, 15 Februari 1997. Cipanas adalah kampung nenek Irma. Dengan dukungan istrinya, ia menyelesaikan S2 dengan judul tesis “Fakhruddin ar-Razi on Time”, sebuah ulasan filsafat waktu dari seorang ulama filsuf-kalam.

Selama berkuliah, Adnin harus memenuhi tuntutan akademis sekaligus rumah tangga. Untuk urusan akademis, ia harus menguasai bahasa asing selain Arab dan Inggris, seperti Yunani kuno dan Latin. Hal ini karena bagi Naquib Al-Attas, mempelajari pemikiran Barat dan Islam secara sungguh-sungguh akan jauh lebih baik bila menguasai langsung karya-karya utama pemikir mereka, yang ditulis dengan bahasa aslinya. Selain itu, pendidikan di ISTAC juga mengharuskan Adnin -dan mahasiswa lain- mempelajari mata kuliah seperti the worldview of Islam, logika formal, sampai posmodernisme. Naquib Al-Attas mendatangkan profesor-profesor berbagai bidang untuk mengajar mata kuliah itu, kecuali the worldview of Islam yang diampu langsung oleh Naquib Al-Attas.

Dalam sebuAh diskusi santai dengan penulis, Adnin menunjukkan lembar nilai mata kuliahnya, dan hampir semua bernilai “A”.

Untuk menunjang kebutuhan rumah tangga, Adnin dan istrinya berdagang martabak sampai baju koko. Kepada penulis, Irma bercerita bahwa ia membuat martabak mini di rumah lalu dibawa suaminya untuk dititipkan ke kantin kampus. Setiap Jum’at, keduanya mendatangi masjid-masjid di Kuala Lumpur untuk menawarkan baju koko kepada jama’ah. Selain itu, baju koko juga dijual di pasar yang becek. Baju koko tersebut bermerek “Armas”, yang diperoleh Adnin dari keluarganya di Medan. Sampai saat ini, usaha tersebut masih berjalan, bahkan mereka bisa mengekspor baju koko itu ke Malaysia.

Kegiatan berdagang itu tidak membuat Adnin kehabisan waktu untuk belajar. Menurut Irma, suaminya selalu membawa buku untuk dibaca di mana pun, termasuk di pasar saat keduanya berdagang. Hasil bacaan tersebut kerap diolah menjadi karya tulis yang masuk ke jurnal dan media lain.

Hal ini pula yang membuatnya terbiasa berdiskusi tentang pemikiran Islam, isu-isu umat terkini, atau buku tertentu dengan rekan-rekannya, terutama sesama mahasiswa Indonesia yang juga berkuliah di ISTAC seperti Hamid Fahmi Zarkasyi, Syamsuddin Arif, Adian Husaini, Nirwan Syafrin, dan Ugi Suharto. Dari sana tercetuslah pendirian Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), sebuah lembaga yang mewarnai wacana keislaman di Indonesia sampai sekarang.

Selain dengan teman kuliahnya, Adnin juga terlibat dalam diskusi surat elektronik (yang dulu disebut milis) dengan pihak lain, termasuk kalangan muslim liberal. Hasil diskusi yang terekam sudah diterbitkannya menjadi sebuah buku berjudul Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal. Di buku itu, ia terlibat polemik dengan Denny JA, Luthfie Assyaukanie, Ulil Abshar Abdalla, Rumadi dkk. tentang tema-tema penting seperti otentisitas Al-Qur’an dan sekularisasi.

Buku lain yang diterbitkan Adnin adalah Metodologi Bibel dalam Studi Al-Qur’an. Jika buku yang disebut pertama adalah rekaman polemik, buku Metodologi Bibel ini adalah buku utuh hasil penelitian mandirinya. Buku-buku teolog Kristen dan orientalis dibacanya untuk menunjukkan bahwa penerapan tradisi biblikal dalam mengkaji Al-Qur’an, seperti pendekatan hermeneutika yang menisbikan makna wahyu, adalah keliru. Syamsuddin Arif -kini direktur INSISTS menggantikan Adnin- saat menjabat sebagai dosen di IIUM, pernah menyebut bahwa buku Adnin itu menjadi bacaan wajib di jurusan studi Islam sebuah universitas di Malaysia.

Membina Yang Muda

Saat pulang ke Indonesia, Adnin mengamalkan ilmunya dengan berbagai peran di INSISTS (sebagai peneliti, direktur eksekutif, dan kini peneliti senior), Majalah GONTOR (sebagai pemimpin redaksi), Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), dan lain-lain. Di INSISTS, ia menerbitkan jurnal pemikiran Islam “ISLAMIA”, sebuah jurnal yang mengkaji kaitan warisan pemikiran dan peradaban Islam dengan persoalan kontemporer.

Di sini pula terselenggara kelas-kelas terbatas yang mengajarkan pemikiran Islam. Pada 2007, ia mengampu workshop “Islamic Worldview” dengan peserta penggiat dakwah di Jakarta, Depok, dan wilayah lain. Bersama rekan-rekannya, ia menyelenggarakan workshop sejenis di kampus, pesantren, dan lembaga lain di Indonesia. Memasuki tahun 2013, ia mengadakan Kuliah Filsafat Syed Muhammad Naquib Al-Attas, yang biasa disingkat KFA, dan Kuliah Filsafat Alam Fakhruddin Ar-Razi. KFA berlangsung sampai 3 angkatan dan Kuliah Filsafat Alam sampai 2 angkatan. Peserta yang hadir rata-rata lebih muda darinya.

Meski murid-muridnya lebih muda, Adnin tidak sungkan bercengkerama dengan mereka, dalam obrolan di kesempatan apa saja. Isi obrolan itu adalah hal-hal “berat” seperti filsafat dan pemikiran Islam, namun mengalir dalam suasana santai. Ia juga tidak pernah menolak jika ada muridnya yang meminta pendapat, arahan dalam menulis, bahkan meminjam buku-bukunya. Rumahnya selalu sedia menyambut tamu yang ingin belajar dan berdiskusi. Kegiatan tersebut seringkali baru terhenti saat Adnin atau muridnya sadar bahwa malam sudah larut, bahkan nyaris pagi.

Generasi yang lebih muda lagi, yakni yang masih menempuh pendidikan dasar dan menengah, tidak lepas dari perhatian Adnin. Bersama Majalah Gontor, ia sejak tahun 2011 menyelenggarakan Olimpiade Studi Islam dan Matematika Fakhruddin ar-Razi Competition. Acara tahunan itu melibatkan anak-anak muslim dari sekolah se-Indonesia. Untuk menjaga mutu, ia senantiasa memantaunya sampai usai, bahkan ia sendiri yang membuat soal-soal olimpiade itu dengan merujuk pada buku-buku standar olimpiade matematika mancanegara.

Dalam sebuah video di kanal Youtuberesmi olimpiade itu, Adnin menyampaikan tujuannya, yakni “…menghasilkan generasi muslim intelektual, yang memahami ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah sebagaimana para ulama terdahulu, demi kejayaan kembali peradaban Islam.”

Kini polisi menyeret Adnin dalam kasus dugaan TPPU. Meski masih berstatus sebagai saksi, ia dan yayasan kecilnya amat yakin bahwa tidak ada pelaku pidana yang memasukkan uang haram ke rekening itu, sebagaimana tertera dalam pasal TPPU. Setelah kasus ini berlalu, ia akan melanjutkan kegiatan dakwahnya, termasuk menyemai budaya ilmu bagi sebanyak mungkin anak muda di negeri ini.***