Teknologi Nano Pecahkan Misteri Nabi Ibrahim AS

Wawasan
Typography

"Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim" (QS. Al Anbiyaa' : 69)

Alkisah,  saking murkanya kepada  Ibrahim  yang tak mau mengaku telah menghancurkan        patung patung  berhala Tuhan mereka, Raja Namrud  memerintahkan para  punggawanya  membakar hidup hidup  pemuda Ibrahim.  Namun yang terjadi kemudian,   Raja Namrud dan  seluruh rakyatnya yang menyaksikan  terkesima. Setelah api yang menyala nyala itu padam, Ibrahim  keluar dengan tenangnya seperti tidak terjadi apa apa.

Allah SWT menurunkan firmanNYA (QS. Al Anbiyaa' : 69) setelah mendengar doa  Ibrahim yang menolak tawaran Jibril: "Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung"

Dengan izin serta pertolongan Allah SWT, api yang sangat besar dan panas yang sedang membakar tubuh Ibrahim itu tidak mampu membinasakannya. Api tersebut  bahkan menjadi dingin dan menyelamatkan Nabi Ibrahim AS.

Dinginnya api yang menyala-nyala itu menjadi rahasia Allah, yang tidak terpecahkan oleh umat manusia.  At Tarisy dalam Tafsir  Majma'ul Bayan menguraikan kejadian tersebut menjadi 3 kemungkinan. Pertama,  Allah mengganti panasnya api menjadi dingin.  Kedua, Allah   membuat dinding antara api dengan Ibrahim sehingga tidak terasa panasnya. Ketiga, karena dingin  yang  membeku  pun  bisa  menyakiti  Ibrahim, maka Allah melengkapi perintahnya kepada api untuk  menjadi dingin agar tetap  menyelamatkan  Nabi Ibrahim.

Al Wahidi menyampaikan berita dari Anas Bin Malik, bahwa malaikat Jibril yang diutus oleh Allah menyelubungi Ibrahim dengan jubah dari syurga. Sedang Sayyid Qutub dalam tafsir Dzilalil Quran mengatakan bahwa hal itu adalah mukjizat Allah SWT secara khusus dan tidak usah dipertanyakan mengenai api yang bisa menjadi dingin, sebab tidak ada penjelasan dalam Alquran dan akal manusia tidak akan menjangkaunya. (Novrizal dkk: Fenomena Fenomena Fisika Dalam Islam, 2009).

Sampai berabad abad kemudian setelah Alquran diturunkan,  dinginnya api yang menyala-nyala itu tetap menjadi misteri. Padahal, seperti kita ketahui hingga saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang mengalami kemajuan sangat pesat. Sebut, misalnya, teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Segala hal yang tadinya mustahil, kini menjadi kenyataan. Perkembangan TIK  kini semakin me-relatifkan jarak dan waktu bagi kehidupan manusia.

Kenikmatan Kemajuan Iptek 

‘’Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam menjadi agamamu.” 

Kutipan bagian dari ayat tiga surat Al-Maidah  di atas jelas jelas merupakan suatu petunjuk betapa besarnya kenikmatan yang dikaruniakan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW. Salah satu kenikmatan itu – selain agama Islam itu sendiri -- adalah  kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang  telah memberikan kemudahan-kemudahan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia, sekaligus merupakan sarana bagi kesempurnaan manusia sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi.  Allah telah mengaruniakan anugerah kenikmatan kepada manusia yang bersifat saling melengkapi yaitu anugerah agama dan kenikmatan sains teknologi. 

Dasar-dasar filosofis untuk  mengembangkan Iptek  itu sebenarnya bisa dikaji dan digali dalam Alquran, sebab kitab suci ini banyak mengupas keterangan-keterangan mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi.  Perhatikan Al-Anbiya ayat 80: “Telah kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk  kamu gunakan memelihara diri dalam peperanganmu.” 

Firman ini memberi keterangan  sangat  jelas bahwa manusia dituntut  berbuat sesuatu melalui  sarana teknologi.  Firman ini bisa menjelaskan mengapa pada abad ke-7 M,  telah banyak lahir pemikir dan ilmuwan Islam yang tangguh, produktif dan inovatif dalam pengembangan Iptek, walau  sampai berabad abad , hingga kini,  kepeloporan Iptek itu diambil alih oleh bangsa Barat. 

Kalangan fisikawan Islam sendiri meyakini, di era modern sekarang ini  banyak hasil temuan ilmiah bidang fisika yang memperlihatkan bukti-bukti kebenaran Alquran.  Semakin banyak yang diketahui tentang teori  ilmiah bidang fisika yang ditemukan oleh ahli fisika dunia saat ini,  akan semakin banyak pula ayat-ayat Al-Qur’an tentang alam semesta yang dapat dipahami maksudnya (Letmi Dwiridal, dalam ‘’Deskripsi Gravitasi Alam Semesta, 2014 ‘’ ).

Dengan karunia akal, manusia sangatlah dianjurkan untuk mempelajari alam semesta. Perintah mempelajari alam semesta dan  berzikir  kepada Allah SWT, dapat dilihat dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran. Perintah tersebut dituliskan dengan nomor ayat yang berurutan. Manusia diperintahkan  untuk mempelajari langit dan bumi serta pergantian malam dan siang(Q.S.Ali-Imran:190), selanjutnya   dianjurkan untuk selalu  mengingat Allah SWT, baik sambil duduk, berdiri dan berbaring  (Q.S.Ali-Imran:191). 

Dimensi Fisika dan Semesta

Di dalam Alquran cukup banyak dijelaskan tentang dimensi fisika (benda, ruang, waktu dan dinamika alam ) bahkan ada yang dituliskan dengan nama surat. Nama-nama surat dan nomor surat itu,  antara lain:  Al-Syam (matahari) Q.S:91, Al-Layl (malam).Q.S:92, Al-Falaq (waktu subuh) Q.S:113, Al-Fajr (fajar) Q.S:89, Al-Isra (memperjalankan) Q.S:17, Al-Ma”rij (tempat-tempat naik) Q.S:70, Al-Dhuha (waktu pagi) Q.S:93, Al-Qamar (bulan), Al-Buruj (gugus bintang).Q.S:85, Al-Najm (bintang).Q.S:53, Al-Thariq (yang datang malam hari).Q.S:86, Al-Dhukhan (kabut).Q.S:44, Al-Waqiah (hari kiamat).Q.S:75, dan banyak lagi.

Nama nama surat di atas, hanya sebagian. Dan tentu saja sebagian kecil dari keseluruhan kandungan Alquran yang hingga kini masih sangat banyak yang belum terpecahkan oleh ilmu yang dimiliki manusia. 

Pembahasan fisika tentang keteraturan alam semesta  dapat diungkapkan melalui hukum-hukum empiris fisika. Hukum empiris fisika itu berusaha mengungkap fakta alam dengan menggambarkan keteraturan sistem  yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Makna zikir dalam membaca bacaan tauhid (zikrullah) bagi seorang fisikawan  seharusnya lebih mendalam artinya. Hal ini disebabkan karena disamping mengetahui bacaan zikir, juga mengetahui betapa Maha Kuasa dan Maha Agungnya Allah SWT dengan  keteraturan alam semesta yang diciptakanNya (Dwiridal, 2014).

Beberapa temuan ilmiah bidang fisika di abad modern ini, pada dasarnya  sudah diberitakan dalam Alquran jauh sebelum kesimpulan tersebut ditemukan para ahli fisika. Sebut contoh soal  benda benda langit, mulai matahari, bulan, dan bermilyar milyar galaksi.. Merujuk pada matahari dan bulan, ditegaskan bahwa masing masing bergerak pada garis edar tertentu (QS: 21:33). Fakta-fakta yang disampaikan dalam Alquran ini (sejak 14 abad lalu) telah ditemukan melalui pengamatan astronomis di zaman kita sekarang ini. 

Menurut perhitungan para ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya,semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana (Novrizal dkk)

Keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar seperti ini, dinyatakan dalam Alquran:"Demi langit yang mempunyai jalan-jalan." (Alquran, 51:7).

Bisa dipastikan, bawa pada  saat Alquran diturunkan, manusia belum memiliki teleskop  masa kini ataupun teknologi canggih untuk mengamati  ruang  angkasa berjarak jutaan atauy bahkan milyaran kilometer.

Jawaban Alquran dan Teknologi Nano

Semakin banyak yang diketahui tentang teori  ilmiah bidang fisika   dewasa ini, akan semakin banyak pula ayat-ayat Alquran  yang dapat dipahami maksudnya. Alquran adalah ayat ayat Allah yang diturunkanNya bagi umat manusia. Tak ada keraguan untuk itu. Kalaupun ada ayat-ayat yang masih belum dipahami manusia saat ini, hal itu semata  disebabkan  manusialah yang belum mampu menelaahnya karena keterbatasan kemampuan akal. 

Ilmu Allah  tak pantas dibandingkan dengan ilmu manusia. Ibarat seluruh air samudera disatukan, berbanding secercah bulir air di paruh burung camar. Pengibaratan ini pun hanya kalau kita terpaksa  harus membandingkan, demi membuat penjelasan masuk akal.

Surat Al Anbiyaa' : 69 yang kita kutip di awal tulisan ini, jelas menjadi tantangan bagi para ilmuwan untuk  bisa memecahkannya. Mengutip  Michel Talbot dalam buku ‘’Mysticism and The NewPhysics’’ Ferdy Novrizal dkk menjelaskan, api dan panas merupakan bentuk energi yang dampaknya dihasilkan akselerasi vibrasi molekul yang akseleratif. Menurut  teori  fisika  baru,  kesadaran  manusia  bisa  mempengaruhi  materi. Dan menurut fisikawan Jack Sarfatti, perilaku acak partikel-partikel dalam gerak brown dapat dipengarui oleh aktivitas manusia atas kemauannya sendiri.

Kesadaran dapat menghasilkan sebuah medan biogravitasi yang dapat berinteraksi dan mengubah medan  gravitasi  pengendali materi. Kesadaran inilah yang mengintervensi vibrasi molekul-molekul akselerasi dan menahan peroses nyala api yang normal.

Dewasa ini, terutama memasuki abad ke 21,  kalangan ilmuwan   sepakat, bahwa kemajuan teknologi di dunia masa datang ditopang  oleh tiga teknologi yang saling berhubungan dan saling mempercepat. Yaitu  teknologi informasi dan komunikasi,  rekayasa biologi (bio engineering) dan teknologi nano   (nano technology).

Khusus teknologi nano, menjadi fokus perhatian kalangan fisikawan dunia karena berbagai kemungkinan yang dilahirkannya dan diramalkan akan mengubah wajah peradaban manusia. Dengan menciptakan zat hingga berukuran satu per miliar meter (0,000000001 m) sifat dan fungsi zat tersebut bisa diubah sesuai dengan yang diinginkan. 

Konsep positional assembly dan self replication yang dianut teknologi nano membuka peluang munculnya rekayasa teknologi untuk membuat api yang menyala-nyala menjadi dingin. Dengan kata lain, teknologi nano bisa menarik panasnya api. 

Indikasi kearah tersebut sudah semakin nyata, dengan semakin banyaknya produk produk hasil teknologi nano yang tahan panas/ mengurangi panas yang dilempar oleh kalangan industri  ke pasar. Kelak kalau revolusi teknologi nano sudah mencapai puncaknya, kisah seperti yang dialami Nabi Ibrahim AS atau orang berjalan di atas bara api bukan lagi sesuatu yang aneh. Karena ketika itupun, manusia terbang di udara tanpa mengendarai pesawat  bukan sesuatu yang  mustahil. Sejauh mana kebenaran semuanya, wallahualam bissawab. (Ramly Amin/ dari berbagai sumber)