Mosi Integral Natsir, Selamatkan Indonesia dari Kehancuran

Kampus Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogjakarta menyematkan nama DR. H Mohammad Natsir sebagai salah satu nama gedungnya Fakultas Teknik.

Wawasan
Typography

TIBYAN-- Hari ini, 67 tahun silam,bangsa Indonesia menggoreskan sejarah besar dari seorang bernama DR. Mohammad Natsir. Kepiawaiannya sebagai wakil rakyat di parlemen telah menyelamatkan Indonesia dari perpecahan dan kehancuran.Peristiwa itu disebut sebagai peristiwa Mosi Integral Mohammad Natsir, dimana Bung Karno dan Mohammad Hatta mendeklarasikan Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dan hari ini peristiwa itu diperingati dengan mengenang kembali profile perjuangan Mohammad Nasir. Mosi Integral adalah sebuah keputusan parlemen mengenai kesatuan sebuah negara.Sedangkan Mosi Intergral Natsir merupakan sebuah hasil keputusan parlemen mengenai bersatunya kembalinya sistem pemerintahan Indonesia dalam sebuah kesatuan yang digagas oleh Mohammad Natsir.

Mosi ini tidak lahir begitu saja.Awalnya, terjadi perdebatan di Parlemen Sementara Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai titik kulminasi aspirasi masyarakat Indonesia yang kecewa terhadap hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung di Den Haag, Belanda, 23 Agustus - 2 November 1949.

Dalam pengajuannya ke parlemen banyak yang menolak. Pihak yang termasuk menolak hasil KMB adalah Natsir yang waktu itu Menteri Penerangan (Menpen) dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim.Natsir menolak jabatan Menpen dan memilih berkonsentrasi memimpin Fraksi Masyumi di DPR-RIS. Salah satu alasan Natsir menolak jabatan itu adalah karena ia tak setuju Irian Barat tak dimasukkan ke dalam RIS.

Dalam situasi tegang itu Perdana Menteri (PM) RIS Mohammad Hatta menugaskan Natsir dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX melakukan lobi untuk menyelesaikan berbagai krisis di daerah.Nasir dan Sultan HB IX berpengalaman dibidang ini. Kecakapan mereka berunding dengan para pemimpin fraksi di Parlemen RIS, seperti IJ Kasimo dari Fraksi Partai Katolik dan AM Tambunan dari Partai Kristen, telah mendorong Natsir ke satu kesimpulan, negara-negara bagian itu mau membubarkan diri untuk bersatu dengan Yogya—maksudnya RI—asal jangan disuruh bubar sendiri.

Lobi Natsir ke pimpinan fraksi di Parlemen Sementara RIS dan pendekatannya ke daerah-daerah lalu ia formulasikan dalam dua kata ”Mosi Integral” dan disampaikan ke Parlemen 3 April 1950. Mosi diterima baik oleh pemerintah dan PM Mohammad Hatta menegaskan akan menggunakan mosi integral sebagai pedoman dalam memecahkan persoalan.

Mohammad Natsir menyampaikan. Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belandamenghasilkan empat hal, yakni 1) Kerajaan Belanda dan Republik Indonesia Serikat setuju membentuk Uni yang longgar antara Negeri Belanda dan RIS dengan Ratu Belanda sebagai pimpinan simbolis; (2) Sukarno dan Mohammad Hatta akan menjabat Presiden dan Wakil Presiden, dan antara 1949-1950 Hatta akan merangkap menjadi Perdana Menteri RIS; (3) Belanda masih akan mempertahankan Irian Barat, sekarang Papua, dan tidak ikut dalam RIS sampai ada perundingan lebih lanjut; dan (4) Pemerintah RIS harus menanggung hutang pemerintah Hindia-Belanda sebesar 4,3 miliar Gulden.

Indonesia, minus Irian Barat.Hasil KMB ini menimbulkan kontroversi baik di kalangan pemimpin maupun rakyat Indonesia.H. Agus Salim dan M. Natsir termasuk yang menolak hasil KMB dan karena itu pula menolak masuk dalam Kabinet RIS.

Buntutnya, beberapa Negara bagian dalam RIS akan memisahkan diri. Diantaranya Malang mencetuskan resolusi untuk melepaskan diri dari Negara Jawa Timur dan menggabungkan diri dengan Negara Republik Indonesia di Yogyakarta.Pada 30 Januari tahun yang sama. DPRD Kabupaten Sukabumi di Negara Bagian Pasundan, juga mengeluarkan resolusi yang sama: keluar dari Negara Pasundan dan bergabung ke Negara RI.

Selain dua resolusi itu, di banyak daerah telah muncul suara-suara untuk bergabung dengan Negara RI. Malah di Negara Bagian Sumatera Timur, demonstrasi besar menolak RIS menyebabkan polisi harus bertindak menertibkan demo.

Ketua Fraksi Masyumi di Parlemen RIS, M. Natsir mengambil inisiatif.Ia bertukar pikiran dengan para ketua fraksi untuk mengetahui apa yang hidup di kalangan parlemen. Ia melakukan pembicaraan dengan pemimpin fraksi yang sangat kiri, Ir. Sakirman dari Partai Komunis Indonesia, dan yang sangat kanan dengan Tuan Sahetapy Engel.

Dari pembicaraan itu, Natsir menyimpulkan bahwa para pemimpin Negara Bagian menolak gagasan pembubaran Negara-negara Bagian itu.Sedangkan para pemimpin RI di Yogyakarta ingin kembali ke negara kesatuan sesuai Proklamasi 17 Agustus 1945.Kepada para pemimpin RI di Yogya, Natsir mengatakan bahwa kita punya program yakni program mempersatukan kembali Indonesia.

Dua cara mencapai tujuan itu: pertama, kita perangi semua negara bagian sampai mereka kalah dan kemudian kita menjadi satu. Kedua, kita tidak perlu berperang.Kita ajak mereka membubarkan diri dengan maksud untuk bersatu.“Kita, Negara RI di Yogya punya Dwitunggal Sukarno-Hatta.Negara Bagian lain, tidak,” kata Natsir.

Mengajukan Dwi Tunggal

“Dalam sejarah jangan kita lupakan faktor pribadi. Tidak akan ada yang bisa mengatakan ‘tidak’ kalau kita majukan Sukarno-Hatta untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI. Sedangkan kita, diam sajalah.Kalau diperlukan, ya, dipakai; dan kalau tidak, ya, tidak apa-apa. Pokoknya tidak ada satu pun dari negara-negara bagian itu yang akan menolak Sukarno-Hatta. Di sinilah fungsi Sukarno-Hatta untuk mempersatukan, untuk memproklamasikan, dan untuk mempersatukan kembali.” Kata Natsir.

Dengan pendekatan yang sangat arif itu, Mosi Integral Natsir diterima secara aklamasi oleh Parlemen RIS. Perdana Menteri Hatta menyambut baik Mosi Integral Natsir dan menegaskan akan menggunakan Mosi Integral Natsir sebagai pedoman dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi. Sebagai demikian Mosi Integral Natsir telah menjadi jalan paling elegan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pada 17 Agustus 1950, bersamaan dengan perayaan hari ulang tahun kelima Proklamasi Kemerdekaan, Presiden Sukarno mengumumkan lahirnya NKRI. Peristiwa ini yang kemudian dikomentari banyak ilmuan bahwa Indonesia memiliki dua proklamasi.Pertama, Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945; kedua, Proklamasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 17 Agustus 1950. Dua proklamasi itu proklamatornya sama: Sukarno dan Mohammad Hatta.

Jika pada proklamasi yang pertama, Sukarno-Hatta menyatakan dirinya atas nama bangsa Indonesia, maka pada proklamasi yang kedua, Sukarno adalah Presiden RIS, dan Hatta adalah Perdana Menteri RIS. Akan tetapi, menurut Noer, yang lebih penting adalah perbedaan makna dan sejarah dari kedua proklamasi itu sendiri.

Proklamasi 1945 adalah pernyataan bahwa penjajahan kolonial terhadap bangsa Indonesia telah berakhir dan bangsa ini menyatakan kemerdekaannya.Proklamasi 1950 adalah proklammasi berdirinya NKRI adalah pernyataan pembubaran 16 Negara Bagian yang tergabung dalam RIS, termasuk Negara Republik Indonesia Yogyakarta (yang diproklamasikan 17 Agustus 1945) dan meleburkan diri ke dalam sebuah negara baru bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Siapa saja yang jujur dalam membaca sejarah, pasti mengakui pemikiran jernih dan kerja cerdas Natsir yang telah berhasil memulihkan NKRI secara damai, tanpa satu peluru pun yang ditembakkan, tanpa setetes darah pun yang ditumpahkan, dan tanpa segolongan atau seorang pun yang dipermalukan.

67 Tahun Mosi Integral

Siapa DR Mohammad Natsir? Banyak cerita berkembang. Dari yang rasional biasa biasa saja sampai pada hal hal luar biasa. Salah satu yang luar biasa adalah bagaimana Mohammad Natsir bisa menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran ketika banyak Negara bagian yang ingin memisahkan diri.

Satu dari banyak kisah tentang Natsir juga pernah diceritakan George Mc Turnan Kahin Guru Besar Cornell University ini mengaku terkejut menyaksikan penampilan seorang menteri dengan jas berlubang dan kemeja bertambal.Dan menteri yang dimaksud adalah Mohammad Natsir.

Saat itu tahun 1946 di Yogyakarta, Kahin pertama kalinya bertemu Muhammad Natsir. Jabatannya mentereng: Menteri Penerangan Republik Indonesia, dengan penampilan yang jauh dari kata itu.

"Dia memakai kemeja bertambalan, sesuatu yang belum pernah saya lihat di antara para pegawai pemerintah mana pun," kata Kahin dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan.

Belakangan Kahin baru tahu ternyata sang menteri cuma punya baju dua helai. Anak buahnya di kantor kemudian urunan untuk membelikan sang pejabat itu kemeja yang layak.

Buat Natsir menjadi pejabat adalah pengabdian.Banyak yang lebih penting dari sekadar soal jas yang berlubang.Dia pernah menjadi Perdana Menteri Indonesia tahun 1950 di masa demokrasi Parlementer.Menjadi pejabat nomor satu di pemerintahan.

Natsir menolak pemberian mobil mewah dari koleganya. Dia juga menolak dana yang diberikan pemerintah sebagai modal pensiun. Dia pria bersih, santun dan terhormat. (*)