Dr Adnin Armas MA: Dunia sedang menuju kehancuran

Wawasan
Typography

Akhir tahun silam, Islamic Cntre KH Noer Alie mengundang Dr. Adnin Armas MA dalam sebuah diskusi akhir tahun. Ratusan peserta yang hadir terhipnotis oleh pandangan keagamaannya yang brilian. Berikut catatan Islamiccentrebekasi.or.id dari forum itu

Munculnya modernism dan rasionalisme pada sekitar abad 17 dan 18. Cirinya, ukuran kebenaran itu adalah akal. Pengetahuan berkembang. Agama Katolik atau Protestan atau Yahudi tidak mampu memberi jawaban terhadap berbagai tantangan di dunia modern itu. Berarti agama pun kalah. Yang menang adalah modernisme. Maka agama dipinggirkan. Itulah sekularisasi alias meminggirkan agama. Agama tidak laku lagi dalam kehidupan. Padahal sebelumnya, di jaman pertengaha, agama begitu berkuasa. Tapi dunia modern menjadi antitesa, yang dominan adalah lepas dari agama. 

Sekarang ini masyarakat di dunia Islam sedang mengalami apa yang terjadi di Barat ratusan tahun silam. Contoh One Direction, 1,8 juta tiket habis. Dangdutan di TV orang berjubel sampai tengah malam. Tapi pengajian sepi. Kegiatan membaca quran semakin jauh. Kajian kajian keislaman pun tidak lagi semarak.  

Yang terjadi di Indonesia saat ini juga hamper sama. Ada upaya memarginalkan agama. Bahkan menjauhkannya dan membuangnya dari kehidupan. Ukurannya sederhana, bisa dilihat dari budaya masyakatnya. Ada Islam di tempat ceramah, saat masuk masjid, ketika pengajian. Tapi lepas dari situ hilang ruh keislamannya. Masuk mall Islamnya hilang. Agama sedang dalam proses terpinggirkan. 

Waktu di Barat ketika agama dipinggirkan karena memang agamanya keliru. Itu memang pengalaman sejarah. Wajar dipinggirkan. Kalau tidak dipinggirkan, maka banyak pembunuhan, perampokan dan sebagainya. Makanya mereka menyebut fase itu sebagai zaman kegelapan menuju pada kehancuran. 

Mereka sendiri  yang menyimpulkan sebagai masa kegelapan ketika agama berkuasa. Tapi kalau umat islam sebaliknya. Dengan meminggirkan Islam yang terjadi adalah kehancuran. Sekarang umat manusia menuju kehancuran. Kemajuan ekonomi di dunia berdampak pada kehancuran. Di dunia Islam ketika agama dipinggirkan akan menjurus pada kehancuran. Peradaban manusia sedang menuju pada kehancuran.

Suatu bangsa akan mengalami banyak masalah ketika pemikiran Islam makin dijauhkan. Akibatnya orang yang belajar di lembaga pendidikan formal orang itu bisa jadi rusak. Pasalnya, apapun yang dipelajari cenderung membuang Tuhan. Orang  belajar cenderung menjadi atheis. Belajar apapun, termasuk belajar agama. Belajar politik, ekonomi, budaya, tidak lagi mengaitkan Tuhan. Bahkan ketika mereka belajar Islam pun kerusakan pun terjadi. Pasalnya mereka membuat Tuhan dalam pemikirannya.

Pada sebuah Jurnal Fakultas Syariah, jurnalnya mengatakan bahwa hanya orang primitif yang mengatakan homoseksual itu salah. Ini bukti nyata, mereka belajar agama tapi endingnya menjadi rusak. Mereka membela lesbianisme. Orientasi seksual menurut mereka tidak masalah. Apa salahnya sih jadi gigolo, pelacur dan sejenisnya? 

Ini masalah besar. Pendidikan itu menjadi alat untuk merusak pikiran. Meski di universitas Islam sekalipun kerusakan pemikiran itu terjadi. Snouk Hurgrounje sudah ada sejak lama sebagai contohnya. Bahkan ia bisa menjadi dosen. Kini, kondisi rusaknya sudah parah. Karenanya harus ada alternatif. Karena tanpa kisa sadari, bisa jadi kita atau keturunan kita sudah ada di lingkaran yang rusak itu. Dulu ayahnya seorang tokoh agama yang disegani, belum tentu kemariin anaknya tidak rusak. 

Bentengi Akidah

Apa solusinya? Harus ada yang membentengi akidah Islam. Pasalnya,  di sekolah sekolah, di universitas universitas,  bahkan dari sekolah-sekolah Islam, hasilnya adalah kehancuran. Dalam undang-undang, banyak pasal-pasal yang mendapat legitimasi ke dalam sistem pendidikan, undang undang negara. Dan itu berbahaya. Karena pemikirannya dibuat terbalik balik.

Contoh. Seorang Ibu yang menyusui anak dianggap hina. Jadi mereka memilih membotoli. Perempuan yang tinggi derajatnya adalag wanita karir sementara ibu rumah tangga dianggap biasa saja dan kalah. Itu semua adalah fenomena barat.

Islam itu menempatkan ibu sebagai pendidik utama. Keluarga adalah  benteng dasar perbaikan umat. Namun apa yang diintrodusir ke dalam masyarakat saat ini adalah mengecilkan peran keluarga dan mengganti peran ibu menjadi ibu yang tenggelam memburu karir di luar rumah.

Untuk itulah pentingnya merekonstruksi kembali budaya yang ada dan mengembalikannya pada budaya dan nilai nilai Islam. Karena apa yang dialami di dunia barat, justeru senaliknya dengan dunia Islam. Kalau mereka harus meninggalkan agamanya untuk bisa membangun peradaban yang maju, sebaliknya masyarakat muslim akan hancur jika menjauh dan meninggalkan agamanya. /(Abu Bagus)