Polemik Zakat Fitrah; Boleh Dengan Uang ?

Wawasan
Typography

Oleh Dr. H Muhammad Aiz                                                                                                      Tinggal dalam hitungan hari, Ramadhan akan datang.Secara sosiologis terdapat perbedaan dalam menyikapi datangnya bulan Ramadhan. Namun demikian, ada kesamaan secara norma agama tentang sikap dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Rasulullah SAW telah memberikan arahan tentang keutamaan bulan Ramadhan ini. Diantara keutamaan bulan Ramadhan itu adalah ganjaran pahala yang berlipat ganda yang diberikan oleh Allah SWT bagi orang yang berbuat kebajikan. Selain adanya keutamaan yang begitu besar, di bulan Ramadhan juga terdapat kewajiban lainnya, yakni keharusan bagi setiap muslim, baik besar maupun kecil, untuk menunaikan zakat fitrah.

            Terkait dengan zakat fitrah maka ketentuan umum yang dipahami oleh masyarakat muslim di dunia, termasuk di Indonesia adalah adanya kewajiban menunaikan zakat fitrah di bulan Ramadhan dengan mengeluarkan makanan pokok, seperti beras untuk masyarakat muslim Indonesia. Namun demikian ada juga yang membolehkan menunaikan zakat fitrah dengan menggunakan uang. Berikut akan penulis paparkan penjelasan terkait hal tersebut dan persoalan tentang waktu menunaikan zakat fitrah, sebagaimana dijelaskan dalam kitab “Misbah al Zholam fi Syarh Bulug al-Maram” Jilid ke 2 karangan Syekh Muhadjirin Amsar Addary.

Zakat Fitrah Dengan Uang

            Dalam pandangan Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal serta mayoritas ulama tidak membolehkan menunaikan zakat fitrah menggunakan uang. Bahkan salah satu ulama dari mazhab Hambali, yakni Kharraqi menyatakan bahwa ketika ada seseorang yang menunaikan zakat fitrah menggunakan uang, maka zakat fitrahnya dianggap tidak sah. Pendapat  ini pun sejalan dengan pendapatnya Imam Nawawi yang menjelaskannya dalam kitab Syarh Muslim.

            Argumentasi mazhab-mazhab yang melarang membayar zakat fitrah menggunakan uang, adalah bahwasanya Nabi Muhammad SAW mewajibkan untuk membayar zakat fitrah dengan menggunakan kurma atau kacang. Kedua jenis itu merupakan makanan pokok masyarakat muslim di Mekkah maupun Madinah. Berdasarkan hadis tersebut maka menjadi tidak sah ketika ada seseorang yang membayar zakat fitrah tidak dengan makanan pokok, karena hal tersebut bertentangan dengan nash hadis. Praktik mengeluarkan zakat fitrah dengan makanan pokok juga dipraktikan oleh Muawiyah ketika menjadi khalifah.

            Namun demikian, Imam Abu Hanifah berpandangan berbeda dengan pendapat mazhab lainnya terkait dengan ketidakbolehan menunaikan zakat fitrah menggunakan uang. Menurutnya, membayar zakat fitrah menggunakan uang hukumnya boleh dan sah. Argumentasinya didasari atas riwayat dari Umar bin Abdul Aziz. Menurutnya, ketika itu Muadz bin Jabal menarik zakat fitrah dengan “‘arudh/‘urudh“ (sejenis benda berharga selain emas dan perak) sebagai ganti dari makanan pokok masyarakat Yaman ketika itu, yakni kacang-kacangan dan jagung.

Muadz bin Jabal berpandangan bahwa “arudh“ itu lebih memiliki kemanfaatan serta kemaslahatan yang lebih luas. Berdasarkan hal tersebut, ketika itu penduduk Madinah pun memilih untuk mengeluarkan zakat fitrah dengan “arudh“. Argumentasi lainnya adalah sebagaimana yang diriwakatkan oleh Atho‘ bahwa Khalifah Umar bin Khattab membayarkan zakat fitrahnya dengan uang dirham. Alasan utamanya adalah karena uang dirham lebih mampu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tidak mampu.

            Syekh Muhammad Muhadjirin Addary mengomentari perbedaan tersebut berdasarkan kenyataan serta praktik di masyarakat luas, bahwa ternyata di masa sekarang menunaikan zakat fitrah menggunakan uang dirasakan lebih memberikan manfaat bagi orang-orang ynag membutuhkan. Masyarakat di wilayah Hijaz serta Mekkah saat ini pun melakukan praktik zakat fitrah dengan uang. Kemanfaatan lain membayarkan zakat fitrah dengan uang, adanya kenyataan bahwa ketika zakat fitrah makanan pokok diserahkan kepada orang miskin, maka tidak jarang ditemui orang miskin tersebut menjual makanan pokok tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan harga di bawah harga pasaran. Hal ini tidak saja menghilangkan esensi pemenuhan kebutuhan, namun juga merugikan masyarakat miskin tersebut. Argumentasi inilah yang menjadi dasar bagi sebagian masyarakat muslim di dunia yang mulai berubah pandangan untuk membayarkan zakat fitrah dengan uang.

            Terlepas dari perbedaan pendapat antara membayarkan zakat fitrah dengan makanan pokok atau dengan uang, maka sesungguhnya dikembalikan lagi kepada keyakinan masyarakat tersebut serta disesuaikan dengan kebutuhannya. Tiada pendapat yang dapat diklaim sebagai pendapat yang paling benar, karena pada hakikatnya kebenaran adalah milik Allah SWT semata. Sebagaimana pendapat ulama yang menyatakan „“perbedaan pendapat di antara para ulama merupakan rahmat bagi ummat“.

Waktu Membayarkan Zakat Fitrah.  

            Hukum membayar zakat fitrah adalah wajib sebagaimana disepakati oleh seluruh mazhab dalam Islam. Akan tetapi terdapat perbedaan pendapat terkait kapan waktu mulai diperbolehkannnya mengeluarkan zakat fitrah tersebut. Mayoritas ulama menyatakan bahwa zakat fitrah itu menjadi wajib dibayarkan ketika menjelang waktu pelaksanaan sholat ied. Namun, dalam praktiknya di masa sekarang dapat dikatakan mustahil apabila masyarakat muslim baru membayarkan zakat fitrahnya sesaat sebelum pelaksanaan sholat ied. Hal ini disebabkan semakin banyaknya jumkah masyarakat muslim jika dibandingkan dengan saat Nabi Muhammad SAW hidup. Berdasarkan hal tersebut, maka ulama berbeda pandangan dengan kapan waktu yang diperbolehkan untuk menmbayarkan zakat fitrah. 

            Menurut Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal waktu wajibnya menunaikan zakat fitrah adalah ketika terbenamnya matahari di hari terakhir bulan Ramadhan hingga menjelang pelaksanaan sholat ied. Pendapat ini menunjukan bahwa sebelum tibanya hari terakhir di bulan Ramadhan maka sesungguhnya hukum membayarkan zakat fitrah itu adalah sunnah. Dalam konteks waktu sunnah inilah terdapat perbedaan diantara para ulama dalam menyikapi sejak kapan diperbolehkan membayarkan zakat fitrah.

            Menurut Imam Syafi’i diperbolehkan membayarkan zakat fitrah sejak awal bulan Ramadhan. Adapun pendapat ulama mazhab Hambali menyatakan kesunnahan membayarkan zakat fitrah itu hanya boleh 1 atau 2 hari sebelum berakhirnya bulan Ramadhan. Hal ini menunjukan perbedaan dengan pendapat mazhab Syafi’i yang justru membolehkan sejak awal bulan Ramadhan. Pendapat yang sangat berbeda justru disampaikan oleh ulama mazhab Hanafi. Mereka berpendapat bahwa zakat fitrah itu telah dapat dibayarkan sejak awal tahun hijriyah. Pemahamannya adalah zakat fitrah dapat dibayarkan sejak bulan Muharram di tahun yang bersangkutan. Mazhab ini beranggapan bahwa zakat fitrah itu tidak berbeda dengan zakat harta pada umumnya yang diperbolehkan untuk mempercepat mengeluarkan zakatnya.

            Perbedaan tentang waktu bolehnya membayarkan zakat fitrah tersebut menjadi “entry point” (pintu masuk) bagi Pemerintah maupun lembaga-lembaga pengelola zakat, seperti Baznas, untuk dapat mensosialisasikan pemungutan zakat fitrah sebelum bulan Ramadhan ketika upaya untuk mengoptimalisasikan zakat fitrah terkendala dengan masalah waktu yang bersamaan dengan libur kegiatan sekolah. Adanya pendapat seperti yang dinyatakan oleh para ulama mazhab Hanafi setidaknya memberikan gambaran kepada kita semua, bahwa para ulama pendiri mazhab-mazhab tersebut telah memiliki pandangan jauh ke depan sehingga umat Islam di masa sekarang hanya tinggal menikmati buah ijtihad mereka. Oleh karenanya “kesombongan“ sebagian masyarakat muslim yang menyatakan tidak perlu bermazhab adalah kekeliruan. Karena sesungguhnya disadari atau tidak disadari kita semua telah bermazhab. Wallahua’lam bi al-showab. (Penulis Wakil Ketua Baznas Kota Bekasi)