Dari Aspek Linguistik Saja Mustahil Alquran Itu Ciptaan Manusia

Wawasan
Typography

TIBYAN.id – Anda masih meragukan Alquran? Atau menganggap Alquran itu bukan wahyu, tapi hanya buatan Muhammad SAW, atau karangan manusia? Sejak masa Rasulullah pun sikap penolakan terhadap Alquran sudah ada. Tapi sejauh itu mereka yang menganggap Alquran itu hanya karangan nabi Muhammad selalu terbantahkan.

Allah pernah menantang orang orang yang menganggap Alquran itu karangan Muhammad semata. Firman Allah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (al-Isrâ’/17:88)
Dan ketika tantangan ini tidak bersambut, tapi orang-orang kafir itu tetap berkeras kepala menuduh Nabi Muhammad lah yang membuatnya sendiri, maka Allâh Azza wa Jalla menurunkan ayat-Nya dengan tantangan yang lebih rendah dari sebelumnya. Yaitu tantangan untuk membuat 10 surat saja seperti Alquran.
Mereka tetap bergosip dengan mengatakan bahwaMuhammad lah yang telah membuat-buat Alquran. Katakanlah, “Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allâh, jika kamu memang orang-orang yang benar”. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu, maka ketahuilah, sesungguhnya Alquran itu diturunkan dengan ilmu Allâh, dan bahwasanya tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? (Hûd/11: 13-14)
Masih tentang kehebatan Alquran, Prof. Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal di Republika.co.id menulis tentang Alquran. Mantan sekjek Kementerian Agama ini memulai tulisannya dengan mengutip Profesor Linguistik Paris University Roger Berque yang menyimpulkan di dalam bukunya Relere de Laqoran bahwa mustahil Alquran ciptaan manusia biasa.
Kemukjizatan dari aspek linguistik Alquran dapat dilihat dari pilihan kata (mufradat), susunan dan struktur (uslub), gaya penyampaian (balagah), paduan kata majemuk, kata berlawanan, pengaturan pemberhentian (waqf), dan keteraturan keindahan bacaan (tajwid) yang dipadu dengan sajak-sajak yang beraturan.

Lafaz-lafaz Alquran juga selalu dipadu dengan struktur bunyi huruf-hurufnya, sehingga melahirkan irama simetris, seperti nudzur dan damma yang berurutan terasa berat, tetapi ternyata mudah dilantunkan. Bagi orang yang memahami ilmu bahasa Arab, pasti akan terkagum-kagum dengan keindahan bahasa Alquran.

Komposisi keseimbangan kata sebagaimana diungkapkan Prof Quraish Shihab dalam Membumikan Alquran sungguh teratur dan seimbang. Misalnya, penggunaan kata-kata yang berlawanan (antonim) diungkapkan secara seimbang, seperti kata al-syita' (musim dingin) dan al-shaif (musim panas) terungkap masing-masing sekali, al-hayat (kehidupan) dan al-maut (kematian) masing-masing 145 kali, al-harr (panas) dan al-bard (dingin) masing-masing empat kali, al-kufr (kekafiran) dan al-iman (keimanan) masing-masing 17 kali.

Lalu, dalam bentuk nakirah; kufr dan iman masing-masing delapan kali, al-naf' (manfaat) dan al-mudharrah (mudarat) masing-masing 50 kali, al-shalihat (kebaikan) dan al-sayyi'at (keburukan) masing-masing 167 kali, al-thuma'ninan (ketenangan) dan al-dhiq (kekesalan) masing-masing 13 kali, serta al-rahbah (cemas) dan al-ragbah (harap) masing-masing delapan kali.

Keseimbangan yang sama juga terjadi pada kata-kata yang sinonim dilihat dari makna kata yang dikandungnya. Contohnya, al-harts dan al-zira'ah (membajak/bertani) masing-masing 14 kali, al-'ushb dan al-dhurur (angkuh) masing-masing 27 kali, al-dhallun dan al-maut (sesat/mati) masing-masing 17 kali, Alquran, Al-Wahyu, dan al-Islam masing-masing 70 kali, al-'aql dan al-nur (akal/cahaya) masing-masing 49 kali, dan al-jahr dan al-'alaniyah (nyata) masing-masing 16 kali.

Demikian pula terjadi keseimbangan jumlah di dalam kata yang menunjuk pada akibatnya. Misalnya, al-infaq (infak) dan al-ridha (kerelaan) masing-masing terulang 73 kali, al-bukhl (kekikiran) dan al-hasarah (penyesalan) masing-masing 12 kali, al-kafirun (orang-orang kafir) dan al-nar (neraka/pembakaran) masing-masing sebanyak 154 kali. Ada juga kata-kata al-zakah (penyucian) dan al-barakat (kebajikan yang banyak) masing-masing 32 kali, serta al-fahisyah (kekejian) dan al-ghadab (murka) masing-masing 26 kali.

Hal yang sama juga terjadi dalam jumlah pemakaian kata dengan penyebabnya. Seperti, kata al-israf (pemborosan) dan al-sur'ah (ketergesa-gesaan) masing-masing 23 kali, al-mau'idhah (nasihat) dan al-lisan (lidah) masing-masing 25 kali, al-asra (tawanan) dan al-harb (perang), serta al-salam (kedamaian) dan al-thayyibat (kebajikan) masing-masing sebanyak 60 kali.

Keajaiban lainnya, ada pada kata yaum (hari) dalam bentuk mufrad sebanyak 365 kali, sesuai dengan jumlah hari dalam setahun. Sedangkan, kata ayyam (hari-hari) dalam bentuk jamak atau yaumain (dua hari) dalam bentuk mutsanna, jumlah pemakaian secara keseluruhan sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam sebulan.

Di sisi lain, kata syahr (bulan) hanya terdapat 12 kali, sejumlah dengan bulan dalam setahun. Penggunaan huruf juga terdapat konsistennsi di dalam Alquran. Misalnya, penggunaan huruf pembuka surah, seperti min pembuka surah Alquran terulang sebanyak 113 kali. Bila jumlah ini dibagi 19, sesuai jumlah huruf dalam basmalah, maka akan habis.

Subhanallah, tidak ada kitab manapun yang dapat disetarakan dengan Alquran. Itu baru dari sisi uslub bahasa Arab, belum dari segi struktur huruf dan keajaiban makna dan pilihan penggunaan kosakatanya yang sungguh menakjubkan. (Abu Bagus/Republika.co.id)