Memilih Teman Dalam Islam

Wawasan
Typography

Memilih Teman Dalam Islam

Teman, betapa pentingnya arti seorang teman dalam hidup kita. Memiliki teman yang baik adalah sebuah anugerah dan memiliki nilai tersendiri, karena kehadirannya akan membuat kita lebih semangat menjalani hidup. Sebaliknya bila kita memiliki teman yang buruk kehadirannya membuat hidup kita menjadi susah nanpayah. Islam sangat memperhatikan tentang arti seorang teman atau sahabat, karena ia memiliki peran yang sangat penting bagi menentukan baik dan buruknya seseorang.

Allah SWT berfirman :

Teman-teman akrab apada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa. (Q.S. Az-Zukhruf : 67).

Hadits ini menekankan bahwa pertemanan harus dilandasi dengan Taqwa, jika tidak ia akan menjadi musuh bagi kita.

Rasulullah SAW juga mengingatkan kita akan pentingnya memilih seorang teman, karena ia dapat mempengaruhi karakter dan kepribadian kita. Sabda beliau :“Seseorang itu mengikuti agama temannya, maka lihatlah, kepada siapa ia berteman”.

Rasulullah SAW juga menggambarkan sebuah kiasan tentang pengaruh seorang teman kepada.“Perumpamaan seorang teman yang baik adalah seperti seorang penjual atau pemilik minyak wangi , jika kamu tidak mendapatkan apa-apa, kamu akan mendapatkan harumnya.

Perumpamaan teman yang buruk seperti pandai besi, jika kamu tidak terkena ciprataan apinya kamu akan tersentuh dengan bau asapnya”.

Sebagai gambaran tentang sebuah persahabatan yang ideal mungkin kita bisa berkaca dari persahabatan Rasulullah SAW dengan sahabat Abu Bakar Shiddiq r.a.

Dalam sebuah riwayat, bahwa suatu hari Rasulullah SAW jatuh sakit, mendengar hal ini Abu Bakar Shiddiq r.a berlari menghampiri Rasulullah SAW secara langsung untuk mengecek kesehatan beliau.Ketika melihat Rasulullah SAW sedang sakit Abu Bakarpun terpengaruh hingga ini iapun jatuh sakit.

Beberapa hari kemudian, Rasulullah saw sembuh dari sakitnya, mendengar Abu Bakar juga kurang sehat, beliaupun pergi mengunjungi Abu Bakar. Ketika Rasulullah dating, salah seorang sahabat beliau berteriak, “Rasulullah datang mengunjungimu”.Abu Bakar yang sangat mencintai Rasululah meningalkan tempat tidurnya dan berlari menuju pintu dengan sangat antusias dan gembira, maka iapun akhirnya sembuh seketika, beliaupun menyambut Rasulullah SAW dipintu dan mengajaknya masuk kerumahnya.

Kisah ini menggambarkan bagaimana seorang sahabat sangat berpengaruh terhadap fisik dan kejiwaan atau perasaan seseorang.

Dalam persahabatan terjadi percampuran aspek positif dan negatif.Persahabatan terjadi karena bersatunya jiwa-jiwa yang tulus.Karakter ini juga ditemukan pada tingkat tertinggi pada pribadi manusia. Ketika dua jiwa memiliki perasaan yang sama, kecenderungan yang sama, prinsip yang sama, maka persahabatan akan terus bertahan. Persahabatan sejati adalah sebuah kecenderungan untuk saling memahami satu sama lain. Persahabatan adalah kebahagiaan dan kegembiraan yang muncul dari lubuk hati yang paling dalam, sebuah inspirasi dan anugerah dari Allah Yang Maha Kuasa.

Persahabatan yang menjaga manusia dari kesepian, kejenuhan, dan kekhawatiran adalah anugrah terindah yang Allah berikan. Setelah Adam dan Hawa turun kebumi dan mereka terpisah selama empat puluh tahun lamanya dalam dunia yang berbeda. Menemukan seorang sahabat seperti jiwa yang terpisah dan menemukan kembali separuh jiwanya

Rasulullah SAW bersabda : “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai.”

Hadis ini menjelaskan bahwa betapa dua orang yang saling menjalin persahabatan memiliki kecenderungan, pemikiran, perasaan yang saling menyatu satu sama lain. Dua orang yang bersatu dalam cinta kepada Allah dan Rasul-Nya , baik secara pemikiran, perasaan serta kepribadiannya, dipandang sebagai persahabatan sejati nan abadi.

Syeikh Jalaluddin Rumi mengatakan seseorang yang cintanya bersatu dengan Allah akan duduk disejajarkan dengan para kekasih Allah.

Dua orang yang saling menjalin persahabatn karena Allah akan mendapat kemulian yang tinggi disisi Allah. Rasulullah menyebutkan : “Orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku, mereka akan mendapatkan mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya dan senantiasa bergembira dengan para Nabi dan syuhada”.

Allah Ta’la juga mencintai orang yang mencintai orang lain semata-mata karena-Nya, dan alangkah beruntungnya orang yang disatukan oleh Allah dalam membina sebuah perjuangan di jalan-Nya.

Dalam sebuah Hadits Qudsi Allah SWT berfirman :

Kecintaanku wajib Aku berikan kepada orang yang saling mencintai di jalan-Ku, orang-orang yang berteman dijalan-Ku, orang-orang yang saling mengunjungi dijalan-Ku, dan orang-orang yang saling memberikan pengorbanan di jalan-Ku”. (HR. Malik, Al Misykah. Juz III, no. 5011).

Cinta kasih karena Allah adalah satu rukun dari pada rukun iman. Untuk itu Rasulullah SAW bersabda : “Ada tiga golongan orang yang bila ia berada didalamnya ia akan dapat merasakan manisnya iman, yaitu : orang yang lebih mencintai Allah dan rasul-Nya dari pada selain keduanya, orang yang mencintai seorang hamba yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, orang yang tidak senang apabila kembali lagi kepada kekufuran, sesudah Allah menyelamatkannya dari kekufuran, sebagaimana ia tidak senang apabila dimasukkan ke neraka (HR. Muttafaq Alaih).

Kepada Siapa Kita harus Berteman?

Ibnu Athaillah AS-Sakandari mengingatkan tentang kualitas seorang teman yang dapat dijadikan seorang sahabat dekat, diantaranya :

  1. Seorang yang perbuatannya dapat membangkitkanmu dari kelalaian dan kelengahan.
  2. Kata-katanya harus mengajak atau membawa kamu kepada Allah.
  3. Mereka yang dapat membangkitkan kesadaran kita. Hal tersebut hanya dapat dicapai oleh  seorang yang mensucikan dirinya dari nikmat duniawi dan kembali kepada Sang Pencipta. Orang tersebut berlindung kepda Allah untuk segala hal yang dii butuhkan. Dalam segala tindakan dia percayakan sepenuhnya kepada Allah. Apakah orang menghormatinya atau tidak, mereka semua sama. Tanpa harus mengada-ngada ataupun berlebih-lebihan, orang tersebut hanya menyerahkan sepenuhnya kepada Al-Qur’an maupun kepada Sunnah Nabi-Nya.

Sebagian ahli sufi mengatakan jika seseorang didalam berteman tidakberusaha meningkatkan nilai kulitas dirinya dan kebaikannya, dan tidak dapat mengurangi dosa-dosanya, maka berteman dengan orang seperti itu tidak akan ada gunanya. Maka carilah orang yang dapat membangkitkan kamu dengan perbuatannya, orang yang mengingatkan kamu kepada Allah saat kamu dalam kelemahandan kelalaian, dan orang yang menyadarkan kamu dari kebutaan.Jika kamu mencintaidunia maka dia akan menarikmu kepada sebuah kesadaran denganakhlak mereka, orang yang jika kamu melihat wajahnya, maka dia akan membawamu kepada taubat dan penyerahan diri".

Seorang teman adalah seorang pendukung, penolong dan penjaga. Seorang muslim memiliki tiga teman : Allah, RasulNya, dan orang beriman. Rasulullah SAW juga memiliki tiga teman : Allah, Jibril dan orang beriman.

Dihari akherat nanti, ada  orang-orang beriman,  dimana para Nabi dan Rasul dan para syuhada cemburu dengan mereka. Padahal mereka bukanlah kelompok para Nabi dan Rasul, tetapi mereka telah menggapai tingkat para Nabi dan Rasul dengan rahmat Allah.

Kelebihan mereka adalah walaupun mereka tidak memiliki hubungan kekerabatan, namun mereka saling mencintai karena Allah.Kelak di hari akherat nanti mereka akan dibangkitkan dalam mimbar-mimbar yang bercahaya. Wajah mereka  akan dipenuhi dengan cahaya. Mereka tidak akan merasa takut disaat seluruh makhluk merasa ketakutan dihari kiamat nanti.

Dikarenakan pentingnya peran seorang teman dalam membentuk sikap dan karakter, maka sebaiknya kita juga perlu tau kepada siapa kita tidak boleh berteman?

Seorang muslim tidak boleh berteman dengan mereka yang menolak Allah, berteman dengan orang munafik, orang yang kejam dan zalim, serta orang yang selalu melakukan tipu daya.

Seorang muslim tidak boleh berteman dengan musuh-musuh Allah dan Rasulnya, walaupun mereka adalah salah satu anggota keluarga, seperti ayah, ibu, anak, maupun saudara kandung.

Allah SWT juga memerintahkan kita untuk tidak berhenti berjuang melawan orang-orang munafik yang berusaha mengontrol dan menekan, serta berjuang melawan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya.

Namun kaum muslimin, boleh nampak berteman dengan musuh yang kuat untuk melindungi mereka sendiri.

Ada alasan mengapa orang-orang Yahudi mendapatkan murka Allah adalah karena banyak diantara mereka yang berteman dengan orang-orang yang mengingkari Allah.

Mengapa kita tidak boleh berteman dengan orang-orang kafir?

Allah SWT mengingatkan kita tentang bagaimana sikap mereka terhadap kita.Setiap kali mereka bertemu dengan kamu, mereka memperlakukanmu sebagai musuh, dan menyakitimu dengan tangan dan lidah mereka, mereka menginginkanmu untuk tidak beriman.(Mimi Jamilah Mahya)