Lalat, Serangga yang Menantang Manusia

Wawasan
Typography

Wahai manusia, telah dibuatkan suatu perumpanaan, maka dengarkanlah; Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah, tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walau mereka berkumpul bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Yang disembah (selain Allah) sama lemahnya dengan yang menyembah (QS Al Hajj: 73).

TIBYAN -- ADA  apa dengan lalat? Selain mengandung sindiran terhadap manusia yang menyembah berhala, ada apa dengan ayat tersebut yang secara langsung menyebutkan nama hewan yang sering dianggap menjijikkan itu?

Setelah  ayat di atas (QS Al Hajj: 73),  sebuah hadis Nabi Muhammad SAW juga menyebut langsung tentang hewan ini yang menyinggung tentang penyakit dan obatnya. Artinya terkait dengan kesehatan manusia. Ada rahasia apa di balik penyebutan khusus hewan  serangga yang menurut ilmu kedokteran mengandung penyakit dan membawa banyak virus ini?

Telah banyak diungkapkan para cerdik cendekia tentang kebesaran dan kemahaluasan ilmu Allah SWT yang tak dapat dijangkau oleh pikiran manusia. Perumpamaan yang cukup populer adalah,  apabila air seluruh samudera dijumlahkan lalu dibandingkan dengan secercah bulir air  yang tersisa di paruh burung camar.

Atau juga, apabila seluruh pohon yang ada di muka bumi dicabut dan dijadikan semacam alat tulis (pena), sementara seluruh air samudera tadi adalah tintanya, tetap tidak akan habis habis untuk menuliskan kemahaluasan ilmu Allah tersebut. Perumpamaan ini pun hanya karena terpaksa sekadar  membuat perbandingan untuk  bisa dicerna akal manusia. Karena sesungguhnya, Allah maha kuasa atas segala sesuatunya, dan ilmu Allah itu benar benar meliputi segala sesuatunya (At-Talaq, ayat 12).

Kemahaluasan ilmu Allah itulah yang membuat manusia menjadi  sangat kerdil, tidak berarti apa apa. Keterbatasan pengetahuan manusia, misalnya, tidak bisa mengira sebesar apa benda yang paling besar yang diciptakan Allah, dan sebaliknya, sekecil apa benda atau zat yang diciptakan NYA.

Ketika orang bicara tentang  matahari, bumi dan planet planet lainnya, ketika manusia bicara tentang galaksi, ternyata (ini pun masih sebatas perkiraan manusia) matahari dan system planet yang mengitarinya hanya ibarat setitik  noktah kecil di antara bermilyar milyar galaksi lain yang tak terkirakaN. Ketika  para ilmuwan mampu mendeteksi molekul molekul terkecil melalui ilmu pengetahuan yang dimiliki dan terus dikembangkan, misalnya, mampu mengidentifikasi atom sebagai benda terkecil,  di saat bersamaan,  manusia tetap tidak bisa memastikan dan menjawab pertanyaan, sekecil apakah benda  terkecil yang ada di alam semesta ciptaan Allah ini.                          Pertanyaan seputar benda terkecil ini, dapat kita hadapkan dengan pertanyaan pertama, tentang rahasia apa di balik ayat Allah serta hadist Nabi  terkait  seekor lalat.

Bak Pesawat Tempur

Banyak literature menyebutkan, memasuki abad ke 21  kalangan ilmuwan   sepakat bahwa kemajuan teknologi di  masa datang ditopang  oleh tiga teknologi yang saling berhubungan dan saling mempercepat. Yaitu  teknologi informasi dan komunikasi (ICT), rekayasa biologi (bio engineering) dan teknologi nano (nano technology).                      

Teknologi nano menjadi fokus perhatian kalangan fisikawan dunia karena berbagai kemungkinan yang dilahirkannya dan diramalkan akan mengubah wajah peradaban manusia. Teknologi ini bicara tentang  zat berukuran hingga satu per miliar meter (0,000000001 m), di mana sifat dan fungsi zat tersebut bisa diubah sesuai dengan yang diinginkan. Membandingkan satuan teknologi nano dengan seekor lalat, sungguh dapat diibaratkan  layaknya kita melihat seekor semut terkecil dan sebuah pesawat tempur raksasa serba modern

Seekor lalat diibaratkan sebuah pesawat tempur raksasa, yang secara kasat mata dapat dilihat dan diraba segala stuktur onderdil/komponen yang membentuknya. Mulai dari kaki, tubuh, kepala, mata, dan sayap yang bisa menerbangkan lalat bermanuver secara tak terduga.  Pertanyaannya kemudian, adakah kemungkinan dengan mempelajari anatomi tubuh seekor lalat para ilmuwan akan mampu menciptakan sebuah pesawat ultra ringan sebagaimana yang sering digambarkan melalui  permainan / game  maupun film film fiksi ilmiah?

Lalat adalah jenis serangga dari ordo diptera (berasal dari bahasa Yunani: di berati dua dan ptera berarti sayap). Perbedaan yang paling jelas antara lalat dan ordo serangga lainnya, sebagaimana dapat dikutip dari Wikipedia, adalah lalat memiliki sepasang sayap terbang dan sepasang halter, yang berasal dari sayap belakang pada metatoraks (kecuali beberapa spesies lalat yang tidak dapat terbang).

Seorang peneliti dari Institut Teknologi California (Caltech), Michael Dickinson, baru mampu memecahkan masalah seputar kemampuan seekor lalat melakukan manuver  setelah selama 20 tahun meneliti biokimia sayap lalat. Itu pun karena dia selalu penasaran terhadap pertanyaan yang sederhana dan sering dilontarkan banyak orang yang ditemuinya

 “Sekarang saya punya jawabannya,” ujar Dickinson yang melakukan penelitian bersama Esther M dan Abe M Zarem. Ia menemukan rahasia tersebut setelah merekam manuver sejumlah lalat yang terancam pukulan, dengan menggunakan kamera digital yang dapat merekam dengan kecepatan dan resolusi tinggi. Dalam penelitiannya, mereka menemukan bahwa lalat dapat mengenali ancaman berdasarkan lokasi. Otak lalat akan menghitung seberapa jauh ancaman terhadapnya sebelum memutuskan untuk mengepakkan sayap dan kabur.                                  Setelah memprediksi arah ancaman, kakinya bertumpu untuk terbang ke arah yang berlawanan. Semua persiapan meloloskan diri dapat dilakukannya dengan sangat cepat, hanya 100 milidetik setelah ia mendeteksi adanya bahaya. “Ini menunjukkan begitu cepatnya otak lalat memproses informasi sensorik menjadi respons gerakan yang sesuai,” ujar Dickinson sebagaimana dikutip anehdidunia.com.

Bahkan, lalat mengatur postur tubuhnya sesuai besar ancaman. Artinya,  menurut penelitian Dickinson, lalat telah mengintegrasikan dengan baik antara informasi visual dari mata dan informasi metasensorik di kakinya. Temuan ini memberikan petunjuk mengenai sistem saraf lalat dan menunjukkan bahwa di otaknya terdapat sistem pemetaan posisi ancaman.  “Ini sebuah transformasi rangsangan menjadi gerakan yang sedikit kompleks dan penelitian berikutnya mencari bagian otak yang mengaturnya,” ujarnya.

Penyakit dan Obatnya

Alquran adalah ayat ayat Allah yang diturunkanNya bagi umat manusia. Semakin banyak yang diketahui manusia tentang teori  ilmiah bidang fisika   dewasa ini, akan semakin banyak pula ayat-ayat Alquran  yang dapat dipahami maksudnya.  Pernyataan ini,  bisa juga dibalik. Semakin banyak ayat ayat Alquran yang bisa dipahami manusia, akan semakin banyak pula teori ilmiah yang diketahui manusia, yang tentunya tak sebatas bidang fisika.

Hadist Rasulullah SAW  adalah pedoman hidup  utama kaum muslimin setelah Alquran.  Terkait penyebutan  lalat di dalam Alquran, sebuah hadist Nabi juga menyebut kan; Apabila seekor lalat masuk ke dalam salah satu minuman dari kalian, maka celupkanlah ia (ke dalam minuman itu), kemudian angkat dan buanglah lalat itu, sebab pada salah satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya  ada obatnya (HR.Bukhari,Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah).

Dari  sisi kesehatan hadist ini mungkin akan mengundang kontroversi. Tapi hasil penelitian panjang para professor dan peneliti terkemuka dunia membuktikan kebenaran hadist itu. Dikutip dari makintau.com,  Prof. Dr. Abdul Majid Az-Zindani ketua peneliti kajian Al-Qur'an dan As-Sunnah mengatakan bahwa pada sayap kiri lalat terdapat berbagai macam virus yang mematikan. Para peneliti  berusaha mematikan virus-virus tersebut secara konvensional tapi tidak berhasil. Namun ketika mereka memasukkan sayap kanan lalat, secara otomatis mereka melihat perubahan secara signifikan.  Hasilnya, seluruh virus yang dibawa oleh sayap kiri mati dan musnah akibat obat yang dibawa oleh sayap kanan.                                                                                   

Beberapa professor menemukan adanya jasad renik istimewa pada tubuh lalat. Mikro organisme tersebut hidup dibawah lapisan zat minyak dalam perut lalat. Sementara peneliti dari Australia menemukan bukti bahwa pada sayap lalat terdapat gen refilin, yaitu gen yang bisa mengobati penyakit-penyakit yang ada pada syaraf arteri dan syaraf meina.                                                                                   

Gen refilin yang ada di sayap lalat dapat mengobati penyumbatan yang terjadi di kedua syaraf tersebut.  Dengan memasukkan lalat kedalam air maka gen-gen refilin yang ada di sayap itu akan tersebar di air hingga air itu bersih kembali dari penyakit yang ada di sayap kiri. Masya Allah. (ramly amin).